Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 89


__ADS_3

Alvi menang menuruti keinginan Alana dan permintaan bunda Anin untuk tidak menemui gadis itu, tapi bukan berarti ia tidak melakukan apa-apa. Sedari tadi Alvi terus meneror gadisnya dengan berbagai pesan walau tak satupun di balas oleh Alana.


💌Kamu udah makan? Aa di depan bawa makanan buat kamu, Aa titip sama bunda di makan ya!


💌Perban kamu sudah di gantikan Al?


Alvi tersenyum melihat tanda centang biru di aplikasi hijaunya, setidaknya gadis itu melihat pesannya walau tak ada balasan sama sekali.


Sebelum tidur, ia juga menyempatkan waktu memeriksa akun Alana yang aktif, Ia menghela nafas panjang, pukul satu pagi Alana belum juga tidur, apa yang sebenarnya di lakukan gadis itu tengah malam seperti ini?


💌Tidur Al udah tengah malam!


Lagi dan lagi pesannya cuma di read. Jujur saja ia tidak bisa tidur tanpa kehadiran gadisnya di sampingnya.


Pagipun menyapa, Alvi bersiap-siap ke sekolah ia ada jam mengajar sekaligus untuk memantau sang istri dari jauh. Senyumnya semakin lebar ketika melihat Alana berjalan dikoridor seorang diri, ingin rasanya ia menghampiri gadis itu lalu memeluknya. Rindunya sudah mengebu padahal baru beberapa jam berpisah, sungguh bucin bukan makhluk Allah yang satu ini?


Alvi menghadang salah satu siswi ketika akan melewatinya, ia mengeluarkan sebuah kotak makan berwarna kuning kesukaan Alana lalu menyerahkan pada Nisa tetangga kelas sang Istri.


"Sa...saya pak?" gugup Nisa ketika tiba-tiba Alvi menghadangnya.


Mungkin seluruh siswa SMA Angkasa tahu bagaimana perangai guru kimia yang terkenal kiler modelan Alvi. Laki-laki itu hanya memanggil siswa-siswi yang bermasalah saja.


"Kamu kenal sama Alana kelas XII Ipa 3?"


"Kenal pak," jawab Nisa secepat kilat.


Siapa yang tidak mengenal Alana? gadis cantik yang sangat ramah kesemua siswa, tanpa pernah memandang orang dari status mereka. Ya ramah, tetapi tak ada yang berani berteman dengannya, apa lagi mengusik, karena di belakang gadis itu ada Anggota Avegas yang siap mematahkan leher siapapun jika berani mengusik gadis kesayangan mereka.


"Tolong berikan ini padanya!" perintah Alvi menyerahkan kotak bergambar manusia laut itu pada Nisa.


"Baik pak."


Sesuai perintah Alvi, Nisa langsung membawa kotak makan itu pada Alana, untung saja di dalam kelas hanya ada gadis itu.

__ADS_1


"Alana!" panggil Nisa.


Gadis itu mendongak, ketika seseorang memanggil namanya, Alana melempar senyum ketika mengetahui bawa Nisa tetangga kelasnya yang menyapa.


"Dari pak Alvi." Nisa menyerahkan kotak makan itu pada Alana. "Gue duluan ya." pamit Nisa di jawab anggukan oleh Alana.


Senyum gadis itu mengembang melihat isi kotak makan dari Alvi, sarapan kesukaannya roti panggang ( Gilgeori toast ) Roti panggang Ala-ala korea yang selalu ia rekues jika sarapan bersama suaminya.


💌Jangan lupa di makan!


"Iya." jawab Alana, tapi tak membalas pesan Alvi.


Karena belum sarapan, gadis itu dengan senang hati memakan bekal dari Alvi. Ia tidak marah pada lelaki itu, ia hanya kecewa dan tak ingin melihat wajah Alvi untuk sementara waktu untuk menenangkan hatinya.


Sama halnya seperti tadi, Alana di datangi oleh siswi lagi saat makan siang, kali ini bukan tetangga kelas tapi adik kelasnya.


"Kenapa Dek?" tanya Salsa ketika Alana sibuk memelototi aktor tampan di layar laptopnya. Gadis itu sengaja tidak keluar kelas demi menghindari bertemu Alvi, untung saja hari ini Lelaki itu tidak mengajar di kelasnya.


"Buat kak Alana dari pak Alvi kak." adik kelas itu meletakkan kotak berwarna biru di atas meja. "Saya pamit kak." sopan adik kelas itu, tetapi Alana tak menyahut masih fokus pada layar laptop di depannya.


Lapangan yang tadinya sepi kini di penuhi oleh kaum hawa yang ingin menyaksikan pertandingan perdana antara Ketua Avegas dan guru kimia yang terkenal dingin itu.


Suara sorakan dan teriakan berhasil memancing kedua gadis yang sedang bersantai di dalam kelas, karena Kepo Salsa mengajak Alana keluar. Awalnya gadis berambut indah itu menolak, akan tetapi Salsa tak putus asa hingga kini mereka berada di pinggir lapangan.


"Daebak, pak Alvi keren banget Al." puji Salsa ketika Alvi memasukkan bola ke ring hanya dengan satu lemparan.


"Caper banget." gerutu Alana tak suka melihat Alvi di pelototi teman-teman sekolahnya, apa lagi suaminya terlihat sangat keren dengan kemeja putih, lengan baju di lipat sampai siku, belum lagi keringat bercucuran di wajah Alvi membuatnya semakin terlihat seksi.


Alvi senyum tipis tanpa siapapun sadari melihat gadisnya berada di barisan paling depan, akhirnya ia bisa melihat wajah gadisnya sedekat ini. Ia menghentikan permainan hendak mendekat, tetapi Alana malah keburu pergi dengah wajah di tekuk.


Jam pulang sekolah berakhir tiga puluh menit yang lalu. Setelah Alvi memastikan Alana pulang kerumah orang tuanya dengan selamat, lelaki itu menancap gas membelah padatnya jalan raya, tujuannya bukan rumah melainkan apartemen seorang aktor ternama yang tak lain Devan. Hanya cowok perlesung pipi itulah yang selalu menjadi tempat keluh kesahnya walau tak pernah menemukan jalan keluar dan berakhir berdebat.


Sama seperti biasa, Ia menerobos masuk begitu saja tanpa meminta izin pada pemiliknya.

__ADS_1


Bosan melihat Alvi mondar-mandir di depannya, Devan angkat bicara. "Kalau lo kesini cuma mau mondar-mandir nggak jelas, mending lo pergi! pusing gue liatnya," usir Devan, melempar tutup spidol ke kepala Alvi.


Alvi menghela nafas panjang, mengambil tutup spidol di lantai setelah membentur kepalanya, ia kembali melempar benda itu ke pala Devan. Ia membaringkan tubuhnya di atas rajang Devan, merilekskan seluruh otot-otot setelah olahraga siang bolong di bawah teriknya matahari.


"Shi*t," umpat Devan mengusap keningnya. "Galau-galau aja nggak usah ngajak-ajak, nggak tau apa gue juga pusing." lanjut Devan.


"Gue harus apa?"


"Mana gue tau." acuh Devan sibuk dengan Ps di tangannya.


"Van!" panggil Alvi lagi, lelaki itu manatap langit-langit kamar Devan.


"Gue ada ide, tapi lo mau nggak kerumah utama? kalau nggak, yaudah deh nggak jadi."


"Apa?"


"Lo telfon kakek Farhan, suruh kakek ngajak Alana makan malam di rumah utama ,kalau perlu bermalam sekalian. Gua yakin Alana nggak bakal nolak kalau kakek yang minta. Terus lo pepet deh."


"Alana bisa saja pergi saat ngeliat gue."


"Goblok!" maki Devan, kesal akan sahabatnya satu ini.


"IQ lo emang tinggi Vi, tapi EQ rendah banget sumpah, apa lagi tentang cinta dan wanita." ceramah Devan panjang kali lebar. "Gue berani bertarung, rencana gue akan berhasil Vi, Alana nggak mungkin marah di depan kakek Farhan."


"Lo ada benarnya." Alvi bangun dari tidurnya mengambil jas di atas kursi, lalu pergi begitu saja tanpa berterimakasih pada Devan.


"Anjim, gue di tinggal gitu aja," maki Devan ketika Alvi menutup pintu kamarnya sekeras mungkin.


...TBC...


Hay hay kesayang dedek, gimana kabar kalian baik kan? Alhamdulilah kalau baik, do'a in Dedek bisa up tiap hari ya🤭.


Oh ya seperti biasa dedek akan membawa novel² keren buat kalian sembari menunggu Aa nongol.

__ADS_1



__ADS_2