Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 49


__ADS_3

Matahari mulai menampakkan sinarnya, memasuki ventilasi udara kamar sepasang kekasih yang masih asik berpelukan di dalam selimut. Gadis berambut indah tersebut mengeliat dalam pelukan Alvi. Membuat lelaki itu terbangun.


Alvi mengerjap-erjapkan matanya menyesuaikan netranya dengan pancaran cahaya. Ia senyum tipis menghadap gadis berambut indah itu.


"Pagi!" sapa Alvi memajukan wajahnya hendak mengecup kening Alana, tetapi gadis itu malah bangun tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskanya secara perlahan, salah apa lagi ia pagi-pagi hingga membuat Alana bersikap seperti itu. Biasanya Alana yang selalu menyambut dirinya di pagi hari, memperlihatkan senyum indah yang membuatnya semangat menjalani hari, tetapi sekarang hanya wajah di tekuk yang ia lihat.


Usai sarapan, Alvi menunggu kebiasaan Alana setiap hari sabtu, yaitu mengantarnya sampai didepan pintu, karena sang istri tidak sekolah jika hari sabtu.


"Aku pamit." ujar Alvi menunggu respon Alana.


"Hm." gumam Alana fokus pada ponselnya, dengan Tv menyala di depannya.


"Alana aku mau ke kantor."


"Iya."


"Aku berangkat."


"Ya udah sana, dari tadi pamit mulu nggak pergi-pergi!" suara Alana naik satu oktaf namun pandangannya masih setia dengan benda pipih yang ia pegang.


Bukannya pergi Alvi malah melepas jas hitamnya lalu melemparnya ke sofa, duduk si samping Alana, moodnya berangkat kerja tiba-tiba hilang karena sikap tak biasa Alana di pagi hari.


"Kenapa nggak pergi?" heran Alana.


"Malas." jawab Alvi berharap gadisnya akan protes.


"Oh." jawab Alana acuh berjalan meninggalkan Alvi, di ruang tamu, tubuhnya sudah gerah, ia ingin mandi agar lebih fres.


Ia tersentak kala lengan kekar melingkar di pinggang rampingnya, ia berusaha melepas lengan kekar itu dengan kasar. "Apaan sih pak, mingir gue mau ganti baju." ketus Alana.


Gue? Pak? ada apa sebenarnya dengan Alana, kenapa tiba-tiba berubah, rasanya ia ingin melempar apa saja yang ada di depannya, sikap cuek Alana sungguh menyiksanya ini baru beberapa jam, tapi ia sudah hilang kendali.


Apa gadis berambut indah itu marah karena ia tidak ingin tinggal di rumah utama bersama kakek Farhan?


Dengan sigap ia membalik tubuh mungil itu agar menghadapnya, mengunci pergerakan Alana di depan lemari, mata elangnya menatap teduh gadis di hadapannya. "Kamu kenapa, Hm?"


"Aku kenapa?" ulang Alana berusaha melepaskan diri dari Alvi


"Baiklah kita akan tinggal di rumah utama bersama kakek, tapi jangan bersikap seperti ini." bujuk Alvi.


"Gue mau pakai baju pak, lepasin ih."


"Aku bukan guru kamu, stop panggil aku Pak!" bentak Alvi tanpa sadar membuat jatung gadis di depannya berpacu lebih cepat, kaget akan bentakan yang di lontarkan Alvi pagi-pagi seperti ini.


"Nggak usah ngebentak gitu, gue nggak suka!" lirih Alana dengan suara bergetar.


Tersadar akan kelakuannya, Alvi menarik Alana ke dalam pelukannya. "Maaf...Aa nggak suka kamu panggi Pak jika sedang berdua."


"Bacot!" Alana melerai pelukan Alvi, membuka lemari dengan kasar, mengambil setelan rumah, lalu masuk kedalam kamar mandi.


Bukannya memperbaiki, Alvi malah memperkeruh suasana. Lelaki tersebut terus mengekori kemanapun Alana pergi, hampir dua bulan mereka menikah, baru kali ini Alana irit bicara padanya.


Matahari di sebelah barat mulai tengelam memudarkan warna jingga tergantikan dengan gelapnya malam namun sikap Alana masih sama seperti pagi tadi.

__ADS_1


Alvi menghampiri Alana yang kini sibuk berkutat di dapur dengan Bi Neneng. Ia sedikit melongo melihat bahan-bahan makanan di dapur, siapa yang akan memakan semua ini?


"Alana." panggil Alvi, memeluk Alana dari belakang, menumpu dagunya di pundak Alana, sesekali menciumi ceruk leher gadis itu, menghiraukan keberadaan Bi neneng di sana.


"Bi tolong ini di cuci ya." Alana menyerahkan tomat dan beberapa buah lainnya pada Bi Neneng, menghiraukan keberadaan Alvi yang kini memeluknya.


"Minggir ih."


"Maaf, jangan cuekin aku lagi Al." manja Alvi.


"Bi ini juga ya!" lagi, Alana mengabaikan lelaki itu.


"Pintu keluar ada di depan." ujar Alvi dingin tanpa melirik bi Neneng.


Mengerti arti kalimat Tuannya, Bi Neneng buru-buru menyelesaikan perintah Alana, lalu berjalan menjauhi sepasang kekasih itu. Sepertinya perang dunia ketiga akan segera di mulai setelah ia menghilang di balik pintu.


"Pergilah Bi, dan jangan datang besok." sontak langkah bi Neneng terhenti. Wanita paruh baya itu kini kebingungan, harus mendengarkan Tuannya atau nyonyanya. Kenapa ia harus telibat dalam petengkaran kedua sejoli itu.


"Jangan lupa kunci pintu." Alvi kembali bersuara tanpa merubah pisisinya, memeluk Alana dari belakang.


"Nggak usah di dengerin bi, lanjut aja, aku ke kamar dulu."


Akhirnya wanita paruh baya itu bisa benafas lega ketika melihat Tuan dan Nyonya menaiki satu persatu anak tangga, di mana Alvi mengekori Alana. Baru kali ini bi Neneng melihat sikap asli Alvi. Wajah garang yang sering Tuannya perlihatkan hilang begitu saja ketika di depan gadis remaja.


Grep


Alvi menarik Alana masuk kedalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu. "Aa minta maaf kalau ada salah, jangan gambek, plis." mohon Alvi, tetapi Alana hanya bergeming tidak menolak tidak juga menerima.


Jam 12 kurang 5 menit Alvi terbangun ketika merasakan sesak akibat tindihan seseorang, ia mengerjap-erjapkan matanya dan mendapati Alana tengah tersenyum dengan posis tengkurap di atasnya. Refleks tangannya melingkar di pinggang gadis berambut indah tersebut takut Alana terjatuh.


Gadis berambut indah tersebut bertopang dagu di atas dada bidang Alvi, mengerjap-erjapkan matanya sembari tersenyum. Sudut bibir Alvi ikut tetarik melihat senyuman indah itu, senyuman yang ia rindukan beberapa jam yang lalu.


"Kapan aku marah Aa sayang?" gemes Alana mengecup bibir tebal lelaki itu. "Happy brojol suamiku sayang." Bisik Alana di telinga Alvi.


Brugh


Tubuh Alana terjatuh kesamping dengan Alvi yang menindihnya. "Jangan bersikap seperti tadi Alana, kamu membuatku takut." tatapan mereka bertemu.


"Heheheh...Maaf Aa." cengir Alana tanpa dosa mendorong tubuh kekar Alvi ke samping lalu memeluknya.


Hampir saja rencana Alana gagal melihat betapa mengemaskannya tingkah Alvi seharian, mengekorinya kemanapun, merengek hanya karena ia diamkan. Sikap dingin Alvi benar-benar hilang hari ini.


"Jangan nakal Aa!" tegur Alana ketika tangan Alvi mulai aktif membuka satu persatu kancing piyamanya.


"Hm." gumam Alvi masih sibuk dengan kegiatannya.


"Aku ada hadiah buat Aa."


"Ini sudah cukup."


"Aaahhh..." Alana melenguh ketika Alvi menyesap, mengigit gunung kembarnya, meninggalkan jejek kepemilikan di sana.


Ia mendorong tubuh kekar itu, ia tidak marah, tapi masih kesal akan bentakan Alvi tadi pagi. Baru kali ini Alvi membentaknya.


"Malam ini nggak ada jatah." Ia bangun dari tidurnya merapikan piyamanya yang kini amburadul akibat kenakalan Alvi.

__ADS_1


"Alana." Manja Alvi memeluk Alana menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu.


"Baiklah." Senyum Alvi mereka mendegar kata itu keluar dari mulut Alana hanya satu kata namun mempunyai banyak makna.


"Tapi ikut aku ketaman dulu."


"Nggak, di luar dingin kamu bisa sakit." tolak Alvi.


"Yaudah, tidur sana!"


"Iya...iya." pasrah Alvi, turun dari ranjang,berjalan ke arah lemari mengambil jaket tebal berbulu lalu memasangkannya di tubuh Alana.


Ia mengelus puncak kelapa Alana, gadis itu terlihat sangat mengemaskan memakai jaket kebesaran miliknya.


"Gendong." ujar Alana seperti anak kecil, merentangkan tangannya, memaju mundurkan kakinya yang menjuntai kelantai.


Hap


Dalam sekejap tubuh Alana melayang, dalam gendongan Alvi, ia melingkarkan tangan mungilnya di leher lelaki itu. "Lari Aa!" serunya menepuk pundak lelaki itu.


Malam yang sunyi di dalam rumah sederhana itu di penuhi tawa Alana dan juga Alvi. Lelaki itu dengan senang hati menuruti perintah istrinya, berlari mengelilingi rumah hanya untuk menyenangkan sang istri.


"Ahhhahaha, udah Aa...udah aku capek." ujar Alana dengan nafas tersengal-sengal. "Aa kuat banget." pujinya setelah Alvi menurunkannya di taman belakang, ia mengeringkan keringat Alvi dengan tangannya lalu mengecup kening itu. "Selamat ulang tahun Aa sayangku."


"Tada!" Alana merentangkan tangannya lebar-lebar, memperlihatkan kejutan yang ia persiapkan untuk Alvi. Tenda kemping, kayu untuk api unggung, dan karpet yang berisi berbagai makanan beserta kue ulang tahun yang di atasnya terdapat lilin Angka 28.


Kejutan sederhana namun mampu membuat jantung Alvi berdetak lebih cepat, bukan karena kejutannya, namun perhatian yang di berikan Alana membuatnya tersentuh.


Cup


"Terimakasih istriku." ujar Alvi setelah mengecup kening Alana.


"Itu aja?"


"Iya." jawab Alvi.


"Nggak romantis." cibir Alana berjalan menuju tenda lalu duduk di atas karpet.


Alvi hanya bisa mengeleng melihat sikap Alana, ia ikut mendekati tenda, sebelum duduk ia menyalakan api unggun agar mereka tidak terlalu kedinginan.


Ia duduk di samping Alana, melingkarkan tangannya pada pinggang gadis itu, lalu menarik kepala Alana agar bersandar di dadanya. Menunduk sedikit kemudian membisikkan sesuatu di telinga gadis berambut indah tersebut.


"Terimakasih istriku ter sayang."


Blush


Pipi Alana merona mendengar bisikan lembut Alvi. Ia sudah biasa menggoda Alvi, tapi rasanya beda jika lelaki itu mengucapkannya dengan inisiatif sendiri.


"Sama-sama suamiku sayang."


...TBC...


Hay-hay author balik lagi nih.


Author : Sebelumnya aku minta maaf ya nggak up beberapa hari ini.

__ADS_1


Deterjen😏: Eits, jangan sok dulu thor, belum tentu para readers nungguin lo. Jiah kepedean.


Author : Oh gitu ya🥺


__ADS_2