Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 22


__ADS_3

Tak di sangka respon yang di keluarkan Alana membuat pak Alvi melongo melihatnya, Dengan mantap dia mengangukkan kepalanya seraya tersenyum ramah.


"Ibu butuh berapa?" tanyanya membuat pak Alvi melotot kearahnya, namun dia tak memperdulikannya.


Ibu paruh baya itu mengenggam tangannya. "Terimakasih nak mau bantu ibu. Ibu butuh uang 200 ribu saja nak." jawab wanita paruh baya itu dengan raut wajah bahagia.


Dia mengambil dompet dalam tas nya, namun tak menemukan uang tunai di sana. Dia berbalik menghadap pak Alvi.


"Pinjam uang 200 ribu pak, saya nggak punya uang Cash nanti di ganti." ujarnya menegadahkan tangannya.


Dengan wajah datarnya pak Alvi mengambil 2 lembar uang merah di dalam dompet dan menyerahkan padanya. Dia dengan senang hati mengambil uang itu, kemudian di berikan pak ibu-ibu paruh baya di depannya.


"Terimakasih banyak nak, semoga rumah tangga kalian di penuhi keberkahan. Rumah ibu nggak jauh dari sini, nanti ibu kembalikan." ujar ibu-ibu itu mengelus punggung tangannya, lalu memberikan uang itu pada kasir kemudian pergi membawa belanjaanya.


Apa tadi rumah tangga penuh keberkahan? ya kali, dia tidak akan menikah dengan pria cuek seperti pak Alvi, jika itu terjadi dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya kelak, yang selalu di limpahi kasih sayang dan perhatian harus serumah dengan orang tidak peka seperti pak Alvi.


Setelah membayar belanjaanya dia menunggu wanita paruh baya itu di cafe dekat indoapril. Sebenarnya tidak masalah jika ibu-ibu itu tidak mengembalikan uangnya, tapi dia harus membuktikan pada pak Alvi bahwa kali ini dia tidak salah menilai orang.


Karena sedari tadi pak Alvi menceramahi atau lebih tepatnya menyudutkannya hanya karena perkara uang 200 Ribu. Pelit sekali pikirnya.


"Lihat sudah 30 menit namun ibu-ibu itu belum datang, apa lagi jika bukan di tipu." ujar pak Alvi. "Seharusnya jadi cewek jangan mudah percaya dengan orang lain! apa kasus motor kamu tidak memberi pelajaran apapun!" todong pak Alvi padanya.


Dia menyesap jus alpukat kesukaannya dengan perasaan kesal hingga menimbulkan suara-suara aneh seperti orang kerasukan yang sedang minum. Setelah habis di menyingkirkan gelas itu dan menatap pak Alvi malas.


"Dia bukan penipu pak, saya yakin itu, lihat saja sebentar lagi ibu-ibu itu akan datang."


"Dia tidak akan datang, di dunia ini tidak ada lagi orang jujur apa lagi di kota besar seperti ini."


"Saya akan membuktikan bahwa di kota sebesar ini masih banyak orang-orang jujur, salah satunya ibu-ibu tadi." dia tetap teguh pada pendiriannya.


"Saharusnya kamu lebih waspada lagi. Ayo kita pulang!" ujar pak Alvi beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Hidup akan terasa hampa dan hambar jika tindakan selalu disertai dengan kewaspadaan. Sekali-kali nikmatilah hidup tanpa perencanaan yang terlalu matang. Itu akan jauh lebih menyenangkan."


Dia ikut bangkit dan meraih tasnya, namun langkahnya terhenti kala seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan senyuman merekah dan peluh di kening wanita itu.


"Maaf nak, ibu kelamaan." wanita paruh baya itu monyodorkan 2 lembar uang merah kearahnya.


Ah dia baru ingat, ternyata wanita itu yang dia tunggu sedari tadi.


"Nggak papa bu." Dia mendorong tangan wanita itu. "Uangnya nggak usah di kembalikan, buat anak ibu aja." ujarnya.


"Tapi nak." ujar wanita itu tak enak.


"Saya ikhlas bu. Mari."


Dia keluar dari Cefe lalu menghampiri pak Alvi di tempat parkir. "Lihatlah masih ada orang jujur, tidak seperti yang pak Alvi katakan." kesalnya lau masuk kedalam mobil sport biru pak Alvi tanpa izin pada pemiliknya.


Matanya terasa barat, enggan untuk terbuka lagi, mungkin karena lelah belum istirahat seharian, bahkan dia lupa tidur siang hanya untuk memenuhi permintaan kakek Farhan yang menyuruhnya kerumah sakit.


"Kita akan menikah."


"Baiklah." ujarnya tanpa berfikir, matanya terasa berat dan hampir menuju alam mimpi. Namun saat menyadari tiga kata keluar dari mulut pak Alvi matanya kembali melebar.


"Apa!!"


Hampir saja dia jantungan mendengar tiga kata itu keluar dari mulut pak Alvi, segampang itu pak Alvi mengatakan 'Kita akan menikah' yang benar saja, dia belum setuju dan sepertinya tidak akan setuju.


Dalam perjalanan pulang setelah mengantar belajaan kakek Farhan, dia berdiam diri merasa cengung memulai pembicaraan setelah kejadian tadi. Hingga mobil yang di kendari pak Alvi memasuki halaman rumahnya yang terlihat sepi.


Tentu saja sepi, bi Ijah dan mang Jaja sudah pulang, hanya tersisa mang ucup yang menjaga rumah, itupun hanya di depan.


Sebelum turun dari mobil dia berdiam diri kemudian memberanikan diri bertanya tentang perubahan pikiran tiba-tiba pak Alvi.

__ADS_1


"Kenapa pak Alvi berubah pikiran?" tanyanya.


"Saya pikir tidak ada salahnya kita menikah. Tujuan saya untuk membahagiakan kakek Farhan, dan dengan menikah dengan kamu, kakek Farhan akan bahagia."


"Tapi saya tidak ingin menikah!"


"Kenapa?" pak Alvi menaikkan salah satu alisnya.


"Saya tidak ingin menikah hanya karena perjanjian dua belah pihak. Pandangan saya tentang pernikah berbeda dengan pak Alvi. Bagi saya menikah harus di dasari rasa cinta, dan di antar kita tidak ada kata itu. Jadi maaf saya tidak bisa menikah dengan pak Alvi." dia menghela nafas sejanak, kemudian melanjutkan perkataanya. "Tapi tenang saja, saya akan selalu ada untuk kakek Farhan, saya akan selalu menyempatkan waktu untuk menemuinya agar kakek Farhan tidak curiga dengan hubungan kita."


"Saya tahu ini tidak mudah bagi kamu, apa lagi kamu masih sekolah dan sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir sekolah. Saya menghargai keputusan kamu." jawab pak Alvi dengan raut wajah datarnya.


"Maaf pak."


"Jika kamu berubah pikiran jangan sungkan menghubungi saya!"


Dia mengangukkan kepalanya kemudian turun dari mobil pak Alvi setelah mengucapkan terimakasih. di pandanginya mobil sport biru itu keluar dari halaman rumahnya, setelah berna-benar hilang barulah dia masuk kedalam.


Dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Di pandanginya jam dinding kamarnya, pukul 20:32 masih terlalu dini untuk tidur. Keluar lagi sudah malas.


"Kita akan menikah"


"Jika kamu berubah pikiran jangan sungkan menghubungi saya!"


Kata-kata itu terus tergiang-giang di telinganya, seperti sebuah rekaman yang sengaja di putar, membuatnya pusing saja. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Dalam hidupnya tak pernah terpikirkan untuk menikah muda.


"Oh ayolah Alana, tidak ada yang memaksamu untuk menikah." ujarnya pada diri sendiri.


Tapi hati dan pikirannya tak bisa kerja sama. Hatinya mengatakan tidak, namun pikirannya merasa terbebani, merasa bersalah akan penolakan yang dia lontarkan pada pak Alvi.


...TBC...

__ADS_1


Akankah Alana berubah pikiran?


__ADS_2