
Beberapa minggu setelah pertengkarannya dengan Alvi. Alana bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, walau kadang saat sendiri atau tengah malam ia merindukan sosok Alvi, mungkin karena ia mengandung anak laki-laki itu.
Sudah seminggu pula Alana tak mengunjungi dapur, hidungnya mulai sensitif dengan aroma, bahkan bau sabun juga parfum ia tidak suka. Walau tidak mual di pagi hari, tapi kantuk di sore hari selalu datang tanpa di undang, mau bagaimanapun keadaannya pasti ia tertidur.
Kehamilannya sudah di ketahui oleh ayah Kevin juga bunda Anin. Bahkan mereka tahu pertengkarannya dengan Alvi, tapi anehnya, Ayah Kevin bersikap tenang-tenang saja tak seperti sebelum-sebelumnya.
"Anak ayah ngelamunin apa pagi-pagi?" ujar Ayah Kevin yang datang tiba-tiba entah dari mana. "Cucu Opa udah makan, kan?"
"Udah Opa," jawab Alana menirukan suara anak kecil. "Datang jam berapa Yah?" tanya Alana, pasalnya pria paruh yang sedang memeluknya, semalam masih ada di luar kota.
"Subuh kayaknya," jawab ayah Kevin.
"Kok tiba-tiba?" tanya Alana lagi, harusnya pria paruh baya itu pulang dua hari lagi.
"Mau datang keresepsi Alvi malam nanti,"
"Aaa...Alvi?" gugup Alana.
"Hm, mau ikut?" tawar ayah Kevin.
"Boleh?"
Ayah Kevin menggangguk.
Karena rasa penasaran dengan sosok perempuan yang telah merebut Alvi darinya, ia menguatkan tekatnya akan datang keresepsi laki-laki itu walau hati taruhannya. Lama Ayah Kevin dan Alana bercerita di taman sembari berjemur, hingga akhirnya Alana memutuskan akan keluar jalan-jalan sebentar melepas penat.
Sesuai kesepatan sebelum berangkat, Alana harus pergi dengan mang Ucup demi keselamatan dirinya juga anaknya. Tanpa berniat membeli apapun, gadis itu terus berjalan mengelilingi Mall seorang diri. Alana menghampiri anak kecil yang sedang menangis di tengah keramaian, ia sedikit berjongkok
"Hay cantik, kok nangis, orang tua kamu mana?" sapa Alana sembari tersenyum, gemas melihat anak tiga tahun itu.
Anak kecil itu mengeleng dengan tangis yang semakin menjadi, memutar tubuhnya seperti mencari seseorang.
"Daddy," tangis anak kecil itu terus memanggil Daddynya.
Alana menghampus air mata anak mengemaskan itu, lalu meraih tangannya. "Ayo tante bantu nyari Daddy kamu."
"Benelan?"
__ADS_1
Baru saja akan beranjak seseorang memanggil namanya.
"Alana!" panggil pria itu sembari berjalan terburu-buru menghampiri Alana dan anak kecil di genggamannya.
"Daddy."
"Dito," ujar Alana berbarengan dengan anak kecil di sampingnya.
Mulut Alana mengangga tak percaya saat Dito langsung memeluk anak mengemaskan itu, lalu mencium pipinya.
"Daddy kan udah bilang jangan kemana-mana," omel Dito pada putrinya.
Ia belum menyadari keberadaan Alana, masih sibuk dengan putri kecilnya, sedari tadi ia mencari anaknya kemana-mana bahkan hampir mengumumkan telah kehilangan anak.
"Tante macia ya, udah nolongin Anala," ujar gadis mengemaskan itu.
"Sama-sama cantik,"
Deg.
Jantung Dito seakan berhenti berdetak mendengar suara gadis itu, gadis yang selama ini masih mengisi hatinya, ia mendongak menatap gadis di hadapannya, dan benar itu adalah Alana.
"Nggak nyangka bakal ketemu di sini, anak Lo?" tanya Alana masih tak percaya.
"Iya anak gue," jawab Dito.
"Gila sih, lo nikah nggak ngundang gue, istri lo mana?"
"Tante cantik namanya ciapa?" tanya gadis mengemaskan itu.
"Hay nama Tante, Alana sayang."
"Wah, cama dong."
"Sama," beo Alana tak mengerti, bukannya tadi namanya Anala? Ia menatap Dito.
"Namanya Alana sama kayak nama Lo."
__ADS_1
"Kok?"
"Itu karena gue nggak bisa dapetin lo Al, makanya gue beri nama anak Gue sama dengan nama Lo," batin Dito terus menatap Alana.
"Pengen aja, biar cantik kayak lo." jawab Dito. "Lo kesini sama siapa? pak Alvi?"
"Sendiri, lo udah makan? makan yuk, lapar nih gue," ajak Alana tak ingin membahas Alvi.
Akhirnya Dito dan Alana makan siang di restoran yang ada di Mall itu, bercerita banyak hal karena lama tidak bertemu. Sama seperti dulu, kecerewatan gadis itu tak pernah hilang, membuat Dito terus memandangi wajah cantik itu. Aura Alana sangat berbeda sekarang, sangat cantik dan sedikit anggung.
Bahkan Dito tanpa malu menjawab semua pertanyaan Alana, kemana istrinya berada, sejak kapan mereka kenal.
"Tega banget istri lo To, bisa-bisanya ninggalin anak semengemaskan Alana," sedih Alana mendengar cerita Dito.
"Tapi gue salut sama lo, nggak lari dari tanggung jawab," lanjut Alana mengangkat kedua jempolnya.
Usai makan siang, mereka berpisah di parkiran, Alana tak langsung pulang kerumah, ia malah menyuruh mang Ucup ke Anggel Fasion untuk mencari gaun yang pas untuknya malam nanti. Alana meruntuki kebodohannya saat berada di lobi perusahaan, ia lupa bahwa Alvi masih menjadi CEO di perusahaan ini. Melihat Alvi keluar dari Lift, buru-buru Alana berjalan keluar tak ingin Alvi melihatnya, tetapi sia-sia saat lelaki itu memanggil namanya. Demi menjaga wibawa Alvi sebagai CEO ia berhenti.
Alvi langsung melepas jasnya lalu melemparnya pada Hendri, kemudian memeluk tubuh mungil yang sangat ia rindukan. Malam setelah ia keluar dari rumah orang tua Alana, dirinya benar-benar hilang akses memasuki rumah itu lagi. Jadi ia hanya bisa bertemu dengan Alana saat gadis itu keluar rumah.
...****************...
Ada yang Rindu sama si Azka dan Salsa? kebetulan malam ini cerita Salsa dan Azka publish, jangan lupa di baca ya😊
Salsa Natasya Anjani, siswa pindahan dari bandung sangat bahagia ketika melihat lelaki yang selam ini ia cari satu sekolah dengannya. Tetapi kebahagiaan itu tak bertahan lama ketika sang cowok dengan tegas mengatakan tak mengenalinya dan memintanya menjauh.
Patah hati yang Salsa rasakan berhasil di sembuhkan dengan kehadiran Azka di hidupnya. Benih-benih cinta tumbuh di antara mereka. Masa SMA yang indah mereka lalui bersama, hingga kenyataan pahit membuat hubungan yang seharusnya indah harus kandas.
Bukan hanya Salsa, bahkan Azka sama kagetnya ketika mengetahui kenyataan bawah detektif yang Ia bunuh dua tahun yang lalu adalah ayah dari gadis yang sangat ia cintai.
Akankah Salsa menerima Azka dan melupakan masa lalu lelaki itu? Ataukah ia memilih menjauh demi menghargai mendiang sang ayah, dan mengorbankan cintanya?
__ADS_1