
Alana mematut dirinya di depan cermin setelah memoles wajahnya make up natural. Sebenarnya dia malas namun karena pemintaan bunda nya, dia terpaksa melakukannya.
"Udah?" tanya bunda Anin masuk kedalam kamarnya. Bunda Anin tersenyum kala melihat penampilannya.
Hanya setelah biasa, kemeja hijau botol di padukan rok hitam sebatas paha pilihan bunda Anin sang Desainer terkenal, pemilik perusahaan Angel Fasion.
Rambutnya di biarkan tegerai indah, semakin membuatnya terlihat sangat cantik.
"Cantiknya anak Bunda." puji bunda Anin mengelus rambutnya.
Dia meleparkan senyumnya. "Emang Alana dari lahir udah glow up." pedenya membuat bunda Anin kembali mengembang senyumnya.
Percayalah hati nya sedang tidak baik-baik saja untuk sekarang, tapi demi menghormati permintaan orang tuanya untuk makan malam dengan sang cowok, dia berusaha memperlihatkan wajah bahagianya.
Bunda Anin menarik tangannya keluar dari kamar, menuruni satu persatu anak tangga, menemui Ayah Kevin yang sudah lama menunggu di luar rumah.
"Bunda!" panggil Ayah Kevin saat dia dan bunda Anin sampai di depan pintu.
"Dapat bidadari di mana?" Ayah Kevin mengerling kearahanya. "Jadi nggak rela di serahin sama orang lain." ujar Ayah Kevin serius.
"Emang barang, di serahin Yah." ujarnya sedikit ketus kemudian masuk kedalam mobil menyisakan kedua orang tuanya yang masih berdiri di luar sana.
Mendegar perkataan Ayahnya, membuat matanya memanas, dengan siapapun dia akan menikah, satu yang pasti dia akan berpisah dengan orang tuanya dan dia belum siap untuk itu.
Lama menunggu namun belum ada pergerakan dari dua orang di luar saja membuatnya menurunkan kaca mobil.
"Jadi nggak sih!"
"Jadi sayang." jawab ayah Kevin.
Bunda Anin mengelus lengannya. "Jangan nangis." bisik bunda Anin di telinganya, mungkin melihat matanya memerah siap menumpahkan air mata.
Belakangan ini dia agak cengeng, dikit-dikit nangis, jika sendiri di dalam kamar.
Sepanjang jalan, dia menyibukkan diri dengan ponsel tak ingin mendengarkan obrolan orang tuanya seputar bisnis.
"Mas mengajukan kerjasama di salah satu perusahaan periklanan, Anggara Grup."
"Kenapa Anggara Grup?" tanya bunda Anin.
__ADS_1
"CEO nya masih muda. Saat melihatnya di rapat kemarin, Mas seperti melihat diri mas saat muda. Penuh ambisus, pantang menyerah, penuh tanggung jawab, tapi Mas akui dia lebih pintar dari mas."
"Aku jadi penasaran, seperti apa dia hingga mas begitu memujinya." ujar bunda Anin, tentu saja, banyak perusahaan yang telah bekerja sama dengannya sangat banyak, tapi baru kali ini suaminya memuji rekan kerjanya.
"Tapi dia masih punya kekurangan."
"Apa?" kepo bunda Anin.
"Kalah tampan dari Mas." pede Ayah Kevin membuat tawanya pecah. Tingkat kedepannya ternyata menurun dari sang ayah.
Setelah mengalami drama kemacetan, mereka akhirnya sampai di restoran yang telah di pesan ayahnya. Dia mengikuti langkah ayahnya memasuki sebuah ruangan VIP.
Langkah terhenti di ambang pintu kala melihat cowok di depannya, ya dia memang mengenal cowok tersebut, orang yang kan di jodohkan dengannya. Kenapa dunia sesempit ini? kenapa harus dia?
"Azka!"
"Alana!."
Ucapnya berbarengan dengan Azka, sama-sama terkejut, tentu saja dia terkejut, bahkan di dalam bayangannya bukan cowok itu yang akan di jodohkan dengannya. Mungkin jika bukan Azka dia akan memikirkannya kembali untuk menerima perjodohan ini.
Azka bangkit dari duduknya, menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dia artikan. Sekuat tenaga dia menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak limbung sakin terkejutnya. Bagaimana bisa dia di jodohkan dengan sahabatnya sendiri, lalu bagaimana dengan sahabatnya Salsa jika mengetahui ini?
Dia berusaha menetralkan keterkejutannya lalu membalas senyuman Mami Tari. "Mami!" lirihnnya.
"Cantik banget calon mantu Mami." puji Mami Azka padanya. "Iya kan Ka?"
"Bae Aja." ujar Azka datar.
"Kek nggak kenal aja, biasanya juga nempel kayak perangko." sindir Bunda Anin kala melihatnya dengan Azka terdiam tak seperti biasanya. Dirinya akan berisik atau terus menempel pada Azka jika makan malam seperti ini.
Tapi makan malam hari ini sungguh berbeda, Malam ini Azka di perkenalkan sebagai calon suaminya bukan sahabatnya, tentu saja kecangungan melanda mereka berdua. Bahkan keterkejutannya belum juga hilang.
Di sela-sela makan malam, kedua orang tuanya dan orang tua Azka tengah asik berbincang, membicarakan hari pernikahan dan pertunangannya, konsep seperti apa yang akan mereka pakai. Membuatnya risih.
Dia melirik Azka kala merasakan kakinya di tendang, dan memberinya kode. Mengerti dengan kode yang di berikan Azka, dia berdehem agar perhatian orang tua di ruangan itu tertuju padanya.
Sekarang dia mengerti kenapa sedari tadi Azka diam, dia baru ingat bahwa hubungan Azka dan Papinya tak pernah akur.
"Alana mau bicara sama Azka bunda." Dia bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Yang lama juga nggak papa." jawab Mami Tari.
Setelah mendapat persetujuan dari bunda nya, dia melangkah keluar dari ruangan VIP di susul Azka di belakangnya. Mereka memutuskan berbicara di taman dekat restoran, kebetulan di sana sedikit sepi.
"Kenapa nggak nolak?" tanyanya pada Azka.
"Lo juga kenapa nggak nolak."
Hening, tak ada lagi yang membuka suara. Hanya suara jangkrik dan dedaunan yang menemani mereka.
"Gue nggak mau nikah sama lo." ujarnya berbarengan dengan Azka.
Dia sontak tertawa, melihat ekspresi Azka yang sangat kusut seperti baju tidak pernah di setrika.
"Ngapain ketawa?"
"Kenapa nggak nolak?" bukannya menjawab dia kembali mengulangi pertanyaannya.
"Gue punya alasan kenapa nggak bisa nolak perjodohan ini. Lo nggak perlu tahu!" tatapan Azka fokus pada dedaunan yang begerak di terpa angin malam.
"Gue mau lo nolak Perjodohan ini. Lo anak kesayangan Ayah, pasti mereka nggak maksa lo." lanjut Azka.
"Tanpa lo suruh gue bakal ngelakuin itu. Gue tahu lo cinta banget sama Salsa. Dan lo tahu?" Alana mengantung kalimatnya. "Dia juga masih cinta sama lo Ka."
"Gue tahu." sahut Azka senyum miring.
"Nah kan kumat." cibirnya.
Azka bangkit dari duduknya, kemudian memandanginya. "Perkataan gue ini mungkin egois dan bukan diri gue Al. Tapi gue tarik semua kata-kata gue pas di taman belakang sekolah. Gue mau lo nikah sama pak Alvi dengan begitu kita tidak perlu di jodohkan lagi."
Entahla ancaman apa yang di pakai Om Ans hingga membua ketua Avegas yang terkenal kejam tak berkutik.
"Lo tenang aja, gue janji perjodohan ini tidak akan terjadi." Ujarnya dengan senyum mengambang.
"Thanks."
"Gue ngantuk Ka." Alana mengambil lengan Azka kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Azka. Hal yang selalu dia lakukan jika jalan bersama ketua Avegas.
Jika ada yang mengatakan kedekatan Cowok dan Cewek mustahil akan terjalin tanpa perasaan. Maka dia adalah orang pertama yang akan menyangkalnya, puluhan tahun bersahabat dengan Azka tak pernah sekalipun terbesit perasaan cinta dalam hatinya.
...TBC...
__ADS_1