Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 111


__ADS_3

Alvi mengurungkan niatnya membuka pintu mobil ketika ponselnya berdering, ia menjawab panggilan dari Devan.


"Kenapa?" tanya Alvi sedikit ketus, harinya sudah sangat sial hari ini, bertengkar dengan Alana dan kelepasan membentak gadisnya hingga membuat Alana mendiamkannya.


Akhir-akhir ini ia kesusahan mengontrol emosi karena sedikit kewalahan dan stress memikirkan pekerjaan. Bulan ini ia harus merangkum nilai-nilai siswanya, belum lagi perusahaan Angel Fasion Group akan mengeluarkan produk baru.


"Gue udah kirim beberapa foto wanita untuk di jadikan model pada produk baru yang akan lo keluarkan."


"Nggak ada," jawab Alvi, dari semalam ia sibuk dengan ponsel juga laptopnya tapi tak ada pesan dari Devan.


"Nggak ada gimana? jelas-jelas gue ngirim ke ponsel pribadi lo,"


"Kambing, lo Van!" bentak Alvi setelah itu mumutuskan sambungan telfonnya.


Ia mengacak-acak rambutnya frustasi, jadi ini yang di maksud Alana? foto wanita seksi di ponselnya? seketika rasa bersalah bersarang di hatinya ketika membentak Alana tadi, bisa di pastikan gadis itu sangat marah padanya.


Dengan langkah lebar ia menyusul Alana keruangan dokter Dion, membuka pintu secara perlahan dan mendapati istrinya tengah berbincang dengan dokter Dion.


"Udah?" tanyanya ikut duduk di samping Alana.


Dokter Dion mengganguk, memberikan resep obat khusus untuk Alana.


"Jangan lupa terus mengonsumsi makanan sehat dan kaya akan serat, jangan putus asa." Dokter Dion memberi semangat, tetapi gadis yang biasanya antusias itu kini hanya menganguk paham tanpa banyak tanya seperti hari sebelumnya.


"Semangat juga buatnya tiap malam."


Krik...krik...krik

__ADS_1


Gurauan dokter Dion sangat garing, tak ada yang tertawa malahan tatapan tajam yang ia dapatkan.


"Makasih Dok," ujar Alana bangkit dari duduknya, berjalan terlebih dahulu tanpa menunggunya.


Alvi mensejajarkan langkahnya, meraih tangan Alana untuk ia genggam tapi gadis itu malah melepaskannya. Semakin dekat dengan parkiran Alvi berjalan terlebih dahulu membukakan pintu samping kemudian untuk Alana, tapi gadis itu malah membuka pintu jok belakang seperti saat mereka berangkat.


Perjalanan yang biasanya ramai akan celotehan gadis itu tak ada lagi. Kini hanya keheningan melanda.


Tak tahan lagi Alvi memulai pembicaraan.


"Mau makan dulu sebelum pulang?"


"Nggak," sahut Alana.


"Maafin Aa."


"Iya," singkat Alana.


Seharian Alana banyak diam, bicara seperlunya saja, itupun jika ia bertanya lebih dulu. Apapun yang ia minta dan perintahkan di lakukan Alana tanpa ada protes seperti sebelum-sebelumnya.


"Belajar dulu sayang!" ajak Alvi.


Mendengar ajakan Alvi, Alana langsung mempouse drama yang sedang ia tonton, lalu menyimpannya di atas nakas. Dengan patuh mengambil buku pelajaran kemudian duduk di karpet dengan Alvi.


"Alana udah ya, Aa minta maaf."


"Soalnya mana?" Menghiraukan perkatan Alvi barusan.

__ADS_1


Alvi menghela nafas panjang, mengambil dua lembar kertas yang telah ia isi dengan berbagai soal yang mungkin akan keluar di ujian sekolah besok walau tidak tepat seratus persen.


Menjelaskan apa-apa saja yang Alana tanyakan, membantu gadis itu mencari jika tidak menemukan jawabannya hingga soal-soal terjawab semua.


"Aa mau bicara," cegah Alvi ketika Alana hendak berdiri setelah memberekan semua buku pelajarannya.


"Aku ngantuk Aa."


"Sebentar aja," bujuk Alvi.


Alvi tersenyum ketika Alana kembali duduk setelah menyimpan buku pelajaran. Ia meraih kedua tangan gadis itu untuk ia genggam.


"Kenapa hari ini kamu sangat nurut, Hm?"


"Bukannya Aa suka kalau aku nurut gini?" tanya Alana balik.


"Maafin Aa karena bentak kamu pagi tadi. Dan tentang foto wanita seksi yang kamu lihat di ponsel Aa itu benar adanya."


Alana senyum sinis mendengar penuturan Alvi, kenapa baru sekarang laki-laki itu mengaku?


"Tapi Aa berani sumpah, Aa nggak tau sama sekali kalau foto itu ada di ponsel Aa. Aa baru tahu dari Devan tadi." Alvi menunduk lalu mencium jari jemari Alana. "Maafin Aa nggak beritahu kamu kalau Aa turun langsung cari model untuk produk baru perusahaan."


Alana menundukkan kepalanya tak sanggup menahan air matanya.


"Kenapa Aa nggak jelasin tadi dan langsung bentak aku? Salah jika aku cemburu kalau Aa mandangin wanita lain selain aku? aku sensitif tentang wanita A, karena aku sadar aku nggak bisa hamil, aku nggak sempurna," lirih Alana.


"Kamu nggak salah sayang, Aa yang salah karena susah ngontrol emosi."

__ADS_1


...TBC...


Jangan lupa like, komen, dan votenya ya akak cantik kesayangan Dedek.


__ADS_2