
"Kamu kira Alvi cinta sama kamu? dia hanya memposisikan dirinya sebagai pria yang harus bertanggung jawab. Impian nya adalah menjadi seorang Master sebelum usianya 35 tahun. Pandangannya tentang dunia hanya tentang kimia dan penelitian."
Tak sanggup lagi mendengarkan ocehan tak berfaedah Tania, Alana bangkit dari duduknya.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya Mis. Saya tahu usia mis jauh lebih tua, tapi saya lebih tahu tentang lika-liku pernikahan, karena saya sudah menjalaninya, sementara mis?" Alana senyum sinis. "Masih duduk di sini, dan memprovokasi istri seseorang untuk meninggalkan suaminya. Sayang sekali, padahal masih muda."
Setelah mengatakan itu, Alana meninggalkan mis Tania yang entah sedang apa. Jangan pikir Alana perempuan yang mudah di tindas begitu saja. Dia anak Alfarezi Kevindra Adhitama, pria arogan dengan mulutnya yang sangat tajam, dan dalam diri Alana mengalir darah itu.
***
Sembari nunggu suami tercinta pulang dari kantor, Alana membantu bi Neneng menyiapkan makan malam. Berbincang-bincang layaknya anak dan Ibu. Seperti biasanya, Alana hanya membantu bi Neneng menyiapkan bahan-bahan, takut mengacaukan jika turun tangan memasak.
"Bi kalau nanti Saya pergi, jaga rumah baik-baik ya."
"Siap Neng. Neng Alana kapan berangkat?"
"Kurang lebih satu bulan lagi bi, jangan kangen ya." canda Alana, membuat bibi Neneng tertawa.
Keduanya sibuk bercerita tanpa menyadari kehadiran Alvi di ambang pintu yang terus memandangi gadisnya dari belakang.
Alvi mengode bi Neneng agar tetap diam, dan menyuruh wanita paruh baya itu meninggalkan dapur. Barulah Alvi mendekat dan langsung memeluk Alana dari belakang.
"Ais Aa ngagetin ih, kalau aku jantungan gimana?" Memengan tangan kekar Alvi yang kini melingkar di perutnya.
"Kok tau kalau Aa yang meluk." bisik Alvi.
__ADS_1
"Aromanya khas banget. Jangankan meluk gini, dengar suara tarikan nafas Aa aja aku udah bisa nebak."
"Ngegombal nih ceritanya?" membenamkan bibirnya di ceruk leher Alana.
"Dih pede banget pengen di gombal."
Alana membalik tubuhnya, lalu mengecup bibir tebal Alvi tak lupa mencium punggung tangan sang suami. "Sekarang Aa ke kamar, mandi atau ganti baju!"
"Bibi!"
"Kok manggil bibi?" bingung Alana.
"Iya Tuan." Bi Neneng datang tergepoh-gopoh dengan satu asisten rumah tangga lagi.
Usai mengatakan itu, Alvi mengendong Alana masuk ke kamar, menurunkan gadis itu di sofa.
"Nggak usah ke dapur, kalau tangan kamu kena pisau gimana? Belum cukup tiga asisten rumah tangga? masih mau tambah?"
"Dih sok kaya," cibir Alana. "Sana mandi, Aku mau nanya sesuatu sama Aa." Mendorong Alvi agar lekas masuk ke kamar mandi.
"Sekarang aja." Duduk di samping Alana.
Alana merengut, belakangan ini Alvi malasnya bikin ngucap, malas bangun pagi, malas mandi, dan suka ngatur seenaknya. Sebenarnya Alana ragu menanyakan ini pada Alvi, takut jawaban yang dilontarkan laki-laki itu sama persis dengan yang di katakan mis Tania tadi.
"Mau nanya apa sayang?"
__ADS_1
"Impian Aa apa?"
"Kenapa tiba-tiba nanya?" bingung Alvi.
"Pengen tau aja, emang nggak boleh?"
"Mendapat gelar Master sebelum usia Aa 35 tahun."
Alana semakin ragu menanyakan pertanyaan selanjutnya, takut sakit hati dengan jawaban Alvi.
"Kesan atau pandangan Aa tentang dunia ini apa?" lirih Alana.
"Bertemu denganmu adalah hal yang sangat membahagiakan buat Aa."
"Ada lagi?"
Alana mengeleng, langsung memeluk pria bertubuh kekar di sampingnya, tak menyangka jawaba Alvi membuat hatinya berbunga-bunga, ribuan kupu-kupu kembali beterbangan di dalam perutnya. Sekarang tak ada lagi yang Ia takutnya. Baginya, Tania bukanlah ancaman besar.
***
Jangan lupa budayakan, like, komen, dan Vote.
mampir juga di novel kakak online aku
__ADS_1