
Alana, gadis itu mematut dirinya di depan cermin, memperhatikan penampilannya, tak lupa ia mengoleskan lip gloss di bibir seksinya. Ini adalah kali kedua dirinya akan mengunjungi Alvi di kantor. Setelah kejadian pingsan di ruangan Alvi, lelaki itu tak pernah mengizinkannya berkunjung lagi.
Siap dengan dandananya, Alana turun ke lantai bawah tujuannya saat ini adalah ruang kerja suaminya. Mencari berkas yang Alvi lupakan untuk ia bawa ke kantor. Gadis itu mengembangkan senyum ketika melihat map berwarna biru ada di atas meja sesuai petunjuk sang suami.
"Bisa-bisanya Aa melupakan berkas sepenting ini." Mengeleng tak percaya seorang Alvino si Mr. perfect juga bisa ceroboh.
Baru saja akan melangkah matanya tak sengaja menangkap laci yang beberapa hari ini membuatnya penasaran. Karena kepo Alana kembali meletakkan map biru tersebut, lalu mencoba membuka laci kedua dari atas tetapi nihil laci itu terkunci.
"Ais, kok di kunci, kan aku makin penasaran." Alana sedikit mengerutu, mencari kunci di sekitar meja kerja suaminya, tak sulit ternyata mencari benda-benda kecil di dalam ruangan Alvi. Ruangan kerja yang selalu tertata rapi, semua benda di letakkan pada tampatnya, bahkan benda sekecil apapun mempunyai tampat khusus seperti kunci yang ia cari, ternyata ada di rak ke tiga.
Senyum gadis itu semakin lebar ketika laci yang ia inginkan terbuka, dengan sigap ia memeriksa berkas penting yang ada di dalamya, dan menemukan apa yang ia cari. Catatan medis yang tak sengaja ia lihat beberapa hari yang lalu.
"Gaje banget si Aa, sampai nyimpen hasil medis kaki aku." Baru saja akan meletakkan kertas itu kembali, satu kertas ada yang terjatuh.
Deg
Jantung Alana berdetak lebih cepat membaca surat mendis itu, bahkan ia sedikit meremas kertas berwarna biru pudar tersebut, bulir-bulir benih di pelupuk matanya siap tumpah, menghapus riasan make up yang ia buat barusan.
"Jadi ini alasan Aa nggak pernah menyinggung tantang anak lagi?"
Ia merasa gagal menjadi istri untuk Alvi, lelaki yang sangat menginginkan keturunan itu harus kecewa dengan keadaannya nya sekarang, sulit hamil, bahkan peluangnya hanya ada 10%.
Tangan gadis itu bergetar, membaca lembaran berikutnya. Hatinya seperti di remas-remas oleh tangan tak kasak mata mendapati kebenaran yang tidak pernah ia ketahui selama ini.
"Aku pernah keguguran?" tanyanya entah pada siapa. "Kapan aku hamil? kenapa Aa nggak pernah cerita?"
Tanpa membereskan apapun, gadis itu keluar dari ruangan Alvi dengan rasa kecewa yang sangat mendalam. Jika Alvi menyembunyikan tentang ia tidak bisa hamil, itu wajar karena mungkin Alvi tak ingin dirinya kepikiran. Tapi Laki-laki itu bahkan menyembunyikan tentang kehamillanya hingga dirinya keguguran.
Berkasnya di bawa sama mang Jaja
Isi pesan Alana yang langsung di balas oleh Alvi.
Kok mang Jaja? kamu nggak jadi kesini?
Aku ngantuk.
Balas Alana singkat, padat dan jelas. Setelah itu ia mennonaktifkan ponselnya.
Gadis itu mendudukkan diri di meja pantri, memanggil Bi Neneng yang sedang menyiapkan makan siang untuknya.
"Bi banyakin ya porsinya, saya butuh tenaga."
__ADS_1
Bi Neneng tersenyum, akhirnya istri Tuanya itu minta makan tanpa di ingatkan ataupun di suruh seperti hari-hari lainnya. Dengan sigap wanita paruh baya itu menyiapkan makanan di atas meja sesuai permintaan Alana.
"Neng kok nangis?" tanya bi Neneng ketika melihat Alana makan sambil nangis.
Alana mencoba tertawa walau air mata terus mengalir membasahi pipinya. "Lagi pengen aja." jawabnya.
Makan sambil nangis bukanlah hal yang menyenangkan, tapi itu ia lakukan agar tidak sakit dan makin menyusahkan Alvi. Lelah menahan rasa sesak di dada, Alana melempar gelas di depannya, hingga pecahan beling berserakan di lantai.
"Astagfirullah, Neng." kaget bi Neneng.
Alana ikut berjongkok, membantu bi Neneng membersihkan pecahan kaca di lantai mengumpulkan tanpa alas membuat tangan lentik itu tergores dan mengeluarkan darah.
Sudut bibir gadis itu tertarik ke atas, rasanya ia sedikit tenang melihat darah mengalir di tangannya. Ingin semakin tenang, ia mengabil pecahan lebih besar lalu mengenggamnya menikmati sensansi yang berbeda di telapak tangannya.
"Ya ampun neng, tangan neng berdarah." Buru-buru Bi Neneg mengambil tisu lalu membersihkan darah di tangan gadis itu yang tak henti-hentinya mengalir. "Sakit banget ya neng? bibi kan dah bilang, biar bibi aja yang beresin. Kalau Tuan tau, pasti marah." Ceramah wanita paruh baya itu panjang lebar, bisa di pastikan Alvi akan mengamuk jika sesuatu terjadi pada istrinya.
Lagi-lagi gadis itu tersenyum berusaha menutupi luka dan rasa kecewa di hatinya. Ia sangat benci pembohong, tapi selama ini ia tinggal dengan orang seperti itu.
"Lebih sakit hati saya Bi," lirih Alana. "Bi, nggak papakan saya tinggal? Saya ngantuk banget."
"Nggak papa Neng."
Gadis itu beranjak, membersihkan tangannya menggunakan air kerang di wastalfel, tak ada niatan untuk mengobatinya. Alana membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur bernuansa pink putih itu. Tak memperdulikan darah di tangannya yang bisa saja mengotori tempat tidurnya. Entah berapa lama ia menangis hingga terlelap.
Jika gadis berambut indah tersebut sedang bersedih lain halnya dengan Alvi. Lelaki itu terus tersenyum saat meninggalkan gedung Anggara Group. Akhirnya ia bisa pulang cepat untuk bertemu sang istri tercinta yang sedari tadi ponselnya mati.
Senyum Alvi semakin lebar, rasa lelahnya berangsur hilang ketika mobil yang ia kendarai memasuki gerbang rumah mereka, bayangan Alana yang sedang menyambutnya di balik pintu dengan senyuman, terus menari-nari di pikirannya.
Ternyata ekspektasi tak sesuai realita, saat membukanya pintu, di sana tak ada seorang pun yang menyambutnya. Baru saja akan masuk ke Lift bi Neneng memanggilnya.
"Tuan."
"Hm." tanpa berbalik.
"Tadi Nonya Alana makan sambil nangis." lapor Bi Neneng.
"Kenapa?" Kali ini Alvi berbalik menghadap wanita paruh baya tersebut.
"Saya nggak tau Tuan. Tangan nyonya juga luka karena..." Belum selesai bi Neneng dengan kalimatnya, Alvi keburu masuk ke Lift.
Baru saja membuka pintu kamar, ia di suguhkan pemandangan tak mengenakkan hati, sprei pink putih itu kini di penuhi noda merah bagian tengahnya.
__ADS_1
Alvi melempar tas kerjanya asal menghampiri gadisnya yang entah sedang tidur atau tak sadarkan diri, ia menepuk-nepuk pipi gadisnya pelan.
"Alana bangun sayang!"
Gadis itu mengeliat, mengerjap-erjapkan matanya.
"Syukurlah." Lega Alvi menarik Alana kedalam pelukannya mengecup kening gadis itu berkali-kali, namun gadis itu tak ada niatan sama sekali membalas pelukan lelaki yang berstatus sebagai suaminya.
Alana seperti patung, diam seribu bahasa ketika Alvi mengobati tangannya.
"Kita ke dokter ya, luka tangan kamu terlalu dalam." Bujuk Alvi, mendongak menatap wajah sayu sang istri, belum lagi mata sembabnya.
Namun, gadis itu mengalihkan perhatianya ke arah lain tak ingin berisitatap dengan Alvi.
"Katanya kamu nangis sambil makan? kenapa? ada yang sakit? tangan kamu juga kenapa bisa luka?"
"Aku kangen sama bunda."
"Malam kita kerumah bunda ya, Aa capek baru pulang."
"Aku bisa sendiri."
"Baiklah, Aa mandi dulu setelah itu kita kerumah bunda." Pasrah Alvi yang tak tahu kemaran Alana sama sakali.
"Aku bisa sendiri." ulang Alana.
"Nggak papa sama Aa aja, Aa nggak capek kok." Alvi mengelus tangan Alana yang terluka.
"Aku bisa sendiri." ucap Alana penuh tekanan. "Kamu tuli?"
"Alana."
"Nggak usah nge drama bisa? basi tau nggak!"
...TBC...
Hay apa kabar readers kesayangan dedek, sehat-sehat kan? Sehat dong ya.
Sambil nunggu Aa up mampir di novel dedek kurang akhlak aku nih🤭di jamin baper.
__ADS_1