Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Ekstra Part 17


__ADS_3

Deringan ponsel di atas nakas mengganggu tidur Alvi yang baru saja terlelap karena sang istri sedari tadi mengeluh sakit pinggang. Masih dengan mata tertutup ia meraba-raba nakas di samping pembaringan, perlahan-lahan matanya terbuka memeriksa siapa yang menelfon di ponsel istrinya tengah malam seperti ini.


"Bunda," gumam Alvi.


Tanpa merubah posisinya yang kini memeluk Alana, Alvi menjawab panggilan dari mertuanya.


Jantung Alvi seakan berhenti berdetak mendengar tangisan di seberan sana, apa lagi saat bunda Anin mengatakan kabar buruk itu. Masih dengan ponsel di tangannya, Alvi menatap wajah terlelap sang istri, entah apa reaksi Alana saat mengetahui kabar buruk yang menghampiri tengah malam seperti ini.


"Baik, Bunda," sahut Alvi setelah itu memutuskan sambungan telfonnya.


Alvi semakin mendekap tubuh Alana kedalam pelukannya, membenamkan bibir tebal itu di kening Alana.


"Sayang," lirih Alvi. Lidahnya terasa kelu akan menyampaikan kabar buruk ini pada Alana, terlebih bumilnya baru saja terlelap akibat sakit di bagian pinggang. "Bangun sayang."


"Aku masih ngantuk Aa," gumam Alana.

__ADS_1


"Sebentar aja," bisik Alvi membuat Alana mau tak mau membuka matanya.


Alvi membimbing Alana duduk, meraih sebotol air mineral di atas nakas lalu memberikannya pada Alana. Alvi tidak akan menyampaikan kabar buruk itu dengan terburu-buru takut istrinya syok.


"Ada apa Aa?" bingung Alana saat Alvi langsung memeluknya.


"Oma buyut meninggal sayang," bisik Alvi.


"Candaan Aa nggak lucu tau," Melerai pelukan Alvi. Air mata Alana jatuh begitu saja saat menatap mata Alvi yang kini memerah menandakan laki-laki itu tidak berbohong.


Ia tahu bagaimana Alana sangat menyayangi Oma Jelita. Istrinya sering bercerita tentang nenek tua yang sudah terbaring koma hampir lima tahun. Alana selalu berharap akan ada keajaiban hingga membangunkan nenek tua itu agar bisa melihat keluarga kecilnya yang bahagia.


Alana mendorong tubuh Alvi, turun dari ranjang susah payah, ia akan memastikan sendiri bahwa kabar yang ia dengar itu salah, Omanya masih hidup dan akan segera sadar. Omanya hanya tidur bukan meninggal.


Sepanjang jalan menuju Mansion utama, Alana terus menangis dalam pelukan Alvi. Mata indah itu mulai membengkak dan susah terbuka. Tanpa mempedulikan perutnya yang besar, Alana berlari ke kamar Oma Jelita. Langkahnya terhenti di ambang pintu melihat semua keluarganya berkumpul.

__ADS_1


"Alana!" panggil bunda Anin berderai air mata.


"Jangan katakan apapun Bunda!" Menepis tangan bunda Anin, berjalan ke tempat tidur di mana oma Jelita terbaring dengan kain menutup seluruh tubunya.


"Oma bangun!" teriak Alana. "Rayhan, Oma cuma tidur kan? iya kan!" tanyanya pada laki-laki yang duduk tak jauh dari pembaringan.


"Oma udah sadar makannya semua alat di lepas kan? Kalian mau ngasih aku kejutan seperti resepsi kemarin?"


Alana menatap satu persatu anggota keluarga yang sedang menunduk dengan mata memerah. Tak ada yang mampu mengeluarkan suara. Tiga bersaudara, hanya Alana yang sangat dekat dengan Om jelita.


Jika saja Alvi tak menahan tubuh Alana, mungkin tubuh berbadan tiga itu sudah ambruk kelantai.


"Aa katakan padaku ini semua hanya mimpi," lirih Alana dalam pelukan Alvi.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote. Mampir juga di novel baru dedek "Cinta dan masa Lalu."


__ADS_2