Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 74


__ADS_3

"Pak Dirga..." lirih Alana namun terdengar jelas di telinga Alvi. Lelaki itu menaikkan kaca mobil membuat Alana menoleh kearahnya.


"Buka Aa! itu pak Dirga kayaknya mau ngomong sesuatu."


"Hm."


Lelaki itu kembali membuka kaca mobil, membiarkan sang istri berbicara dengan teman laknatnya. Tangan kiri Alvi masih setia mengengam tangan mungil Alana, sementara tangan satunya memegang kemudi. Tatapan lelaki itu fokus ke depan enggan melirik kesamping.


Namun, bukan berarti ia tak mendengar percakapan Dirga dan Alana.


"Di depan ada kecelakaan, mungkin macetnya lama, mau bareng saya?" tawar Dirga.


Alana bergeming, antara mau dan tidak. Ia tidak ingin telat, tapi juga tidak enak jika meninggalkan Alvi sendiri. Gadis itu kembali menoleh pada lelaki yang memasang ekspresi datar.


"Aa." panggilnya.


"Hm."


"Boleh aku berangkat bareng pak Dirga?"


"Hm."


Alana menghela nafas panjang, mode kulkas dua pintu Alvi, On.


"Pak Dirga duluan aja." tolak Alana tak ingin memperkeruh suasana.


"Hari ini Tryout kalau kamu lupa. Kamu sesi pertama di ruangan 3 kan? saya ngawas di sana. Mau kamu asisten saya atau bukan jika telat, tetap tidak bisa masuk." ancam Dirga tak ingin rencananya gagal.


Tak ada suara terdengar dari gadis berambut indah terbsebut, membuat Alvi menoleh, dan mendapati gadisnya diam membisu. Lelaki itu melirik arloji di pergelangan tangannya, 07:50.


Ia tidak boleh egois, dari awal ini kesalahannya, karena terlalu manja subuh tadi pada gadisnya.


"Ikut aja, Aa nggak papa."


Alana mengeleng. "Cuma Tryout kan? nggak bakal ngaruh juga sama kelulusan."


Alvi menyerahkan Hoodie yang baru saja ia ambil dari jok belakang, lalu memberikannya pada Alana. "Buat nutupin paha kamu."


"Tapi Aa."


"Turun Aa bilang."


"Iya," sahut Alana menyambar hoodie dan juga tas sekolahnya, sebelum turun ia mencium punggung tangan Alvi.


Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu, hingga membiarkan Alana pergi begitu saja dengan Dirga.


Senyum Lelaki manis itu mengembang, akhirnya ia bisa mengantar gadis pujaan hatinya ke sekolah. Ia juga senyum remeh kearah Alvi. Lelaki yang biasanya menunjukkan taring kini tak banyak bicara karena ada Alana.


Baru saja Dirga menyerahkan Helm, suara kegaduhan terdengar. Mata Alana membulat sempurna melihat mobil sport biru suaminya menabrak mobil hitam di depannya.


"Aa."

__ADS_1


Lelaki yang di sebut Aa, tanpa rasa bersalah keluar dari mobil dengan gaya coolnya, berdiri di antara mobil miliknya dan mobil yang baru saja ia tabrak, menunggu sang empunya keluar.


"Anda mabuk pagi-pagi!" Amuk sang empunya mobil, berkacak pinggang.


"Maaf, saya tidak sengaja nginjak pedal gas. Tapi anda tenang saja, saya akan ganti rugi." Menghampiri Dirga dan Alana.


"Karena saya sedang terburu-buru, anda bisa bicarakan dengan pengacara saya." Menepuk pundak Dirga sembari menyeringai.


"Enak aja, sekarang gue jadi guru bukan pengacara."


"Lo lupa isi kontrak perusahaan? lo harus siap 24 jam layanin gue. Atau lo mau gue cabut kontrak itu." Ancam Alvi mendorong agar Dirga segera turun dari motor itu.


Dengan pasrah Dirga turun dari motor, menyerahlan helm pada Alvi, bagaimanapun ia adalah pengacara, ia harus menyelesaikan semuanya jika tidak ingin di salahkan, dan berdampak negatif pada firma hukumnya.


"Aa pintar naik motor?" Alana memastikan saat Alvi menyuruhnya naik.


"Apa yang nggak bisa aku lakukan, Hm?"


"Narsis." menepuk pundak Alvi.


Kemesraan keduanya tak luput dari pandangan Dirga dan pengemudi lainnya.


"Pak Dirga saya pinjam motor nya ya."


Alvi menarik tangan Alana agar memeluk pinggangnya, seakan memperlihatkan pada Dirga bahwa Alana hanya miliknya seorang. Tak dapat di pungkiri perlakuannya mengundang senyum di bibir indah sang gadis.


Alana menyandarkan pipinya di punggug Alvi, menikmati semilir angin pagi yang menerbangkan anak rambutnya, senyum selalu menghiasi wajahnya.


"Kenapa nggak pernah bilang kalau Aa bisa naik motor!"


"Banget...banget...banget. Kalau tau, aku tiap hari mau di antar sama Aa naik motor, biar bisa peluk-peluk. Kayak orang pacaran gitu."


Di balik helm full face senyum Alvi mengembang, akhirnya Alana tidak judes lagi padanya. Tangan kirinya dengan setia mengelus tangan mungil yang melingkar di pinggang, ini pertama kalinya setelah lulus SMA naik motor lagi, bahkan kali ini ia membonceng gadis yang sangat ia cintai.


"Aa punya motor?"


"Punya, di rumah utama."


"Motornya pernah bonceng siapa aja?"


"Angin."


***


Hari yang di tunggu-tunggu gadis berambut indah tersebut sudah tiba. Kamis 4 November tepat ia berumur 17 tahun. Namun, bukannya bahagia, Alana malah cemberut, tak ada seorang pun yang mengingat hari ulang tahunnya, bahkan suaminya sekalipun.


"Aa beneran nggak tau ini hari apa?" tanya Alana penuh harap.


"Hari Kamis."


"Aku juga tau kalau itu." cemberut Alana.

__ADS_1


Alvi mencubit pipi Alana. "Sana turun ntar telat! Aa nggak bisa jemput, pulangnya sama Keenan atau Samuel."


"Kenapa nggak sama bang Rayhan?"


"Aa nggak suka sama Dia." Terang Alvi. Ia tidak suka dengan Rayhan, karena cowok itu sering mengombal atau menjahili Alana.


"Lah emang siapa yang nyuruh Aa suka sama bang Rayhan. Aa tuh bolehnya suka sama aku doang."


"Iya Sayang." Mengecup kening Alana.


"Beneran nggak ingat Aa?"


"Memangnya hari ini hari apa? spesial banget buat kamu? perasaan dari kemarin nanya mulu."


"Nggak ada, cuma nanya aja." Alana memanyungkan bibir pink nya. "Asupan paginya."


Dengan senang hati Alvi memberi asupan pagi pada gadisnya. Ia melahap benda kenyal berwarna pink itu sepuas mungkin.


Gadis itu semakin bad mood ketika berada di lingkungan sekolah. Tak ada satupun yang memberinya ucapan selamat, bahkan Abang-Abang tersanyangnya sekalipun.


"Liat deh, kuenya cantik ya." Kode Alana memperlihatkan gambar kue pada Anggota inti Avegas.


"Biasa aja." cibir Rayhan.


"Cantik." respon Azka seadanya.


"Hari yang identik dengan lilin sama hadiah hari apa?" Alana terus memberikan kode. Namun sepertinya tidak ada yang peka.


"Gue cabut bro." Rayhan pamit terlebih dahulu, di ikuti Dito dan dan Ricky.


"Gue juga." sahut Azka. "Salsa udah nungguin gue."


"Kalian juga mau cabut? ya udah sana sekalian ningalin gue di kantin sendiri. Tapi sebelum pulang jangan lupa makanan di bayar semua."


"Hari ulang tahun bukan?" Keenan membuka suara.


"Abang ingat?"


"Kan tadi lo nanya, hadiah dan lilin identik dengan apa."


"El, lo yang antar Alana kan? gue ada urusan soalnya."


"Gue...."


"Gue bisa pulang sendiri."


Alana sangat kecewa, tahun lalu ulang tahunnya tak seburuk ini, dulu bahkan ia di jadikan ratu seharian, di buatkan pesta semegah mungkin, bahkan mendapat hadiah motor dari para Abang-abangnya, walau motor itu kini hilang entah kemana.


"Apa aku udah nikah makanya nggak ada yang peduli lagi? tau gini nggak nikah sekalian. Nyesel gue nikah."


...TBC...

__ADS_1


Mampir juga di novel akak online ku yang nggak kalah seru, di jamin bikin nagih deh pokoknya.



__ADS_2