Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 53


__ADS_3

Dirga senyum sinis melihat kedatangan Alvi di ruangan nya pagi-pagi seperti ini, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, bersedekap dada masih dengan senyum sinisnya.


"Kalau gue nggak mau, lo mau apa?" seringai Dirga. "Jangan ikut campur urusan gue sama dia. Dia siswa gue, sudah seharusnya dekat, bukan?"


Tangan Alvi tekepal mendengar jawaban Dirga, rahangnya mengeras. Kilatan amarah terpancar jelas di matanya, tetapi pria manis itu seperti tak terusik sama sekali.


"Dia anak wali gue!" tegas Alvi.


"Dan Alana asisten gue." balas Dirga menyebalkan.


Kaki panjang Alvi melangkah mendekati Dirga, meraih kerah kemeja lelaki tersebut. "Jauhin istri gue!"


"Istri?" Dirga tertawa melepas cengkraman Alvi pada kemejanya. "Lo nggak pernah dengar sebutan mantan istri? gue bakal tunggu status itu."


Bugh


Satu bogeman mendarat di wajah manis Dirga hingga mambuat lelaki itu tersungkur di samping kursinya. Alvi kembali menarik kerah kemeja lelaki itu.


Sekali lagi Dirga tertawa sinis melihat perlakuan Alvi terhadapnya, mereka memang sering beradu argumen tapi baru kali ini lelaki itu memukulnya.


"Jauhi istri gue, atau lo mati di tangan gue!"


"Kita kenal sejak SMA, dan selama itu pula lo selalu satu langkah di depan gue Vi, prestasi? Tania? gue salalu mengalah tentang itu. Tapi sekarang, nggak lagi, gua akan memperjuangkan apa yang menjadi keinginan gue!" tegas Dirga menghentak tangan Alvi.


Guru kimia tersebut semakin geram mendengar pengakuan Dirga, apakah itu artinya Dirga akan merebut gadis kecilnya?


Percaya tidak percaya, rasa percaya diri Alvi sedikit berkurang. Gadisnya sering mengeluh tentang sikapnya yang terlalu dingin dan kaku, besar kemungkinan Alana akan meninggalkannya.


"Gue pastikan keinginan lo nggak bakal bisa tercapai, Alana cuma milik gue, dan selamanya akan tetap begitu!" geram Alvi, giginya begemelutuk, siap melayangkan tinjunya untuk kedua kalinya, namun tangan itu mengantung di udara mendengar suara seseorang dari luar pintu.


"Pak boleh saya masuk?" tanya seorang gadis yang tak lain adalah Alana.


"Tunggu!" sahut Dirga namun tatapan liciknya ia layangkan pada Alvi.


"Bagaimana respon Alana jika melihat lo ada di ruangan gue? dengan wajah gue seperti ini? kecewa? marah?"


Alvi begeming, ia seperti orang bodoh sekarang, hanya karena seorang perempuan.


"Masuk!" tepat Dirga mengatakan itu, Alana membuka pintu, sedikit tergugu melihat keberadaan Alvi di sini, bukannya lelaki itu mengatakan tidak ada kelas dan akan ke kantor?


"A...Pak Alvi." tunduk Alana sopan lalu melewati lelaki yang menatapnya datar, menghampiri lelaki manis di kursinya.


Bukanya pergi Alvi malah menyandarkan tubuhnya pada daun pintu, bersedekap dada, menatap datar kedua insan di depannya.


"Sudah pak." girang Alana menyerahkan tugas yang di berikan Dirga. "Sekarang saya resmi jadi asisten pak Dirga kan?" tanyanya penuh harap.


Dirga melirik Alvi sekilas lalu menyambar tugas-tugas gadis di depannya. "Sebenarnya kamu memenuhi syarat, tapi saya tidak menerima siswa yang sudah bersuami, apa lagi jika suaminya itu melarang."

__ADS_1


"Udah di izinin kok Pak." Alana menoleh, menatap Alvi yang masih bergeming di tempatnya. "Iya kan Pak?" gadis itu melempar senyum pada Alvi membuat lelaki itu luluh seketika.


Alvi menghembuskan nafas kasar, kemudian mengangguk ia tidak ingin wajah bahagia istrinya hilang hanya karena ke egoisannya, ini urusannya dan Dirga, Alana tidak perlu mengetahuinya.


"Yes!" sorak Alana. "Berarti aku resmi dong jadi asisten pak Dirga." Alana melangkah mendekat hendak memeluk tubuh kekar di balik meja, namun dehemen dari arah belakang menyadarkannya, membuatnya urung dan hanya menjabat tangan pria manis itu.


"Selamat." ujar Dirga.


"Sudah?" Alvi sudah kepanasan melihat keduanya terlihat sangat akrab.


"Sudut bibir pak Dirga kenapa berdarah?" Alana baru menyadari itu. "Aku obatin ya pak." baru saja akan menyentuh sudut bibir lelaki manis itu, tangannya di tarik oleh seseorang.


"Sudah kan? kita pergi." Alvi menarik tangan munggil Alana agar keluar dari ruangan yang bisa saja membuatnya hilang kendali di depan gadis berambut indah tersebut.


Tanpa banyak protes Alana ngikut, kemanapun Alvi menariknya hingga mereka sampai di depan kelas gadis itu.


"Pak Alvi bukannya ke kantor ya?" bingung Alana.


"Baru mau pergi."


"Aku pulangnya sama siapa? oh aku pulang sama Abang El aja, ntar pak Alvi jemput aku di rumah Oma."


"Nggak!" tegas Alvi. "Aku jemput, jangan keluar kelas sampai aku datang, di luar sangat panas."


"Assiap kapten." hormat Alana lalu masuk kedalam kelasnya di mana semua mata kini tertuju padanya.


"Pengen suami juga, nggak dapat pak Alvi, pak Dirga pun jadi." timpal lainnya.


***


Sesuai janjinya pada Alana, kini Alvi menyelesaikan lebih cepat pekerjaannya, sisanya ia serahkan pada asistennya, ia tidak ingin membuat gadisnya menunggu dan kepanasan, apa lagi Alana masih terlihat pucat.


Di jalan ia tidak sengaja melihat toko bunga yang sangat cantik, kaki dan tangannya bergerak sesuai otaknya, berhenti di depan tokoh bunga itu.


Lagi semua mata tertuju padanya, namun ia hiraukan, di matanya hanya ada satu perempuan di dunia ini yang menarik.


"Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" sopan karyawan menyambutnya.


"Menurut nona, bunga yang di sukai gadis remaja yang seperti apa?" tanya Alvi bingung harus memilih mana, takut tidak sesuai selera gadisnya.


"Sejauh ini pemesanan Mawar pink, Mawar merah, dan bunga matahari di borong oleh kaum muda Tuan."


"Berikan yang paling indah dan cantik!" pinta Alvi sembari melihat bunga-bunga yang terlihat sama saja di matanya, ia tidak mengerti tentang bunga.


Pelayan tokoh tersebut memberikan buket bunga Matahari padanya. "Bila anda mencintai gadis ceria dan energik, bunga matahari ini sangat cocok Tuan."


Sudut bibirnya hampir terangkat membayangkan bagaimana reaksi Alana jika ia memberikan bunga itu.

__ADS_1


"Tuan."


"Itu saja."


"Kartu ucapannya?"


"Buatlah seromantis mungkin." printah Alvi membuat sang karyawan mengulum senyum, beruntung sekali gadis yang di cinta lelaki ini, begitu pikirnya.


Bahkan pengunjung wanita di tokoh bunga tersebut, menggigit ujung jarinya, terpesona akan ketampanan dan juga keromantisan Alvi.


Lelaki itu mengirim pesan pada gadisnya setelah berada di depan sekolah, menyuruh Alana keluar dari kelas. Jantungnya berpacu lebih cepat melihat Alana semakin mendekati mobilnya, tidak tahu caranya memberikan bunga itu pada Alana.


"Udah lama A." tanya Alana setelah berada di dalam mobil, tidak lupa ia mencium punggung tangan Alvi.


"Baru aja."


"Bunga." gumam Alana saat tak sengaja melihat buket bunga yang sangat indah di kursi belakang, senyumnya mengembang benarkah Alvi seromantis itu?


"Kenapa?"


"Bunga siapa A?" kepo Alana, memutar tubuhnya mengambil buket bunga di jok belakang, membuat Alvi menahan pinggan gadisnya agar tidak terjatuh. "Cantik banget."


Alvi meneguk salivanya beberapa kali, rasanya sangat memalukan bersikap romantis seperti ini.


"Bunga Devan, ketinggalan di mobil tadi." bohong Alvi, tak ingin mengakui.


"Oh." Alana melempar kembali buket bunga ke jok belakang. Kecewa akan jawaban Alvi, ia mengira Alvi akan memberikannya bunga, eh ternyata milik Devan.


"Kalau suka di ambil aja."


"Nggak!" sahut Alana jutek. "Aku bisa beli sendiri." melempar tatapanya ke luar memerhatikan bangunan pencakar langit yang ia lewati.


"Aa temenin."


"Nggak perlu, aku tau toko bunga yang cantik, kalau perlu aku beli sekalian sama toko dan karyawannya." ketus Alana.


"Alana!"


"Apa?"


"Aa yang beli bunga itu buat kamu." jujur Alvi.


"Bodo amat!"


...TBC...


Gagal Romantis nih si gunung Es🙈

__ADS_1



__ADS_2