
Alana, gadis berambut indah tersebut menuruni satu perasatu anak tangga setelah melepas rindu dengan bunda tercinta dan menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, ia melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menemui sang suami. Tetapi yang di cari tidak ada di sana.
"Bi, Aa mana?" Alana mendudukkan diri di meja makan, di mana ada sepiring spageti di depannya. "Ini yang bikin Aa kan bi?"
"Eh si Eneng, Iya Neng, Tuan yang bikin." sahut bi Neneng sembari merapikan kembali peralatan dapur yang telah di pakai Alvi tadi.
"Aa nya mana?"
"Di ruang kerjanya Neng."
Alana hanya mengangukkan kepalanya, hendak menyuapkan spageti ke dalam mulutnya, namun gerakan tangan mungil itu terhenti ketika melihat noda darah di sekitar tempat sampah.
"Darah siapa bi?" selidiknya.
Bi Neneng menatap Alana, kemudian mengikuti arah tatapan gadis itu.
"Darah Tuan, Neng, tadi nggak sengaja terkena beling."
Mendegar jawaban Bi Neneng, Mood makan Alana tiba-tiba menghilang, ia bangkit dari duduknya, kenapa ia bisa seceroboh ini sih, tangan suaminya saja yang luka ia tidak tahu.
"Neng makanannya di habisin kata Tuan."
Gadis itu tak menyahut terus berjalan ke arah tangga lalu belok sedikit menuju ruangan Alvi, ia membuka pintu perlahan-lahan dan mendapati lelaki itu tengah mengerjakan sesuatu dengan laptopnya.
"Tangan Aa luka?" Alana meraih tangan kanan Alvi, di sana masih terdapat becak merah dan goresan yang cukup dalam.
Bukannya menjawab Alvi malah menarik Alana duduk di pangkuannya. "Udah makan?"
"Kenapa Aa nggak ngomong sama aku kalau tangan Aa luka? kenapa juga harus masak." Omel Alana meraih kotak p3k yang masih tersedia di atas meja kerja Alvi. Mungkin Alvi belum sempat mengembalikannya.
"Nggak sakit, cuma ke gores doang."
"Nggik sikit, cimi ki girid diing." cibir Alana kembali membersihkan luka di tangan Alvi dengan Alkohol, lalu meneteskannya obat merah, setelah itu memberinya perban.
Ia mencium tangan lelaki itu dengan mata berkaca-kaca. Alvi selalu tahu rasa sakitnya, tapi ia, hanya luka tangan saja, jika bukan orang lain yang memberitahu ia tidak akan tahu.
"Jangan gini lagi Aa, kalau Aa luka jangan sembunyin dari aku, aku istri kamu."
"Iya, udah jangan nangis, nanti cantiknya hilang." Alvi menghapus air mata Alana dengan ibu jarinya, memperbaiki posisi duduknya, agar gadis berambut indah tersebut tidak terjatuh di atas pangkuannya.
__ADS_1
"Kok bisa kena beling?" selidik Alana menatap mata Elang Alvi namun yang di tatap tidak membalas, dan fokus pada objek lain.
Alvi tidak mau Alana melihat rasa kecewa di matanya.
"Aa." Alana menangkup kedua rahang Alvi agar mata Elang itu membalasnya, namun lelaki itu malah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alana.
"Kamu sudah makan?"
"Belum, nggak mood pas tahu tangan Aa luka."
"Makan dulu Al, udah hampir sore ini."
"Jangan di jilat Aa." Alana mendorong pundak Alvi ketika lidah lelaki itu mulai nakal di ceruk lehernya. "Aa belum makan juga kan?" selidik Alana.
"Hm."
"Yaudah kita makan bareng, aku yang suapin Aa."
Alvi senyum tipis mendegar perkataan gadisnya. "Suap pakai mulut tapi." ia mengedipkan mata genit, membuat tangan mungil Alana mendarat mulus di perutnya.
"Nggak usah mesum." gemas Alana mencubit roti sobak Alvi, bukannya meringis lelaki itu malah tertawa.
"Aa mau ke mana?"
"Mau nyuruh bibi ngambil makanan."
Bukannya menganguk Alana malah mencebik. "Aa jangan keseringan nyuruh bibi, kalau kita masih bisa lakukan, dia bukan pembatu di rumah ini. Bi Neneng cuma bantu-bantu aku, yang artinya cuma mengerjakan apa yang aku tidak bisa." jelas Alana tidak suka jika wanita paruh baya seperti bi Neneng terlau kelelahan.
Ia di ajarkan oleh bundanya tidak membedakan seseorang dengan kasta. Gadis berambut indah tersebut tidak pernah menyuruh bi Neneng mengerjakan hal-hal yang bisa ia kerjakan sendiri. Mengambil makanan, air minum, mencuci pakaian dalam mereka berdua, dan membereskan kamar, selalu ia kerjakan sendiri. Itu bentuk hormatnya.
"Duduk!" Alana menarik tangan Alvi agar duduk di sampingnya. "Biar aku yang ambil." bukannya pergi ia memicingkan matanya menatap lelaki di sampingnya. "Apa selama ini yang buat susu setiap malam buat aku itu bibi?"
Alvi mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, jika boleh jujur ia sering menyuruh bi Neneng.
"Sesekali doang Al. Tapi percaya sama Aa, susu yang tiap hari Aa minum usaha aa sendiri kok."
"Aa sering minum susu?" tanya Alana, pasalnya ia tidak pernah melihat Alvi minum susu jika mau tidur seperti dirinya.
"Hm, dari sumbernya langsung." Alvi mengulum senyum melihat kebingungan Alana. Ia bringsuk semakin dekat dengan tubuh gadisnya, sembari menyeringai ia kembali membuka suara.
__ADS_1
"Mau bukti, Hm?" tangan kekar Alvi mulai menelusup masuk ke dalam tak top yang Alana kenakan, membuat gadis itu tersentak dan baru tersadar akan pikiran mesum suaminya, oh jadi yang di maksud Alvi, dari sumbernya itu...ah sudahlah.
Plak!!!
Alana menabok tangan Alvi agar keluar dari tempat persembunyianya "Nggak usah mesum ya."
Alvi hanya terkekeh, melihat wajah kesal istrinya.
Setelah makan siang yang di laksanakan di sore hari, tentu saja banyak drama di dalamnya, di mana Alvi benar-benar meminta suapan dari mulut gadisnya, untung mereka makan di dalam ruang kerja Alvi, hingga Alana tidak terlalu malu menuruti kemauan sang suami yang tiba-tiba gesrek dan mesum.
Mereka kini berada di kamar.
"Siap-siap sekarang aja." perintah Alvi, namun gadisnyan malah termenung di tepi ranjang, dengan kaki nenjuntai ke lantai.
Alvi mengajaknya ke pesta pernikahan Alvaro Antarakna, Ceo Antarakna Grup salah satu rekan kerja lelaki itu, tapi yang menjadi masalah di sini, ia tidak punya persiapan apapun, karena ajakan tiba-tiba kulkas 2 pintu yang kini sudah siap dengan setelan jasnya.
"Kenapa tiba-tiba sih A, aku kan nggak punya baju."
Alvi melonggo mendengar keluhan sang istri, terus satu lemari besar di dalam kamar mereka isinya apa? sampah? masih banyak baju di dalam lemari putih itu, mengantung rapi terbungkus plastik.
Ia berjalan ke arah lemari kemudian membukanya lebar-lebar. "Lalu ini apa sayang?" gemes Alvi.
"Hais...Aa tuh nggak ngerti perasaan perempuan. Hampir semua baju itu sudah aku pakai, masa ia di pakai lagi, mana aku mau foto-foto terus post di Ig." gerutu Alana. "Mau beli udah kepepet lagi, ini semua gara-gara Aa, jadi males pergi."
"Sayang!" bujuk Alvi.
"Iya Aa sayang apa? aa punya solusi?"
"Telfon tante Fany, dia penata busana terkenal, pasti tahu baju apa yang cocok buat kamu pakai."
Senyum Alana seketika mengembang, kenapa ia melupakan fakta itu, ia kan di kelilingi orang-orang berbakat, bundanya seorang desainer, dan tantenya penata busana.
"Aa pinter banget sih." Memeluk tubuh lelaki itu. "Love...love sekebun bunga Aa sayang."
...TBC...
Ada yang tahu siapa Fany? yang belum tahu yuk mampir lah ke cerita ini. Daren dan Fany orang tua dari Samuel.
__ADS_1