
Alana sangat beruntung mendapat sahabat seperti Salsa. Rela mengosongkan jadwalnya hari ini hanya untuk menemaninya di rumah karena takut ia sedang sedih perihal kemarin.
Alana dan Salsa menghabiskan waktunya di dalam kamar, bercerita banyak hal, ngemil bareng, sampai nonton daram bareng. Alana menceritakan segala isi hati dan ketakutannya pada Salsa. Berharap gadis itu punya solusi untuk menghilangkan ketakutan dalam dirinya.
"Gue harus gimana Sal? gue nggak bisa benci orang gitu aja. Apa lagi mis Tania baik banget sama gue."
Salsa menoyor kepala Alana. "Yang nyuruh benci mis Tanis siapa? gue cuma bilang hati-hati sama dia."
"Gitu ya,"
"Dia cantik, pintar, segalanya. Cocok banget sama pak Alvi Sal, gue jadi takut pak Alvi berpaling."
"Kok lo jadi gini? mana Alana yang percaya diri yang gue kenal, hah?" Heran Salsa. "Kalau emang pak Alvi tertarik, udah sejak dulu mereka menikah, tapi nggak, dia lebih milih lo, bego."
"Begonya nggak usah ikut juga, Sal." Melempar kulit kacang ke arah Salsa.
Keduanya larut dalam pembicaraan, membicarakan masa depan masing-masing akan seperti apa, hingga pembicaraan keduanya harus terhenti kala ponsel Alana bergetar. Alana menatap Salsa.
"Jawab aja!" perintah Salsa.
Alana menggangguk lalu menjawab panggilan dari mis Tania. Awalnya Ia sedikit ragu menerima tawaran dari teman baru yang akan menjadi pelakor dalam hubungannya, tapi mendengar perkataan Salsa barusan, tanpa pikir panjang Alana menerima ajakan Tania untuk makan malam bersama.
__ADS_1
"Jangan menghindar apa lagi takut, lawan aja sih kalau dia macam-macam sama lo. Lo itu istri sah Alvi, jadi nggak ada masalah dong kalau lo pertahanin dia."
Benar apa yang di katakan Salsa barusan, kenapa harus takut dan menghindari mis Tania? Alana akan membuktikan bawah Alvi hanya miliknya.
Sepeninggalan Salsa, Alana mengacak-acak isi lemarinya mencari baju yang pas untuk makan malam nanti. Setelah menemukan yang pas, kini ia mencari untuk sang suami.
Alana menyambut kepulangan sang suami dengan wajah bahagia, mengambil alih tas kantor Alvi lalu mencium punggung tangan lelaki itu. Ia mengamit lengan Alvi hingga mereka sampai di kamar.
"Aa, mis Tania ngajak makan malam." Mendongak menatap Alvi yang kini sibuk melepas sepatunya.
"Terus?"
"Aku terima tawarannya."
"Tapi sama Aa perginya, aku mau dia tahu kalau Aa cuma milik aku, Aa cuma cinta sama aku."
"Baiklah."
"Sayang Aa banyak-banyak." Memeluk Alvi sangat erat.
Alana menyiapkan keperluan Alvi untuk mandi, kali ini sedikit berbeda karena bathtub mandi Alvi di penuhi dengan bunga kembang tujuh rupa sesuai perintah Alana semalam.
__ADS_1
"Ayo mandi Aa!" Menarik Alvi agar segara bangkit dari duduknya. "Mandi yang bersih biar kuman-kuman mis Tania nggak bikin Aa gatel."
"Kalua gitu mandiin."
"Nggak mau aku udah mandi Aa."
Byur
Langkah Alana kurang cepat, membuatnya tercebur ke dalam bathtub akibat tarikan Alvi.
"Aku masih datang bulan Aa."
"Tau, tapi udah hari ketiga. Udah nggak banyak," jawab Alvi. "Lagian kamu nggak pakai kan?" Alvi mengulum senyum, tahu betul bagaimana kelakuan sang istri jika sedang haid, gadisnya itu risih dan tidak nyaman, membuat Alana hanya pakai jika hari pertama dan kedua saja. Ketiga dan seterusnya gadis itu rela keluar masuk kamar mandi hanya untuk menganti pakaian dalam, kecuali gadis itu akan keluar rumah.
Alvi membantu Alana menangalkan bajunya satu persatu dan kini gilirannya, tetapi gadis itu malah memejamkan matanya tak ingin melihat sesuatu.
Kesal akan candaan Alvi yang membuat wajahnya memerah, Alana langsung duduk di pangkuan lelaki itu, membuat air di dalam Bathtub tumpah-tumpah akibat pergerakannya.
"Biarin aja Aa kesiksa, aku nggak mau nolong, udah tau kau masih haid pakai maksa," omel Alana. "Nggak ada bagian atas, titik!"
***
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote