Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 112


__ADS_3

Pertama kali dalam hidupnya setelah menikah, Alana tidak membangunkannya untuk shalat subuh berjamaah dan itu membuat Alvi sedikit aneh dengan sikap istrinya. Bunkah semalam ia sudah menjelaskan semuanya? Alana juga sudah bersikap biasa-biasa saja.


"Sayang!" panggil Alvi tetapi tak ada sahutan apapun, ia turun dari ranjang mencari istrinya di dalam kamar, nihil ia tidak menemukan keberadaan gadis itu.


Usai melaksanakan shalat subuh, Alvi berjalan keluar kamar untuk mencari keberadaan istrinya, baru saja keluar dari Lift suaranya mengema memenuhi rumah hanya untuk memanggil Alana.


Ia tersenyum ketika Alana menyahut dari arah dapur, tanpa menungu lama ia menghampiri gadisnya yang sedang menyiapkan makanan.


"Ngapain teriak-teriak Aa?" tanya Alana tanpa menoleh masih sibuk membuat sarapan untuk Alvi dan dirinya.


"Kenapa nggak bagunin Aa? kamu masih marah?" Alvi mendekat memeluk gadisnya dari belakang, menumpu dagunya pada pundak Alana.


"Udah, tapi Aa nggak bangun nyenyak banget tidurnya. Nggak tega bangunin juga muka Aa keliatan sangat lelah, banyak kerjaan ya?"


"Hm."


Saat Alana berbalik Alvi tak menyia-nyiakan kesempatan menyambar bibir manis Alana dan meluma*tnya.


"Aa ada bi Neneng," lirih Alana


"Maaf Pak, maaf nyonya," ujar bi Neneng tak enak.


Alvi pergi begitu saja meninggalkan Alana di dapur, sementara gadis itu salah tingkah sendiri dengan wajah yang memanas menahan malu kedapatan berbuat mesum di dapur.


"Nggak papa bi," sahut Alana salting sendiri. "Tolong di lanjut ya Bi."


"Iya Neng."

__ADS_1


Alana menyusul Alvi kekamar, baru saja menutup pintuh tubuhnya di tarik oleh seseorang, menghimpitnya tepat di belakang pintu.


Mata gadis itu membulat sempurna ketika Alvi kembali memulai aksinya, mengabsen setiap inci rongga mulutnya, ia hampir kehabisan nafas saat Alvi bermain di area leher juga telinganya.


Terbawa akan suasana yang Alvi ciptakan, Alana hanyut dalam permainan, ikut menikmati setiap sentuhan lembut Alvi hingga tak sadar kini tubuhnya sudah berada di atas ranjang.


Saru persatu pakaian yang ada si tubuhnya juga tubuh Alvi terlepas. Alvi selalu bisa membawanya terbang ke angkasa mencapai kenikmatan tiada tara. Lelaki itu ambruk di tas tubuhnya setelah membuatnya terbang.


Ia mengelus rambut lebat Alvi degan senyuman. "Udah sehat nih habis isi daya?" gurau Alana.


"Again!"


"Next time Aa sayang, udah setengah enam pagi."


Alvi merosotkan tubuhnya mendengar jawaban Alana, padahal ia masih ingin.


"Bangun sayang!" Lembut Alvi membangunkan Alana yang harus segera bersiap ke sekolah.


Tak ada resoon, Alvi mengelus pundak hingga lengan mulus gadisnya, sekali-kali mengecup tulang selangka Alana.


"Masih ngantuk," gumam Alana mengeliat merubah posisi tidurnya menghadap Alvi lalu memeluk lelaki itu dengan sangat erat.


Alvi mengembangkan senyumnya, memainkan rambut indah Alana. "Udah jam delapan sayang."


"Lima menit lagi Aa."


Senyum Alvi semakin lebar melihat wajah Alana yang sangat mengemaskan pelan-pelan ia melepas pelukan gadis itu, bergeser meraih sesuatu di lantai untuk ia pakai.

__ADS_1


Sebelum bangun, Alvi terlebih dahulu mencium perut rata gadisnya lalu membisikkan sesuatu di sana. "Cepatlah hadir malaikat kecil, biar Mommy nggak sedih lagi."


"Aku nggak bakal sedih lagi A, aku yakin rencana Allah jauh lebih baik." ujar Alana ketika Alvi sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


Sembari menungu Alvi selesai mandi, Alana membereskan tempat tidur juga menyiapkan keperluan lelaki itu untuk ke sekolah. Untung saja Alvi dan dirinya masing-masing mendapat sesi kedua.


Melihat Alvi keluar dari kamar mandi, Alana menepuk tempat di sampingnya.


Alana mengeringkan rambut Alvi seperti biasa dengan sedikit omelan. "Rambut Aa cepat banget tumbuh kayak tanaman aja." Alana ngedumel.


"Pulang sekolah kita ke salon!"


"Mau ngapain?" tanya Alvi


"Mau makan bakso."


"Oh makan bakso." Alvi mengulum senyum berjalan kearah lemari, menyiapkan telinga karena sebentar lagi akan ada ledakan.


"Alvino!" Benar saja suara Alana mengema di dalam kamar, mungkin jika di film-film kepalanya sudah mengeluarkan asap sakin kesalnya.


"Dalem sayang."


"Nyebelin," gerut Alana.


...TBC...


Jangan lupa komen, Vote, dan Like nya akak tersayang Dedek.

__ADS_1


__ADS_2