
Alvi mengekori Alana masuk ke rumah, ikut ke dapur saat gadis itu berjalan ke dapur sebelum ke kamarnya.
"Bi, buatin Aa makan siang ya!"perintah Alana setelahnya pergi begitu saja.
Pembantu rumah tangga yang di kirim bunda Anin hanya menggangguk patuh.
"Mau makan apa tuan?" tanya bi Ratih
"Terserah," sahut Alvi dari kejauhan.
Alvi mengusap wajahnya kasar, niat hati ingin melepas rindu dan menghabiskan waktu bersama sebelum kembali ke London, Alana malah ngambek hanya karena perkara kecil. Ia menunggu Alana keluar dari kamar mandi, mendekati gadis itu saat berdiri di depan cermin. Memeluk tubuh mungil yang selalu menjadi candu baginya.
"Maafin Aa kalau kelewatan tadi," bisik Alvi. "Aa cuma nggak suka kamu dekat sama cowok lain, itu aja sayang," bujuknya menatap wajah Alana di pantulan cermin, gadis itu menunduk.
"Aa kapan pulang?" lirih Alana.
__ADS_1
"Aa nggak bakal pulang sebelum kamu maafin Aa," jawab Alvi semakin mengeratkan pelukannya, tidak ada penolakan tetapi Alana juga tidak membalas pelukannya.
"Aku maafin Aa, sekarang Aa boleh pergi," cicit Alana secara tidak langsung mengusir Alvi.
Pelukan Alvi melonggar, laki-laki itu menarik tubuh Alana agar menghadapanya. "Kamu ngusir Aa?
"Iya," jawab Alana lantang ada sedikit emosi dalam nada bicaranya, kecewa akan Alvi yang tidak mempercayainya, padahal ia sudah berusaha semaksimal mungkin menjaga diri dan tetap positif thingking pada Alvi yang jauh darinya, tak ingin menanyakan hal-hal sensitif agar hubungan mereka tetap terjaga.
Hening, tak ada yang bersuara, Alvi menatap Alana begitu dalam, setelahnya beralih pada meja lalu membereskan laptop juga beberapa berkas yang sengaja ia bawa untuk bekerja dari jauh, agar bisa lebih lama bersama sang istri. Tapi apalah daya ia malah di usir.
Baru akan membuka pintu, suara Alana kembali terdengar.
Alvi menarik nafas dalam-lama lalu menghembuskannya secara perlahan, mengepalkan tangannya demi menurunkan emosi yang mulai terpancing akibat sikap Alana. Ia memperhatikan Arloji di pengelangan tanganya, dan baru menyadari kenapa Alana bersikap seperti ini.
"Maaf, Aa nggak bisa ngertiin kamu. Aa tadi cemburu liat kamu sama cowok lain sayang, Aa nggak mau kamu dekat dengan siapapun kecuali Aa, Kamu cuma milik Aa." Memeluk tubuh bergetar Alana.
__ADS_1
"Aku memang cuma milik Aa, jadi jangan tuduh aku apa lagi bertanya seolah-olah aku berbohong, aku takut hal-hal positif yang berusaha aku tanamankan dalam pikiran aku malah berubah jadi negatif Aa. Aku takut Aa akan seperti ayah dulu," lirih Alana menangis dalam pelukan Alvi.
"Ayah kenapa sayang?"
"Aku dengar dulu ayah selalu menuduh bunda selingkuh, selalu curgi apa-apa yang bunda lakukan jika pergi tanpa ayah. Tenyata ayah bersikap seperti itu karena dia melakukan hal yang sama dengan wanita lain. Jadi jangan tuduh aku Aa, karena aku akan berfikir sebaliknya."
Lama Alvi membujuk Alana hingga gadis itu benar-banar memaafkannya.
Hari terus berjalan, tak terasa Alvi sudah berada di Boston selama tiga hari. Hari ini jadwal keberangkatan Alvi Ke Londong menemui kakek Farhan. Seperti biasa, air mata sang istri selalu mengantar kepergiannya.
"Jangan diri baik-baik ya, jangan lupa makan teratur, kunci pintu rapat-rapat, jangan menerima tamu yang nggak di kenal."
Alana menggangguk lalu mencium punggung tangan Alvi, gadis itu tidak mengantar sampai bandara karena Alvi tidak mengizinkannya, dengan alasan udara di luar sangat dingin.
"Dah Aa sayang,"
__ADS_1
***
Jangan lupa Vote mumpung hari senin ya akak.