Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 146


__ADS_3

Alana menghampiri Alvi yang tengah meringkuk di dalam selimut, sedari pagi suaminya tak ada semangat sedikitpun. Alana menyingkap selimut, memeriksa suhu tubuh Alvi, takut Alvi sakit.


"Aa sakit?"


Alvi mengeleng memindahkan kepalanya di pangkuan Alana, memeluk perut rata gadis itu, kepalanya nyut-nyut karena sesuatu.


"Kepala Aa sakit," rengek Alvi. "Tamu kamu udah pulang belum sih? udah seminggu, biasanya juga cuma 4 hari."


Raut wajah yang semula khawatir kini tergantikan dengan senyuman, jadi sedari tadi suaminya tidak bersemangat hanya karena satu hal.


Alana menunduk, membenamkan bibirnya di bibir tebal lelaki itu sedikit lama. Menunggu sang suami membuka mulutnya. Lama mereka saling bertukar saliva hingga Alana hampir kehabisan nafas. Ia membisikkan sesuatu di telinga Alvi yang langsung membuat lelaki itu bersemangat.


***


Alana semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh polos Alvi yang terbalut selimut tebal, mencari kehangatan di sana. "Udah ful kan?" goda Alana.


"Belum," jawab Alvi mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada tulang selangka Alana yang terekspos indah. "Again."

__ADS_1


"Nggak ada again-again, aku udah lelah, tulang aku remuk semua."


Keduanya terlelap, akibat kelelahan bergumul di dalam selimut. Alvi yang lebih dulu terbangun mulai nakal mejahili istrinya yang masih terlelap. Mengigit, menyesap leher gadis itu, bukan hanya leher, bahkan pipi Alana menjadi saran empuk Alvi.


"Bangun Alana, Aa mau makan kue," bisik Alvi.


Alana mengerjap-erjapkan matanya, tersenyum melihat Alvi. "Kue apa Aa?"


"Kue yang pernah Aa makan di rumah bunda, kamu yang buat kan?"


Usai membersihkan diri masing-masing-masing, Alana mengajak Alvi kedapur untuk membuat kue yang di minta lelaki itu. Semua bahan-bahan sudah siap tinggal mencampur satu persatu kedalam wadah. Awalnya semua berjalan lancar, Alana sibuk mengaduk adonan, sementara Alvi menunggu perintah menuankan bahan-bahan.


Curiga akan sesuatu, Alana berbalik menatap dirinya dari pantulan Kulkas, raut wajahnya seketika berubah masam. "Aa!" kesal Alana, membalas kelakuan Alvi dengan yang kebih parah, mengambil adonan lalu mengoleskannya pada wajah Alvi.


Jadilah keduanya perang tepung di dapur, semua menjadi berantakan, adonan yang semula utuh kini berantakan di atas lantai keramik, belum lagi tepung sudah memenuhi rambut Alvi juga Alana.


Tak ada yang ingin mengalah sampai seseorang menghentikan kelakuan mereka.

__ADS_1


"Alana, Alvi apa yang kalian lakukan Nak?" heran Bunda Anin, datang-datang mendapati dapur anaknya berantakan, belum lagi sepasang manusia di depannya.


"Bunda!" Heboh Alana berlari menghampiri bunda Anin hendak memeluknya, tetapi dengan sigap bunda Anian mendorong kepala Alana.


"Jangan sentuh bunda!" perintah bunda Anin. "Kamu bau telur sayang. Sana mandi sama suami kamu! kalian sebenarnya mau buat apa?"


Alana nyegir tanpa dosa memperhatikan dapur yang seperti kapal pecah. "Mau buat kue, Aa aku mau makan kue kayak di rumah bunda, tapi berantakan," jawab Alana.


Alvi? laki-laki itu sudah hilang setelah mencium punggung tangan bunda Anin juga Ayah Kevin, tak sanggup menahan malu pada kedua orang tua istrinya.


"Ayah lihat kelakuan anak kesayangan kamu." Adu bunda Anin.


"Namanya juga belajar, iyakan sayang?"


Alana senyum penuh kemenangan, bagaimanapun salahnya, ia tetap benar di mata Ayah Kevin. Bunda Anin hanya bisa menghela nafas panjang nggak anak, nggak ayah sama saja kelakuannya.


Sepeninggalan Alana, bunda Anin menyuruh bi Neneng membereskan kekacauan di dapur.

__ADS_1


***


Jangan lupa vote, komen, dan Like.


__ADS_2