Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 42


__ADS_3

Jarak hari senin ke minggu sangatlah jauh, tapi kenapa jarak hari minggu ke senin begitu dekat? setelah di buat senang-senang dengan kehadiran minggu kini anak-anak sekolah di buat malas dengan hari senin. Hari yang begitu melelahkan, di tengah teriknya matahari semua siswa harus berbaris rapi hanya untuk mendengarkan pidato para guru.


Namun itu tidak berlaku bagi gadis berambut indah yang kini berdiri di deretan kedua dari depan. Hari senin adalah hari yang sangat menyenangkan baginya. Senyum di bibirnya tak henti-henti merekah.


Alvi, suaminya sejak turun dari mobil hingga ia masuk ke dalam kelas tak pernah melepaskan genggaman tangannya, tatapan teman-teman sekolahnya juga sudah tidak seperti dulu, menyudukatkan, merasa jijik jika melihatnya. Kini ia hanya melihat tatapan iri setiap melewati segerombolan siswi menuju kelasnya.


Sebenarnya apa yang terjadi selama ia tidak masuk sekolah beberapa hari? Itu lah yang kini terus berputar dalam pikirannya.


Baiklah Alana akan menanyakan hal tersebut pada Salsa setelah upacara. Kini ia akan fokus kedepan mendengarkan wali kelasnya berpidato.


Salsa menyengol bahu Alana kemudian berbisik. "Itu yang di belakang pak Alvi siapa? tampan banget tau nggak." bisik Salsa.


Kini tatapan Alana tidak lagi tertuju pada wali kelasnya yang tak lain Alvi, ia memandagi pria di belakang Alvi, tubuh tegap dan terlihat sangat manis, sedari tadi selalu tersenyum pada guru-guru lainnya, sangat berbading terbalik dengan Alvi.


"Manis." puji Alana. "Ujian sekolah semakin dekat, guru-guru tampan semakin berdatangan, jadi nggak pengen lulus." lanjut Alana.


Bukan hanya mereka berdua yang bergosip bahkan siswa-siswi lainnya juga ikut membicarakan pria manis yang berdiri di belakang Alvi. Kini posisi Alvi benar-benar tersingkirkan, karena statusnya sudah menikah.


"Hus ucapan adalah doa, lagi pula lo udah punya pak Alvi." tegur Salsa. "Tampan, kaya, cinta lagi sama lo."


Alis Alana terangkat mendengar kalimat terakhir Salsa, cinta? yang benar saja, sikap Alvi padanya sangat kaku dan dingin. kenapa Salsa bisa menyimpulkan hal seperti itu.


"Bentar gue ceritain." ujar Salsa seperti tahu isi pikiran Alana.


Alana menganguk mengerti, lalu melanjutkan obrolan mereka. "Yaudah sana embat om-om di belakang pak Alvi." suruh Alana.


"Ye, Salsa sekarang punyanya..." Salsa mengatung kalimatnya kala seseorang berbisik di telinganya.


"Punya siapa?" bisik Azka yang kini berdiri tepat di belakang Salsa.


Salsa berbalik kemudian mengembangkan senyumnya, untung barisan mereka tidak terlalu terlihat dari depan. "Punyanya Azka."


Azka mengulum senyum mendengar jawaban Salsa.


"Ekhem, serasa dunia milik berdua aja." tegur Alana yang merasa di kucilkan.


***

__ADS_1


Alana bertopang dagu di atas meja menghadap Salsa yang kini duduk bersandar pada dinding, dengan tangan bertumpu pada meja.


"Buruan Sal, keburu masuk ih." perintah Alana tidak sabaran, ingin mendegar cerita di sekolah selama ia tidak masuk.


"Semua orang udah tau lo itu istri sahnya pak Alvi." ujar Salsa dengan nada menggoda. "Pak Alvi sendiri yang mengumumkan hubungan kalian, hari jum'at, kemarin." jelas Salsa.


Mulut Alana terbuka berbarengan dengam mata yang melebar, benarkah Alvi mengakuinya sebagai istri di depan semua teman-temannya? ah rasanya sangat bahagia.


Alana menyembunyikan wajahnya pada lipatan kedua tangannya, menghentak-hentakkan kakinya ke lantai sekin bahagianya. Biarkan saja teman sekelasnya menatap aneh yang penting sekarang ia menyalurkan kebahagiannya.


Salsa mengeleng tak percaya melihat respon berlebihan Alana, apa jadinya jika Alana hadir hari jum'at lalu, di mana Alvi sengaja mengumpulkan semua siswa SMA Angkasa hanya untuk mengumumkan bahwa Alana adalah istrinya, dan menegur semua siswa karena ikut-ikutan mempermalukan Alana di depan umum tanpa ada bukti. Tantu saja sudah mendapat izin dari kepala sekolah.


Pak Alvi benar-benar manfaatkan kekuasaan orang tua Alana di sekolah untuk membersihkan nama Alana, juga menuntut Bela dan satu orang cowok dengan kasus pencemaran nama baik, seperti yang Alvi katakan sebelumnya.


Puas mencak-mencak sendiri, Alana kembali menatap Salsa. "Lalu yang nyebarin berita hoax itu?" penasaran Alana siapa sebenarnya yang menyebar berita tentang dirinya.


"Bela dan..." Salsa berbisik di telinga Alana, tak ingin orang lain apa lagi readers mendengarnya karena ini bagian dari ceritanya.


Brak


"Kalau Bela gue nggak kaget Sal, tapi dia...." Alana masih tidak percaya. "Dia baik banget sama kita selama ini."


"Gue aja kaget pas Azka cerita." bukan hanya Alana, bahkan Salsa juga merasa tertipu dengan kebaikan orang tersebut.


"Nasib mereka gimana?" kepo Alana.


"Di DO sama kepala sekolah, terus di tuntut sama pak Alvi. Seram tau suami lo, nggak mau ngelepasin mereka berdua."


"Sepertinya gue jatuh cinta sama pak Alvi." ujar Alana bersandar pada kursi sembari menyunggingkan senyumnya.


Pembicaraan keduanya terhenti kala seorang pria manis masuk kedalam kelas membawa buku paket di tangannya. Senyum Alana mengembang melihat buku paket tersebut, sepertinya ia akan betah belajar, terlebih gurunya sangat manis tanpa gula.


"Ingat pak Alvi." tegur Salsa.


"Cuci mata Sal."


"Sudah tahu nama saya?" tanya pria tersebut dengan ramah membuat suasana riuh tak setegang jika Alvi yang mengajar.

__ADS_1


"Sudah pak!" ujar mereka serentak.


"Belum pak." selalu saja gadis ini berbeda dengan gadis lainnya, siapa lagi kalau bukan Alana.


"Baiklah, karena ada yang belum tahu, saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Dirga Abdi Guna, kalian bisa panggil saya pak Dirga. Saya akan mengajar PPKN."


Bel pulang sekolah berbunyi 10 menit yang lalu, seiring berjalannya waktu SMA Angkasa juga semakin sepi, hanya beberapa siswa saja yang terlihat itupun karena mempunyai kepentingan masing-masing.


Lain halnya dengan gadis berambut indah tersebut yang kini berjalan santai keluar dari gerbang SMA Angkasa setelah mendapat izin pergi bersama Salsa.


My Husband : Boleh, pulangnya jangan terlalu malam.


Alana: Assiap kapten


Reead


Gadis tersebut mengerucutkan bibirnya melihat pesannya hanya di read oleh pak Alvi.


"Napa Lo?" tanya Salsa setelah mereka di dalam mobil.


"Pesan gue cuma di read." cemberut Alana.


"Ternyata karma masih berlaku." Salsa tertawa meledak sekarang Alana akan merasakan bagaimana rasanya pesan cuma di Read, karena ia salah satu korban read Alana.


"Pendendam."


"Biarin, dari pada lo terlalu baik." cibir Salsa. Kini Salsa menatap tajam pada sahabatnya, ia jadi teringat perkataan gadis tersebut saat di dalam kelas. "Awas aja kalau lo bujuk pak Alvi buat ngelepasin Bela dan si itu. Gua nggak bakal jadi teman lo lagi." ancam Salsa.


"Apaan sih pake ngancem segala." ujar Alana tak suka.


Ya Alana berencana membujuk Alvi untuk membebaskan Bela dan cowok tersebut dari tuntutan, baginya sudah cukup dengan di keluarkan dari sekolah, tidak perlu berurusan dengan hukum.


"Awas Aja."


"Iya...iya nggak bakal." pasrah Alana.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2