Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 159


__ADS_3

Besok adalah keberangkatan Alana ke Boston, hari ini Alvi membantu gadisnya mengemas pakaian apa yang akan di bawa gadis itu. Karena di sana sekarang musim Dingin, Alvi lebih banyak memilihkan sang istri jaket tebal bulu. Imun Alana sangat lemah, kena air dikit aja di musim dingin akan fllu dan sakit kepala.


Sementara pemilik barang hanya duduk memerhatikan, tak ada niatan membantu dan hanya menjawab apa-apa saja pertanyaan Alvi. Jika dulu Alana sangat bersemangat kuliah di sana, sekarang beda lagi. Tak ada semangat sedikitpun untuknya berangkat besok, karena harus berpisah dengan Alvi.


"Aa yang itu juga!" perintah Alana.


Alvi mengiyakan dan mengambil pakaian yang di tunjuk sang istri.


"Ini kan?" tanya Alvi.


"iya," sahut Alana.


Setelah selesai memilih-milih saatnya Alvi memasukkan pakaian itu ke dalam koper, ia berbalik dan terkejut melihat kelakuan sang istri di belakangnya.


Di mana Alana duduk anteng di dalam koper seperti anak kecil yang menunggu ibunya bersiap-siap.


"Ya ampun sayang." Gemes Alvi mengendong Alana keluar dari koper. Kenapa, Hm?" tanya Alvi.


"Belum siap LDR Aa," rajuk Alana tak ingin turun di gendong Alvi.


"Demi pendidikan berkorban sedikit, ya!" pinta Alvi.


"Emang Aa udah siap pisah sama Aku?" tanya Alana membalas tatapan Alvi, memainkan anak rambut bagian depan laki-laki itu.


"Nggak, tapi Aa harus bisa demi kamu," jawab Alvi dengan senyuman, walau lubuk hatinya paling dalam tak ingin bahkan tak rela jika berpisah dengan Alana.

__ADS_1


Sembilan bulan usia pernikahan mereka tak pernah sekalipun benar-benar berpisah, dan sekalinya berpisah jaraknya sangatlah jauh. Entah bagaimana kehidupan Alvi setelah kepergian sang istri, mungkin terasa sepi, tak ada lagi yang menyambutnya di depan pintu, tak ada lagi omelan-omelan, juga perhatian yang melebihi dari siapapun.


Mungkin ia akan kembali seperti dulu, jarang bicara dan tersenyum.


Alvi nenurunkan Alana tepat di samping koper.


"Nggak mau," tolok Alana tak ingin turun dari gendongan Alvi.


"Sebentar sayang," bujuk Alvi.


Usai memasukkan semuanya, dan memastikan tak ada yang terlupa, Alvi mengeret koper kuning milik Alana ke depan lemari, barulah Alvi kembali mengendong gadisnya. Hari ini Alana sangat manja melebihi hari-hari sebelumnya.


"Mau makan siang di luar?"


Alana mengeleng. "Di rumah aja, bunda udah masak," jawabnya.


"Ya ampun Al, turun sayang! Kamu berat kasian Alvi," ujar bunda Anin saat melihat Alvi menuruni satu persatu anak tangga dengan Alana digendongannya.


"Aa aku berat?" tanya Alana.


"Nggak, entang banget malah," jawab Alvi.


"Alvi!"


"Nggak papa bunda," jawab Alvi.

__ADS_1


"Ada apa sih ribut-ribut," tanya Ayah Kevin yang juga baru dari kamar bersiap makan siang bersama.


"Tuh anak kamu nempel mulu kayak lem, kasian Alvi," jawab bunda Anin.


"Turun sayang!" perintah Ayah Kevin tapi tak di gubris oleh Alana, gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Alvi.


"Dih, bilang aja Ayah iri," cibir Alana. "Mau juga di tempelin sama bunda, tapi bundanya cuek," lanjutnya.


Alvi mengulum senyum mendengar pertengkarang Alana dan ayah Kevin. Ayah dan anak itu layaknya kucing dan tikus jika bertemu, lain cerita saat Alana butuh sesuatu, barulah gadis mengemaskan itu baik dan nurut pada ayahnya.


"Kasian yang bentar lagi LDR an." Ayah Kevin membalas cibiran Alana. "Bunda, ambilin ayah itu!" Menunjuk paha ayam tepat di depan Alana.


"Itu paha aku ayah, jangan di ambil ih."


"Siapa yang mau ambil paha kamu, paha bunda lebih menggoda," jawab Ayah Kevin asal, lalu mencomot satu paha ayam di depan Alana walau sang empunya melarang.


"Ayah!" tegur bunda Anin.


"Iya sayang, nanti setelah makan." Ayah Kevin mengerling nakal.


"Dih, udah tua juga," cibir Alana.


Alvi hanya bisa tersenyum menyaksikan keharmonisan keluarga istrinya. Semoga ia bisa seperti ayah Kevin, terkenal dingin dan arogan pada orang lain, tapi hangat dan menyenangkan jika bersama keluarga.


***

__ADS_1


Do'a in dedek semoga halunya makin lancar😁



__ADS_2