
Usai mengerjakan semua pekerjaan dan membersihkan diri, Alana membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, mengambil ponselnya di atas nakas. Saatnya melepas rindu dengan sang suami tercinta.
Deringan pertama panggilan sudah terjawab menampilkan wajah tampan Alvi.
"Assalamualaikum, suamiku sayang. Selamat pagi," ujar Alana berhasil membuat Alvi tersenyum.
Alvi menyugar rambutnya, sedikit bergeser agar bisa bersandar di kepala dipan.
"Malam sayang," balas Alvi karena perbedaan waktu indonesia dan Boston 12 jam. "Nggak ada yang terlupa kan? pintu, makan..." Alvi mulai mengabsen tetapi dengan cepat Alana memotongnya, ia sudah bosan mendengar itu.
"Aa baru bangun? Aa sakit?" intro Alana saat melihat wajah Alvi sedikit pucat, juga laki-laki itu tumben bangun di atas jam delapan. "Jangan bilang Aa juga nggak shalat subuh?"
"Aa cuma sakit kepala biasa, tadi tidur setelah sholat subuh," jawab Alvi masih dengan senyuman.
"Jangan terlalu cape Aa, sana sarapan dulu setelah itu minum obat, atau ke dokter deh sekalian." Khawatir Alana terus menatap wajah tampan suaminya.
"Udah di bilangin jangan terlalu lelah, kalau di London. Di London aja nggak usah ke indonesia dulu, Aa tuh bukan burung yang bisa terbang mulu. Nggak pernah merhatiin kesehatan sendiri tapi cerewet sama kesehatan orang lain," omel Alana.
"Udah?" Alvi mengulum senyum melihat wajah kesal juga cemberut Alana.
"Ais, aku belum selesai ngomel Aa, diam dulu!"
Alvi terdiam, ia tak dapat menyembunyikan senyumanya walau Alana terus mengomel karena kesehatannyaa kurang baik. Melihat gadis itu sudah lelah dan menguap Alvi menyuruhnya tidur, sudah jam 10 malam di sana.
"Aa, minggu depan aku ada acara tahunan di kampus,"
__ADS_1
"Terus?"
"Temanya pesta dansa, acaranya di mulai jam delapan malam. Boleh aku ikut?" izin Alana. Tatapan gadis itu penuh harap.
"Kalau Aa nggak ngizinin, kamu sedih?"
Hening, tak ada sahutan dari Alana, gadis itu mengalihkan pandanganya ke arah lain. Setelah menguasai emosinya barulah Alana kembali menatap Alvi dengan senyuman.
"Aku nggak sedih kok, tenang aja," lirih Alana, suaranya berbanding terbalik dengan kata yang ia ucapkan. "Udah dulu ya A, aku mau ngerjain tugas dulu."
"Aa temenin belajar."
"Nggak usah, mending Aa sarapan terus minum obat, nggak usah kerja dulu, istirahat aja di rumah. Dah sayang."
Alana melambaikan tangannya, lalu memutuskan sambungan telfon begitu saja. Gadis itu memutuskan tidur lebih awal.
***
Alana membuka pintu dan melempar senyum pada anggota BEM lainnya.
"Siang kak," ujar Alana menunduk sopan pada kakak tingkatnya.
Jika rata-rata anggota BEM ada yang sinis juga julid, lain halnya dengan anggota BEM di kampus Alana, mereka semua ramah-ramah terutama anggota perempuan.
Semua anggota kaluar dari ruangan itu, menyisakan Alana dan Dave saja. Alana menyerahkan kertas yang ia tanda tangani pagi tadi.
__ADS_1
"Di Izinin sama suaminya?"
Alana mengeleng. "Gue bisa jadi panitia kak, tapi untuk hadir di pesta nggak bisa. Nggak papa kan?" tanya nya. Alana tidak enak menolak tawaran Dave, itulah mengapa Alana memutuskan menjadi panitia walau tidak ikut hadir di pesta, ia hanya akan membantu mempersiapkan seperti yang lainnya.
"It's okey. Sore nanti ada rapat dengan panitia lain, jangan lupa hadir ya."
Sore harinya seperti yang di katakan Dave, semua panitia berkumpul di ruangan BEM membagi tugas, dan Alana mendapat tugas bersama Dave untuk belanja keperluan pesta.
Alana dan Dave memutuskan belanja semua keperluan besok, kebetulan kelas Alana free. Rapat selesai menjelang magrib.
"Pulang naik apa? di jemput sopir atau suami lo?" tanya Dave setelah mereka sampai di parkiran, dan Alana hendak meneruskan langkahnya.
"Naik Taksi, gue duluan kak," jawab Alana.
Gadis itu tersentak kala motor besar berhenti tepat di depannya hingga menghalangi langkah gadis itu.
"Bareng gue aja, Al," tawar Dave menaikkan kaca helmnya.
"Gue naik...."
"Bentar lagi magrib, dan dekat sini nggak ada masjid," potong Dave. Walau laki-laki itu non muslim bukan berarti ia tidak tahu jadwal ibadah orang islam.
Dua hari berturut-turut Alana di antara pulang dengan cowok yang berbeda-beda, dan itu membuatnya merasa sangat bersalah pada Alvi. Ia merasa telah menghianati suaminya.
***
__ADS_1
Jangan lupa Vote, komen, dan Like.