Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 131


__ADS_3

Makan siang penuh canda tawa dan di selingi obrolan ringan antara Alvi dan Ayah Kevin adalah hal yang patut di abadikan. Mereka berbicara layaknya tak pernah terjadi sesuatu, membuat Alana dan bunda Anin begitu bahagia.


Ayah Kevin sesekali bertanya tentang bagaimana Alvi mengurus perusahaan, bagaimana rencana kedepannya dengan sang putri.


"Kapan kalian akan berangkat?" tanya Ayah Kevin berhasil menghentikan aktivitas Alvi.


"Kurang lebih dua bulan, Yah," jawab Alvi.


Ayah kevin mengangguk mengerti. "Ayah punya rumah di sekitar Boston kalian tinggal di sana saja!"


Alvi melirik Alana sekilas, "Maaf Yah, bukannya Alvi menolak tawaran Ayah, tapi Alvi sudah membeli apartemen di sekitar Boston," tolak Alvi halus, pasalnya ia sudah mempersiapkan semunya jauh-jauh hari agar Alana nyaman tinggal di negara paman sam nanti.


"Sekarang fokus saja mengurus kuliah Alana, tidak usah terlalu memikirkan pekerjaan, ayah yang akan mengurus semuanya."


Usai makan siang bersama, Alana tak langsung pulang ke rumah, malainkan mengajak Alvi jalan-jalan sebentar untuk melepas penat setelah mengalami masalah sedikit serius.



"Dah Ayah, bunda," teriak Alana saat mobil sudah melaju perlahan-lahan meninggalkan pekarangan rumah yang begitu luas. Tujuan mereka adalah ke Kebagorin untuk panjat tebing.

__ADS_1


Awalnya Alvi setuju dengan ide gilanya, apa lagi kaki gadis itu sedikit sakit akibat pecahan kaca semalan, tapi bukan Alana namanya jika tidak keras kepala.


"Ke Mall aja gimana Al?" tawar Alvi.


"Is Aa mah, udah di bilangin aku mau panjat tebing."


"Bahaya sayang."


"Nggak Aa."


Perdebatan berlangsung selama perjalan hingga tak terasa mereka sudah sampai di Kebagorin. Tanpa memunggu Alvi, Alana langsung memasuki panjat tebing di mana sudah banyak orang di sana.


Mereka akan panjat tebing di tempat yang sama. sebelum mulai, Alana menyeringai pada Alvi yang kini berdiri di sampingnya.


"Mau taruhan nggak A?" tawar Alana sok-sok seperti pemanjat yang handal. "Siapa yang sampai terlebih dahulu adalah pemenangnya, yang kalah akan menuruti perkataan pemenang selama 24 jam?"


Alvi menyetujui tawaran Alana, bukan berarti ia ingin bertarung, tapi hanya ingin menyenangkan sang istri. Alvi bisa saja mendahului Alana, tapi kekhawatirannya jauh lebih besar membuatnya selalu berada di bawah gadis itu.


"Kenapa? kalau lelah kita turun." tanya Alvi saat Alana berhenti di tengah-tengah, mengatur nafas yang mulai tidak beraturan.

__ADS_1


"Enak aja, biar apa? biar Aa menang?" cibir Alana melanjutkan kegiatannya, mendahului Alvi.


Hampir mendekati finis, tangan dan kaki Alana sedikit tergelincir, membuat gadis itu terjatuh untungnya ada tali pengaman di tubuhnya. Walau begitu jantung Alvi hampir copot melihatnya.


"Udah sayang kita turun!" ajak Alvi.


"Dikit lagi Aa."


"Kamu menang, Aa yang kalah." mungkin begini lebih baik pikir Alvi, dari pada ia harus jantungan melihat sang istri.


Akhirnya Alana menyerah. Alvi mengamit pinggang Alana dan terjun kebawah bersama-sama. Setelahnya mereka istirahat sejenak dan makan sebelum pulang. Di sepanjang jalan, keheningan tercipta karena gadis ceria itu kini tertidur akibat kelelahan.


Alvi menghentikan mobilnya di suatu tempat, memperbaikin posisi tidur gadisnya agar lebih nyaman, tak lupa ia sedikit menurunkan sandaran kursi.


Ia mengecup pipi gadisnya, "Makin hari makin mengemaskan istri Aa," ujar Alvi gemes, lama memandangi wajah gadisnya sebelum melajukan mobilnya kembali.


Semua yang ada di tubuh gadisnya, begitu candu untuknya.


...TBC...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote.


__ADS_2