Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 125


__ADS_3

Berjalan beriringan dikoridor sekolah menuju parkiran membuat Alvi dan Tania menjadi pusat perhatian para siswa kelas X dan XI. Mereka sangat serasi mempunyai profesi sebagia guru juga kecerdasan masing-masing, bahkan siswa yang dari dulu tidak terlalu respek dengan Alana memuji Tania lebih cocok dengan Alvi di banding Alana.


"Gimana kabar kamu?" Tania memulai pembicaraan setelah lama terdiam.


"Baik," cuek Alvi tetap fokus ke depan tak ada niatan menoleh sedikitpun.



Tania mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, semakin merapatkan tangannya agar bisa bersentuhan dengan Alvi, tetapi lelaki itu malah memindahkan buku di tangan kiri ke tangan kanan alhasil Tania tidak bisa mengenggamnya.


"Kenapa lo kembali? dan kenapa harus SMA Angkasa?" tanya Alvi menghentikan langkahnya setelah berada di parkiran.


"Lo tau alasan gue kembali, jadi buat apa bertanya?" sahut Tania di sertai kekehan kecil. "Mengajar di sekolah sendiri adalah hal yang menyenangkan, apa lagi ada lo."


"Lo udah punya pacar?"


"Belum ada yang pas," jawab Tania.


Tak ingin berlama-lama dan membuat Alana menunggu, Alvi segera masuk kedalam mobil lalu melajukannya meninggalkan pekarangan sekolah. Ia berhenti di depan sekolah untuk membeli batagor pesanan sang Istri barulah melesatkan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


Satu hal yang selalu membuatnya ingin pulang adalah, ketika melihat Alana berdiri di depan pintu dengan senyuman hanya untuk meyambut kedatangannya.


"Gimana di sekolah?" tanya Alana bergelayut manja di lengan Alvi setelah melakukan ritual cium tangan dan cium kening.


"Seperti biasa," jawab Alvi.


"Pesanan aku mana? jangan bilang Aa lupa."

__ADS_1


"Nggak akan sayang." Memperlihatkan kresek di tangan kirinya, Alvi menyimpannya di atas meja makan menyuruh bi Jumi menyiapkannya untuk Alana.


"Bi Neneng, mana bi?" tanya Alana.


"Di belakang nyonya, mau saya panggilkan."


Alana mengeleng. "Nggak usah, saya cuma nyari takutnya kenapa-napa."


Sembari menunggu Alvi selesai mandi, Alana menyiapkan segala kebutuhan Alvi dirumah.


Alvi terus memandangi wajah cantik gadisnya sedang melahap batagor yang ia beli, sesekali mengusap sudut bibir gadis itu dengan tisu jika terlihat belepotan.


"Jangan di liatin terus Aa malu ih," tegur Alana.


"Nggak bisa, godaannya terlalu besar," jawab Alvi mengulum senyum.


"Buku mulut!" perintah Alana menyuapkan batagor pada Alvi.


"Ada kurir yang nyari Nonya."


"Lanjut aja makannya! biar Aa yang ngambil."


"Nggak mau."


Alana segera berlari ke pintu utama tak ingin Alvi mengetahui isi paket yang baru saja datang. Alana menyembunyikan paket itu di dikamar, barulah kembali ke meja makan.


"Paket apa?" selidik Alvi.

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Aa mau lagi?"


Alvi mengajak Alana jalan-jalan sore mumpung ada waktu tapi gadisnya lagi-lagi lebih memilih nonton drakor di rumah dari pada harus keluar. Alhasil Alvi juga ikut nonton dengan gadisnya.


Alana dan Alvi tidur tengkurap dengan laptop di hadapan mereka, bedanya Alana fokus pada layar sedangkan Alvi malah fokus memandangi wajah mengemaskan sang istri. Kaki lelaki itu mulai nakal menindih kaki munggil sang istri.


"Aa liat ke kayar! Lagi seru-serunya loh."


"Lebih menarik liatin kamu."


"Hilih," cibir Alana kembali fokus pada layar.


Alvi mengecup pipi gadisnya sebentar, tidur menyamping bertopang kepala menghadap sang istri.


"Udah siap ninggalin Negara tercinta?" tanya Alvi.


"Masih lama Aa, pengumuman lulusnya aja belum."


"Yah padahal Aa udah ngebet pengen pergi."


"Napa sih? buru-buru amat, ada yang ngejar?"


Alvi mengeleng, menarik Alana kepelukannya. "Aa kurang menarik apa sampai kamu anggurin hanya untuk liat oppa nggak jelas kamu itu, Hm?"


"Kumat lagi kan posesifnya."


"Harus, biar nggak di ambil orang." Mengecup bibir Alana berulang kali.

__ADS_1


...TBC...


Jangan lupa komen, like, dan vote nya akak cantik, dukungan kalian adalah semangat dedek.


__ADS_2