
Enam Bulan Kemudian
Tak terasa enam bulan telah berlalu, usia Baby A genap delapan bulan beberapa hari yang lalu. Baby A begitu aktif merangkak membuat Alana sangat gemas dan tak rela jika Bunda Anin meminjam anaknya barang sehari pun.
Di dalam kamar bernuansa kuning itu, Alana membalurkan liotin pada tubuh Baby A setelah mandi sore. Memakaikan payima tidur sembari bermain-main hingga acara memakai baju memakan banyak waktu.
"Utu ... utu cantik banget anak Mommy," puji Alana menguyel-uyel kedua pipi gembunl baby A.
"Eh ... eh ... eh, Atha sayang, jangan gerak dulu, belum selesai ini." Cegah Alana saat Agatha mulai aktif kembali, merangkak di atas tempat tidur. Sementara Alatha duduk anteng bermain.
Dengan sigap Alana menaikkan pembatas tempat tidur di sebelah kanan dan kiri agar Agatha tidak jatuh. Pembatas tempat tidur yang sengaja Alvi beli takut anaknya jatuh saat Alana tertidur atau mengerjakan sesuatu.
"Hmmm, wangi banget prinses Daddy," ujar Alvi baru saja pulang kerja, berdiri di samping tempat tidur, memperhatikan kedua anaknya merangkak berusaha mengapai pembatas.
"Pa-pa ... pa-pa," Alatha mulai mengumamkan kata Papa sembari merangkak kearah Alvi.
"Daddy mandi dulu sayang." Alvi hanya mengecup pipi Alatha.
"Lihat anak Aa, aku yang lahirin malah nggak bisa manggil Mama, tiap hari manggil Papa mulu," gerutu Alana sembari melepas jas Alvi.
"Istri Aa cantik banget kalau ngambek." Alvi mengecup bibir Alana yang manyun lalu masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Entah sampai kapan sifat iri Alana akan hilang, wanita anak tiga itu selalu iri tentang apa saja. Iri saat perhatian Alvi berlebihan pada anak-anaknya, iri saat anak-anak mereka lebih dekat dengan Alvi, hingga pertengkaran-pertengakran kecil sering terjadi diantara mereka. Namun, keromantisan keduanya tak pernah pudar.
"Aa bocil aku mana?"
"Tinggal sama bunda," sahut Alvi.
"Is kok di tinggal lagi, udah dua hari Arga di rumah Bunda," gerutu Alana.
Ya Arga lebih sering bermalam di rumah Bunda Anin, karena sekolah bocil itu lebih dekat dari sana.
"Nanti malam Aa jemput sayang, udah jangan cemberut gitu, Aa baru pulang loh." Mengamit pinggang Alana lalu mengecup pipi tembeb itu. "Mommy jangan cemberut mulu, liat tuh prinsesnya dari tadi ngeliatin, nggak malu?"
Senyum Alana mengembang melihat Baby A berdiri berpegangan pada pembatas ranjang memperhatikannya dan Alvi.
"Mommy, Arga rindu sama Momny!" teriak Arga merentangkan tangannya.
"Mommy juga rindu sayang sama Arga, jangan ninggalin Mommy, lagi ya!" bujuk Alana mencium seluruh wajah Arga karena rindu.
"Iya Mommy."
Arga berlari naik ke tempat tidur, bermain dengan Baby A.
__ADS_1
Alana meraih tangan Alvi lalu mengecupnya. "Aku udah nyiapin makan malam, ayo makan dulu!" ajak Alana.
"Arga liatin dedeknya dulu ya!" titip Alana.
"Iya Mommy."
Sebelum meninggalkan kamar, Alvi mengunci pembatas ranjang agar tidak bisa di buka oleh Arga.
"Istri Aa makin hari makin cantik aja, apa sih rahasianya, Hm?"
"Tidur nyenyak setelah di buat terbang oleh suami."
Alvi mengulum senyum mendengar jawaban Alana. "Kalau gitu Aa bakal lakuin tiap malam biar istri Aa makin cantik," bisik Alvi sebelum duduk di maja makan.
"Dasar Daddy mesum," cibir Alana.
"Mommy ambekkan," gumam Alvi.
"Aa!"
"Canda sayang."
__ADS_1
...****************...
Hay dedek balik lagi nemenin malam kalian bersama Si AaðŸ¤. Dedek lanjut novel ini tanpa ada konflik dan hanya menceritakan keseruan Keluarga besar A. Jadi kalau nggak suka skip aja ya, jangan julidtin dedek😊