
Ayah Kevin menghampiri bunda Anin setelah menerima telfon dari Samuel. Ia langsung memeluk istrinya dari belakang, berharap wanita beranak satu itu tidak lagi marah padanya.
"Anna ternyata ibu Alvi." lirih ayah Kevin.
Bunda Anin tak merespon, ia terus menyibukkan diri dengan laptop di hadapannya, mengotak-atik laporan keuangan butik yang baru saja ia buka beberapa minggu lalu, butik yang jauh dari naungan Angel Fasion Group.
"Anin."
"Apa mas?"
"Kamu nggak kaget? apa selama ini kamu udah tau?"
"Iya."
Pelukan Kevin melonggar ekspresinya berubah datar, tatapannya menukik tajam pada wanita di hadapannya. "Kapan? jadi selama ini kamu bohong sama mas?"
"Anin jawab mas!" bentak Kevin membuat Anin tersentak kaget.
"Iya aku bohong, aku salah karena menyembunyikan ini dari mas, tapi semua aku lakukan karena tidak ingin mas misahin Alana dan Alvi. Mereka saling cinta, Alvi anak yang baik."
"Apapun yang berhubungan dengan Anna mas tidak suka, mau Alvi sekalipun. Mereka harus bercerai!"
"Mas!" bentak Anin.
Ia mulai muak dengan sikap egois Kevin yang tidak memikirkan perasaan orang lain.
"Ingat mas, kita cuma punya Alana, jangan sampai karena sikap egois mas Kevin, Alana malah benci sama kita."
"Ini masa lalu kita, nggak usah nyeret Anak-anak, mereka berhak bahagia," lanjut bunda Anin.
__ADS_1
"Alana tidak akan bahagia jika bersama Alvi."
"Aku...." Bunda Anin tak melanjutkan perkataanya ketika Ayah Kevin mengangkat sebelah tangannya itu pertanda lelaki itu menyuruhnya diam.
Anin memeluk Kevin dari belakang, mencegah lelaki itu pergi, ia tak sengaja mendengar pembicaraan Kevin dengan pengawal pribadinya yang di tugaskan menjaga pintu ruang rawat Alana.
"Aku mohon biarkan Alvi menemui Alana mas, bagaimanapun Alvi suami Alana, kita tidak punya hak untuk melarangnya."
"Nggak Anin, sampai kapanpun mas nggak bisa menerima keturunan Anna masuk kekeluarga Adhitama. Alana hampir meregang nyawa karena wanita iblis itu."
"Alvi beda mas, aku bisa jamin itu."
Anin terus mengejar Kevin, ia tidak ingin suaminya bertemu Alvi untuk saat ini. "Baiklah aku akan menuruti keinginan mas Kevin!" Teriaknya sebelum Kevin benar-benar menghilang di balik pintu.
Anin berjalan semakin dekat pada Kevin, menatap mata tajam lelaki itu. "Aku akan menuruti kemauan mas, aku mendukung semuanya, mas mau mereka pisah kan?"
"Hm."
"Anin kamu ngomong apa?"
"Itu jalan keluar terbaik menurut aku mas."
***
Jika ayah Kevin dan bunda Anin bertengkar hebat, lain halnya dengan Alana. Gadis itu sangat senang, ketika membuka mata hal pertama yang ia lihat adalah senyum manis Alvi.
"Beneran Aa kan? aku nggak halu?"
"Iya ini Aa sayang."
__ADS_1
Alana merentangkan tangannya, meminta Alvi mendekat. "Peluk," rengeknya.
Dengan senang hati Alvi memeluk tubuh rapuh gadisnya, tapi sebelum itu ia memperbaiki posisi Alana agar tidak kesakitan. "Maafin Aa buat kamu nangis."
Alana mengeleng dalam pelukan Alvi.
Hening, itulah yang terjadi, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Alana menikmati pelukan Alvi yang begitu nyaman dan menghangatkan, sementara Alvi sibuk mengelus rambut Alana dan sesekali menciumnya.
"Aa."
"Hm."
"Aku ketemu mama kemarin."
Alvi tak menyahut, lelaki itu tak ingin mendengar tentang wanita iblis yang hampir saja melenyapkan nyawa gadis yang sangat ia cinta.
"Dia bukan mama aku."
"Jangan ngomong gitu Aa, bagaimanapun mama Anna adalah wanita yang nelahirkan Aa. Sebesar apapun kesalahan dia tetap mama Aa."
Alana semakin mengeratkan pelukannya ketika Alvi hendak berdiri. "Jangan tinggalin aku sendiri, aku takut gelap."
"Di sini terang sayang, Aa cuma mau ke toilet sebentar."
"Jangan pergi." manja Alana.
"Iya." pasrah Alvi.
...TBC...
__ADS_1
Jangan lupa vote, komen, dan like ya!🤗