Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 33


__ADS_3

Mata yang semula tertutup, kembali terbuka kala merasakan tempat tidur di sampingnya terus bergerak menandakan bahwa gadis di sampingnya belum tidur.


"Kenapa belum tidur?" tanya Alvi.


Alana berhenti bergerak, kemudian tidur menyamping menghadap Alvi.


"Nggak bisa tidur pakai Bra..." lirih Alana hampir tak terdengar. Merasa malu mengatakan hal tersebut di depan Alvi.


"Yaudah di lepas saja, daripada nggak nyaman." santai Alvi kembali memejamkan matanya, tanpa memperdulikan ekspersi Alana yang kini matanya hampir melopat keluar mendengar perkataanya.


Emang salah jika Alvi menyuruh Alana melepaskannya? bukankah gadis tersbut sendiri yang mengatakan tidak nyaman.


"Ngadep sana jangan ngintip!" perintah Alana mendorong tubuh kekar Alvi agar membelakanginya.


Rasanya sangat lega setelah dia melapas Bra yang di pakainya, memang dari dulu Alana selalu tidak memakai Bra jika tidur. Alana memandangi punggung kekar Alvi, muncul satu pertanyaan di otaknya, apakah benar dugaannya bahwa suaminya itu?


"Pak Alvi belok ya?" akhirnya pertanyaan tersebut keluar dari mulutnya.


Mendengar pertanyaan sang istri, Alvi berbalik dan memandangi wajah polos Alana tanpa lapisan Make up, bibir merah merekah. Ah dia jadi ingat saat di acara resepsi tadi, bagaimana Alana mencium bibirnya di depan tamu undangan.


"Nggak, apa kamu tidak lelah jika saya terkam sekarang?" tanya Alvi santai.


Alana menelan ludahnya, pertanyaannya sunguh menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Dia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, meruntuki mulut lemesnya, tidak bisa di kondisikan membuat malu saja.


"Ng...maksud...."


"Tudurlah!" potong Alvi setengah bangun lalu mendekati tubuh mungil istrinya, menjulurkan tangannya melewati hidung mancung Alana. Jantung Alana semakin tidak terkendali saat merasakan hembusan nafas Alvi menerpa kulitnya, bahkan dia bisa mencium lengan bagian dalam Alvi sakin dekatnya.


"Pak Alvi." cicit Alana.


"Tidurlah! saya hanya ingin mematikan lampu." jawab Alvi kemudian kembali ke tempat semula setelah menekan saklar di dekat kepala Alana.


Dengan penuh kehati-hatian Alvi memindahkan lengan dan kaki mulus Alana dari tubuhnya kala mendegar adzan subuh berkumandang. Jadi ini yang di maksud bunda Anin semalam?


Semoga kamu bisa sabar menghadapi Alana apa lagi jika sedang tidur.


Ternyata yang di maksud bunda Anin adalah cara tidur Alana yang seperti gasing berputar tanpa memperdulikan sekitarnya. Di tariknya selimut menutupi tubuh Alana yang menggoda iman, apa lagi saat Alvi melihat kaki baju piyama Alana tesingkap memperlihatkan perut rata dan mulus milik istrinya.

__ADS_1


Inilah salah satu alasan Alvi mengapa tidak ingin berjanji pada Ayah Kevin. Dia juga laki-laki normal, akan sulit mengendalikan dirinya jika berada satu kamar dengan lawan jenis, apa lagi gadis tersebut sudah halal baginya. Alvi masih ingat apa yang di katakan Ayah Kevin beberapa hari sebelum pesta.


"Berjanjilah untuk tidak menghamili anak saya sampai pendidikannya selesai!" ujar Ayah Kevin serius.


Alvi sedikit tertegung dan tidak terima perkataan calon ayah mertuanya, dan memberanikan diri mengeluarkan suara.


"Saya tidak bisa janji pak, saya juga laki-laki normal pak!"


Di luar dugaan, respon ayah Kevin, bukannya marah, Ayah Kevin malah terbahak-bahak dan baru kali ini Alvi melihatnya, ternyata pria paruh baya tersebut tidak seseram yang dia bayangkan.


Ayah Kevin menepuk pundak Alvi. "Sesuai dugaan, kamu memang pemberani anak muda. Saya tidak salah memilih kamu." ujar Ayah Kevin. Baru kali ini dia menemukan pemuda yang berani membatahnya, bahkan Azka dan keponakannya yang lain selalu mengiyakan perintahnya. Alvi pria yang tepat untuk menjaga putri tersayangnya.


"Saya menyuruhmu untuk tidak menghamilinya, bukan melarangmu untuk menyentuhnya, itu hak kamu jika sudah menjadi suaminya."


Seulas senyum tipis terbit di bibir tebal Alvi saat mengingat pembicaraan konyolnya bersama ayah mertuanya.


Alvi kemabali menghampiri ranjang setelah mandi untuk menunaikn sholat subuh, dia berniat membangungkan Alana yang masih telelap.


"Alana!"


"Lima menit lagi bunda."


Mata Alana perlahan-lahan terbuka kala menyadari itu bukan suara bunda nya, melainkan suara seorang pria. Dia menyipitkan matanya mencoba mencari tahu siapa pria yang berani masuk kedalam kamarnya, pria yang berhasil menerobos keamanan rumahnya tanpa cedera masuk kedalam kamarnya.


Rambut basah, bibir tebal ah kenapa pria di depannya sangat tampan, malaikat dari mana yang mampir subuh-subuh kedalam kamarnya. Di perhatikannya lebih lama dan kaget mengetahui pria di depannya.


"Pak Alvi!" kagetya dengan mata membulat sempurna. "Ngapain di kamar saya."


"Saya suami kamu." ujar Alvi datar.


"Suami?" beo Alana yang lupa bahwa mereka sudah menikah, jadi dia tidak mimpi? semuanya nyata? Alana menyenggir, mengaruk kepanya yang tidak gatal sama sekali.


"Heheheh, lupa pak."


***


Sudah lama Alana tidak sarapan bersama dengan keluarga ayahnya, dan kini mereka kembali sarapan bersama dengan satu tambahan anggota baru yaitu Alvi. Karena tidak tahu harus melakukan apa, Alana hanya mengikuti apa yang di lakukan Bunda Anin dan tante Fany, yaitu menyiapkan sarapan untuk suaminya.

__ADS_1


Bunda Anin tersenyum melihat inisiatif Alana melayani Alvi, baiklah awal yang baik pikir Anin, dia berharap semoga anaknya bahagia dengan hidup barunya.


"Ini cukup pak?" tanya Alana menyodorkan sepiring roti bakar yang telah dia olesi selai coklat, walau Alana tidak tahu apa Alvi menyukai selai atau tidak.


"Hm."


"Duh manis banget sih pengantin baru ini." goda tanten Fany. "Jadi pengen cepat-cepat punya mantu juga." lanjut tante Fany melirik Samuel yang kini sibuk melahap sarapannya.


"Emang kutub utara nya om Daren mau sama perempuan." sindir Alana sembari melahap roti bakarnya.


Semua yang ada di maja makan tergelak, kecuali Samuel dan Alvi tentunya.


"Sayang, Alvi sekarang udah jadi suami kamu, ganti panggilannya ya, nggak sopan manggil bapak." nasehat bunda Anin.


Bukannya menjawab, Alana malah tersipu mendengar kata suami, benarkah sekarang dia punya suami dan sudah menjadi seorang istri? Alana masih belum percaya semuanya, semuanya terlalu cepat.


Dengan inisiatif sendiri Alana memanggil Alvi dengan sebutan.


"Aa." terdengar lucu menurutnya dan dia suka mendengarnya.


Uhuk


Alvi tersedak kala mendengar panggilan Alana yang tiba-tiba berubah, semoga tidak ada yang melihat perubahan warna telinganya, sudah di pastikan memerah, karena kini telinganya terasa panas.


"Kamu nggak papa sayang?" tanya bunda Anin khawatir, sementara Alana refleks mengambil segelas susu lalu memberikannya pada Alvi.


"Kamu hanya boleh manggil sayang cuma sama mas!" kesal Kevin yang tidak suka mendengar panggilan sayang istrinya tertuju pada orang lain, baik menantunya sekalipun.


"Mas, dia menantu kita."


"Tetap saja dia laki-laki."


Alvi dan Alana hanya bisa mengulum senyum melihat keposesifan Ayah Kevin pada bunda Anin.


"Camburuan amat kak." cibir Daren yang diam sedari tadi.


"Lah aku wajar cemburu sama menantu ada faedahnya, dari pada kamu cemburu sama anak sendiri." sindir Kevin membuat gelak tawa kembali terdengar.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2