Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 113


__ADS_3

Berpisah di parkiran membuat Alana harus berjalan sendiri menuju ruangan tiga, sesi dua untuk melaksanakan ujian sekolah. Senyum Alana mengembang saat melihat beberapa anggota Avegas disana, ia melambaikan tangannya.


"Woy!" teriaknya membuat yang lain menoleh.


"Muke gila lo Al baru datang jam segini," ujar Rayhan.


Pukul 08:53 Alana baru datang padahal sesi dua masuk jam 09:00.


"Kayak lo nggak tau aja dia punya bayi Ray," ledek Ricky.


Salsa yang baru saja dari ruang guru ikut bergabung dengan mereka tentu saja membawa informasi untuk pelaksanaan ujian nanti.


"Kalian pada bawa card ujian kan?" tanya Salsa setelah mendudukan diri di teras depan ruangan tiga.


"Bawa dong!" sahut Rayhan, Ricky, dan beberapa anggota Avegas yang kebetulan satu ruangan bersama Alana.


Alana segera memeriksa cardnya di dalam tas tetapi nihil ia tidak menemukan benda tipis itu, seketika ia panik apa lagi ketika melihat beberapa siswa ruangan tiga sesi satu keluar.


"Jangan bilang lo nggak bawa?"


Alana mengeleng tak membenarkan tuduhan Salsa. "Gue bawa, gue yakin pas turun dari motor tadi pak Alvi ngasih."


"Eh...eh lo mau kemana?" teriak Salsa saat Alana berlari di koridor sekolah menuju parkiran.


"Mau nyari card gue," sahutnya.


Alana berjalan secara perlahan menyusuri jalan yang ia lewati tadi berharap benda yang ia cari ketemu, tetapi nihil dua kali ia bolak-balik tapi tak menemukan apapun, hingga seseorang memanggilnya dari arah berlawanan.


Ia mendongak dan mendapati pak Dirga berdiri dengan senyuman manisnya di sana.

__ADS_1


"Nyari ini?" Memperlihatkan card ujian Alana.


Alana mengangguk, menghampiri pak Dirga dan langsung memeluknya tanpa banyak pikir sakin bahagianya. "Makasih pak, nggak kebayang kalau card saya beneran hilang."


Dirga mematung dengan jantung berdetak sangat cepat, ini pertama kali dalam hidupnya gadis yang ia kejar-kejar memeluknya seperti ini. Dirga berharap waktu dapat berhenti untuk waktu yang lama agar ia bisa merasakan kehangatan tubuh gadis yang sangat ia cintai.


Semua lamunan dan hayalannya buyar ketika Alana melerai pelukannya lalu mengambil card di tangan kanannya.


"Rasanya terima kasih aja nggak cukup buat pak Dirga."


"Kamu mau berterimakasih dengan benar?" seringai Dirga.


Alana mengangguk.


"Gampang-" Dirga menjeda. "Ceraikan Alvi dan menikah dengan saya!"


"Canda,"


Alana memandagi punggun kekar pak Dirga yang semakin jauh, walau perkataan pak Dirga hanya candaan, tapi Alana terganggu dengan kata cerai yang di ucapkan Dirga, bagaimana jika sebaliknya? mungkin hidupnya akan hancur saat itu juga.


"Giliran sesi dua, card lo udah ketemu?" Salsa menepuk pundak Alana.


"Udah."


Hari pertama ujian berjalan lancar tanpa hambatan apapun, materi yang ia pelajari semalam hampir semuanya keluar, walau ada beberapa yang tidak ia mengerti. Alana tak lupa mencatat beberapa soal yang ia tidak mengerti untuk di tanyakan pada Alvi pulang sekolah nanti.


Konsentrasinya terganggu ketika Rayhan yang berada di belakangnya menarik rambutnya.


"Contekan," gumam Rayhan walau laki-laki itu fokus pada komputer di depannya, pura-pura serius.

__ADS_1


"Nggak ada."


"Pelit lo Al."


Alana mengedikkan bahu acuh, usai menjawab semua soal-soal ujian, gadis itu bangkit dari duduknya, tak lupa melempar kertas ke Rayhan tanpa pengawas tahu.


Kurangnya pertemanan Alana dengan perempuan, membuatnya ikut bergabung dengan Anggota Avegas yang sedang bermain gitar di bawah pohon mangga yang lumayan teduh. Ikut bernyanyi dan senda gurau sembari menunggu Alvi mengawas di ruangan lain.


Rayhan yang baru saja keluar bersama Ricky dan Salsa ikut bergabung, laki-laki itu langsung duduk di samping sepupunya lalu melingkarkan tangan kekar di punggung Alana.


"Tumben akur," Sindir Keenan.


"Sepupu gue paling baik nih." Bangga Rayhan.


"Muji teros!" sindir Racky kesal pada Rayhan karena tidak mendapat contekan. "Di beri contekan tuh"


Semuanya tertawa melihat perdebatan Ricky dan Rayhan yang tidak ada ujungnya, Alana seperti menemukan dirinya kembali, berkumpul dengan anggota Avegas seperti ini hampir tak pernah lagi semenjak mereka menikah karena Alvi selalu mengekorinya.


Suara notifikasi pesan masuk di ponsel barunya ia hiraukan dan lebih memilih seru-seruan dengan teman-temannya hingga deringan ponsel itu terdengar nyaring beberapa kali.


Alana menelan salivanya kasar melihat siapa penelfon itu, ia mengkode yang lainnya untuk diam setelahnya menjawab panggilan dari Alvi.


"Iya Aa, kenapa?"


"Dalam satu menit kamu tidak pergi dari sana, Aa bakal samperin."


...TBC...


Jangan lupa Vote, komen, dan Like ya akak sayang

__ADS_1


__ADS_2