Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 45


__ADS_3

Alvi. Guru kimia yang terkenal kiler tersebut, tak henti-hentinya memandangi benda pipih di atas meja, menunggu balasan dari seseorang.


Alana : Pulang bareng saya!


Ia kembali mengulum senyum saat melihat centang dua berwarna biru, tak lama kemudian balasan masuk ke ponselnya.


My Husband : Assiap Kapten🄰.


Tanpa sadar kelakuannya tak luput dari seorang wanita di seberang meja tak jauh darinya. Wanita yang selalu mengejar-ejarnya namun mundur alon-alon kala mengetahui statusnya sudah menjadi suami orang.


"Kelihatan bahagia banget pak." Celetuk ibu Rita. "Nggak heran sih, gadis seceria Alana bisa luluhin gunung es." Lanjut ibu Rita di sertai kekehan kecil.


Alvi hanya menangapi gurauan ibu Rita dengan senyum tipis. Ia akui memang dirinya sebelum dan setelah mengenal Alana jauh berbeda. Lebih hangat, dan lebih perhatian, tentu saja hanya berlaku untuk istri kecilnya. Sikapnya tetap dingin pada yang lain.


Entahlah setelah kejadin semalam, ia lebih banyak tersenyum jika melihat Alana. Dan tatapannya selalu tertuju pada bibir manis gadis berambut indah tersebut, bibir yang membuatnya candu selalu ingin menyesapnya tanpa bosan.


"Langsung pulang A?" tanya Alana setelah berada di dalam mobil Alvi.


"Mau jalan dulu?"


Alana mengeleng lalu meraih tangan kanan Alvi kemudian menciumnya. "Kata bunda Alana harus lakuin ini sama suami Alana." Ujarnya.


Sudut bibir Alvi kembali terangkat, namun belum mengeluarkan suara apapun.


"Respon ayah kamu?" pancing Alvi.


"Serius Aa mau tahu?" Gadis tersebut duduk menghadap Alvi.


"Hm."


"Nyium kening bunda."


Mendegar jawaban Alana, Alvi mencondongkan tubuhnya lalu mengecup kening gadis berambut indah tersebut. "Seperti ini?"


"Iya," malu Alana menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangan mungilnya.


Yey...yey perjuangannya selama ini tidak sia-sia, ia berhasil menghancurkan benteng kokoh dalam diri seorang Alvi. Guru kimia menyebalkan saat petama kali mereka bertemu kini menjadi suaminya, ah sungguh jodoh tidak ada yang tahu.


Wajah malu-malu Alana sangat mengemaskan di mata Alvi. Ah ia tidak sabar melihat respon gadis berambut indah tersebut setelah melihat kejutan yang ia siapkan.


"Aa ini bukan jalan ke rumah," protes Alana saat menyadari mobil Alvi melaju berlawanan arah dengan apartemen mereka.


"Hm."


"Aa mau ajak aku jalan-jalan?"


"Hm."


"Dahla malas ngomong sama Aa, dinginnya mode on," cibir Alana menyandarkan tubuhnya serileks mungkin, memerhatikan gedung-gedung pencakar langit yang ia lewati.


Mobil Alvi mamasuki kawasan kompleks Elit, di dalamnya terdapat rumah sederhana namun terlihat mewah dan elegan. Mobil sport tersebut berhenti di depan rumah sederhana tingkat dua.

__ADS_1


Ia turun dari mobil, berlari kecil memutari mobil tersebut lalu membukakan pintu untuk Alana. Sementara sang gadis tak mengatakan apapun, hanya menatap kagum pada rumah di depannya, rumah sederhana namun terlihat sangat cantik di matanya. Rumah impiannya sejak dulu setelah ia menikah.



"Ini rumah siapa A?" tanyanya pada Alvi.


"Rumah kita."


"Really?" pekik Alana tak percaya.


"Mau masuk sekarang?"


Alana menganguk antusias, berjalan memasuki pekarangan rumah lalu berhenti tepat di depan pintu utama, menunggu Alvi membuka pintu.


"Kenapa nggak di buka?" tanya Alvi.


"Nggak tau sandinya A." Jawab Alana, secara ruamah tersebut di kuci pakai sandi.


"Tanggal pernikahan kita."


Sontak senyum Alana mengembang, ah romantis sekali pikirnya, setelah membeli rumah baru, kini sandi rumahnya juga tanggal pernikahan mereka, bukannya membuka pintu ia malah memeluk tubuh kekar di sampinya.


"Makasih Aa sayang."


"Ulangi!" perintah Alvi. Tidak cukup ransanya hanya mendegar kata itu keluar sekali saja dari mulut Alana, ia ingin mendengarnya berkali-kali.


"Nggak mau, wle." Gadis berambut indah tersebut berjalan masuk menelusuri sudut rumah setelah Alvi membukanya.


"Panggil Apa?" Alana mengulum senyum.


"Sayang."


"Iya apa sayang?" ujar Alana dengan nada selembut mungkin.


Gadis berambut indah tersebut selalu bisa membuat Alvi tidak berkutik.


"Cie...cie... wafer, sampai merah telinganya." Goda Alana.


"Alana!" malu Alvi.


"Apa sayang?"


"Stop Al."


"Sayang."


"Sayang."


"Sayang," rengek Alana bergelayut manja di lengan Alvi. "Itukan yang Aa mau."


***

__ADS_1


Ternyata kepindahan Alvi kerumah baru sudah di rencanakan jauh-jauh hari tanpa sepengetahuan Alana, terbukti semua barang-barang gadis berambut indah tersebut sudah tersusun rapi di dalam kamar utama. Mulai dari buku pelajaran, Skincare, hingga pakaian.


Setelah membersihkan diri ia ikut duduk di samping Alvi yang kini sedang fokus memandagi laptopnya.


"Aa."


"Hm."


"Aku mau..." Ucapan Alana mengantung di udara kala mendengar ponsel Alvi berdering.


"Mau apa, Hm?" tanya Alvi menghiraukan panggilan masuk di ponselnya, lebih memilih objek yang lebih menarik.


"Angkat dulu itu, ntar penting lagi."


Tak ingin berdebat, Alvi meraih ponselnya lalu menjawab panggilan dari asistennya di perusahaan. Raut wajah pria tersebut, tiba-tiba berubah datar. Ia bangkit dari duduknya merapikan kemeja yang ia pakai.


"Al tolong ambilin jas saya."


Dengan sigap Alana berlari menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar untuk mengambil jas yang di minta Alvi, kemudian memasangkannya pada pria yang tiba-tiba sibuk dengan ponselnya.


"Nggak papa saya tinggal sendiri?"


Alana mengeleng. "Nggak papa A."


"Nanti ada paket yang datang, kamu terima yah! nggak usah di buka nanti biar orang suruhan saya yang beresin." peringatan Alvi sebelum pergi, tak ingin Alana kelelahan hanya untuk menyusun barang-barangnya dari rumah utama.


Beberapa menit setelah kepergian Alvi, paket yang di maksud guru kimia tersebut datang, tanpa banyak tanya Alana menerimanya, lalu mendorong dus besar itu ke ruang tamu. Penasaran dengan isinya gadis berambut indah tersebut membukanya.


Senyum Alana merekah sudah tidak di ragukan lagi kepintaran Alvi, melihat berbagai macam piala ada di dalam dus besar tersebut, beberapa buku penelitian, juga sejarah ada di sana. Namun perhatiannya berhenti pada sebuah Album foto berwarna biru pudar.


Ia membuka lembaran pertama dan menemukan foto Alvi kecil.



"Gemes banget," gereget Alana memandagi foto Alvi kecil.


Ia senyum-senyum sendiri, pikirannya melanglang buana jauh ke masa depan. "Gambaran anak gue sama Aa nanti nih." gumamnya.


Tidak sampai di situ saja, ia kembali membuka lembaran berikutnya, sama, foto Alvi kecil yang imut-imut tidak seperti sekarang.


"Kecilnya imut tambah gemes, besarnya meresahkan bikin jatung nggak aman." Ujarnya greget sendiri.


Namun pergerakan tangannya berhenti pada sebuah foto keluarga, hanya dua orang yang dapat Alana kenali di sana Alvi dan kakek Farhan.


Sepasang manusia yang berdiri di belakang Alvi dan Kakek Farhan mungkin orang tua Alvi. Alana mengerutkan keningnya, kenapa foto seorang wanita di belakang Alvi di coret-coret?


Penasaran, ia kembali membuka lembaran selanjutnya, hasilnya sama, semua foto wanita tersebut di coret-coret bahkan ada yang sengaja di robek.


"Siapa sebenarnya wanita itu?" gumam Alana bertanya pada dirinya sendiri.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2