Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 77


__ADS_3

Jam 12 kurang 5 menit, seseorang mengendap-endap memasuki kamar Alana, orang itu bahkan membuka selimut yang membungkus tubuh mungil gadis itu.


"Alana." isak seorang gadis membuat Alana terbangun.


Alana mengejap-erjapkan matanya, menyesuaikan cahaya lampu. "Salsa?" lirihnya sembari mengucek mata takut salah orang.


Tetap saja yang ia lihat adalah Salsa, sahabatnya itu menangis tersedu-sedu bahkan memeluknya dengan erat.


"Lo kenapa nangis?"


"Azka Al."


"Azka kenapa? Lo nggak lagi bawa kabar buruk kan?"


"Azka masuk rumah sakit." Salsa semakin terisak dalam pelukan Alana.


"Nggak...nggak mungkin, bang Ray aja baru keluar." Alana mengeleng, tak ingin mendengar bertia duka yang di bawa Salsa, sudah cukup dengan Rayhan malam dimana ia seharusnya pergi bersama Alvi ke reuni, kecelakan dan berakhir koma beberapa hari.


Dan sekarang di hari ulang tahunnya, Azka pun masuk rumah sakit.


Tanpa menunggu lagi, gadis itu mendorong tubuh Salsa, mengambil hoodie Alvi di sofa dan berlari keluar kamar.


"HAPPY BIRTHDAY Mr. Queen." seru anggota inti Avegas dan satu orang cewek tepat saat Alana membuka pintu.


Alana diam mematung, tak merespon ucapan selamat teman-temannya.


"Nggak lucu." Menatap penuh permusuhan pada ketua Avegas yang kini membawa kue ulang tahun di tangannya.


"Yah ngembek kan," ujar Ricky.


"Rencana ibu ketua nih," ujar Rayhan terkesan menyalahkan Salsa.


"Lo nyalahin Salsa?" Azka melirik tajam Rayhan.


"Buruan matiin lilin nya!"


Tawa mereka pecah mendengar perintah manusia kutub tersebut yang terbilang tidak sabaran.


"Ternyata Samuel bisa ngelawak juga." tawa Rayhan menepuk pundak Samuel.


"****** lo Ray."


"Nah senyum juga kan." goda Keenan pada Alana yang kini mengulum senyum.


"Kirain kalian lupa."


"Oh tentu tidak." sahut Ricky.


"Jangan banyak drama napa? gue lapar sumpah." cerocos Giani.


"Apaan lo Ray, pacar kok di buat lapar." julid Dito.


Lama berdebat akhirnya mereka pindah ke ruang tamu. Alana sedikit menganga melihat ruang tamunya sudah di dekor sedemikian rupa.


"Demi apa cantik banget." takjub Alana. "Yang dekor pasti Dito sama bang Samuel."


"Enak aja, gue juga ikut ya." cibir Rayhan tak terima. "Ikut foto-foto maksudnya."

__ADS_1


Tak ada yang istimewa dari kejutan 6 inti Avegas namun kebersamaannya mampu membuat Alana bahagia. Sekitar satu jam tawa mereka memenuhi rumah sederhana itu, hingga pamit pulang ke rumah masing-masing.


"Salam sama pak Alvi, makasih dah di izinin ribut," ujar Keenan sebelum pamit.


"Mobil siapa Al?" Kepo Rayhan ketika melihat mobil mewah berwarna merah.


"Hadiah dari ayah."


"Widih mobil bro."


"Om Kevin butuh sugar Baby nggak ya."


"Enak aja, kagak mau gue punya emak tiri kayak lo Sal."


"Cabut woi, bentar lagi ada yang ngamuk." teriak Ricky sebelum melajukan motor sportnya keluar dari halaman rumah Alana di ikuti yang lainnya.


"Lo butuh mobil?" dingin Azka.


Salsa mengeleng.


"Jangankan mobil Sal, rumah pun gue beli kalau lo mau. Gua nggak suka lo ngomong kayak tadi."


"Jangan berantem di rumah gue, sana pulang." usir Alana.


Usai kepergian teman-temannya, Alana mencari kebeeadaan Alvi. Sebenarnya gadis itu sedari tadi mencari Alvi namun urung karena ada teman-temannya. Sejak semalam sikap lelaki itu sangat dingin.


Alvi yang biasanya manja kini hilang.


Alana perlahan-lahan membuka ruang kerja Alvi, dan mendapati lelaki itu tidur di sofa dengan posisi tidak nyaman.


"Aa." mengelus rambut tebal Alvi. "Kenapa tidur di sini?"


***


Bangun-bangun Alana mendapati dirinya tidur di dalam kamar, padahal ia ingat betul tidur di ruang kerja Alvi semalam. Gadis itu melirik kamarnya, rapi, tak seperti biasanya, handuk tertata rapi, bahkan keranjang baju kotor tak lagi berantakan.


"Aneh." lirih Alana.


Dengan malas gadis itu berjalan keluar kamar sekarang tujuannya adalah bertemu bi Neneng.


"Bi, Aa udah berangkat?" mendudukkan diri di meja pantri.


"Iye neng, pagi-pagi sekali."


"Ada nitip sesuatu nggak?" tanyanya penuh harap, biasanya Alvi akan menitip pesan melalui bi Neneg jika ia telat bangun di hari libur.


"Ada neng."


Senyum Alana mengembang seketika, ternyata firasatnya salah, Alvi tidak marah terbukti lelaki itu masih menitip pesan untuknya.


"Apa?"


"Jangan di tungguin katanya, Tuan nggak bakal pulang makan siang dan pulang larut."


"Oh gitu ya." kecewa Alana.


Sebenarnya ia salah apa sama Alvi, hingga lelaki itu berubah, perasaan ia tidak membuat salah. Seharusnya yang marah disini adalah dirinya karena Alvi tidak memberinya ucapan selamat.

__ADS_1


"Terserah deh." pasrah Alana, ia sedikit kesal akan sikap Alvi.


"Sarapan dulu neng!"


"Nggak mood bi."


Liburan yang ia inginkan tak sesuai ekspektasi, ia mengira Alvi akan mengajaknya liburan sesuai perkataan lelaki itu beberapa hari yang lalu. Alana mengisi kegabutannya dengan maraton drakor, juga mengepoi berita terbaru Idolnya yang sebentar lagi akan konser.


Benar saja, Alvi tidak pulang makan siang, bahkan lelaki itu tidak mengabarinya sama sekali hingga malam menjelang.


Jam sembilan kurang 20 menit, Alvi belum juga pulang, lelaki itu bahkan tak membalas chatnya. Masakan yang ia buat pun sudah dingin.


"Neng ngapain malam-malam di dapur?"


"Pengen ngemil bi." cegir Alana mengambil sekotak bongkahan es batu dan menaruhnya kedalam gelas hingga full. Gadis itu mendudukkan diri di meja pantri, menikmati bongkahan es batu itu tanpa campuran apapun.


Bi Neneng ngilu sendiri melihat cara ngemil Alana yang terbilang aneh, di mana-mana kalau ngemil ya cemilan bukan es batu, mana udara di luar sangat dingin.


Jam menunjukan pukul 22:27 namun belum ada tanda-tanda Alvi pulang. Gadis berambut indah tersebut sudah mengantuk, menunggu kedatangan Alvi. Jujur saja ia sedikit khawatir dengan suaminya, ia takut Alvi bukannya di kantor, malah kenapa-napa di jalan.


"Neng mending di kamar Aja."


"Di sini aja bi." sahut Alana tetap pada pendiriannya duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Alvi.


"Temenin saya di sini bi."


Tak tahan lagi, gadis itu terlelap di sofa.


"Tuan."


"Kenapa tidur di sini?" intro Alvi ketika mendapati Alana tidur di Sofa.


"Neng Alana nungguin tuan pulang, katanya khawatir Tuan."


"Dia makan kan Bi?"


"Seharian neng Alana nggak makan nasi Tuan, cuma ngemil doang, tadi juga nggak makan malam, cuma makan es batu."


"Es batu?"


"Iya Tuan, es batunya di kunyah kayak permen." adu bi Neneng yang sedikit takut dengan Alvi, lelaki di depannya tak pernah tersenyum, kecuali pada Alana.


"Buang es batunya, besok-besok jangan stok lagi." perintah Alvi tak terbantahkan. "Bagaimana kalau istri saya Fllu? bibi mau tanggung jawab?"


Bi Neneng menelan salivanya dengan kasar, memerhatikan Tuannya membopong tubuh mungil Alana masuki ruangan persegi panjang yang akan membawa mereka ke lantai dua.


"Beda banget sama Neng Alana yang ramah." lirih Bi Neneng.


...TBC...


Jangan lupa Vote, komen, dan like nya di kencangin biar dedek gemes semangat.


Oh iya dedek gemes bawa novel lagi nih, tema sekolah juga sama kayak Aa Alvi.



Satu lagi nih, nggak kalah seru

__ADS_1



__ADS_2