Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 21


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, hingga tak terasa tiga hari serasa satu hari saja bagi Alvi. Dan mau tidak mau dia harus menghadapi kekerasan kepala kakek Farhan lagi. Dan semoga kali ini membuahkan hasil yang memuaskan.


"Bagaimana, sudah dapat alasan yang tepat?" tanya Kakek Farhan kearahnya dan di jawab anggukan olehnya.


Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghebuskanya. "Sudah." jawabnya.


"Alvi akan memaparkan alasannya, tapi tolong kakek jangan menyela sampai Alvi selesai bicara." pintanya sebelum menjelaskan semuanya.


"Pertama." dia menjeda kalimatnya. "Kami terlalu banyak perbedaan."


"Perbedaan bukan masalah, sudah seharusnya pasangan saling melengkapi. Kamu sedang mencari istir bukan mencari partner kerja di mana kalian harus sama-sama miliki kesamaan."


Dia menghela nafas, belum juga selesai bicara Kakek Farhan sudah menyela pembicaraanya.


"Dia terlalu ceroboh bagi Alvi, dia terlalu naif, mudah tertipu. Baru-baru saja motornya hilang kena tipu."


"Dia butuh sosok sepertimu untuk mengajarinya." jawab Kakek Farhan.


Dia mengeluarkan beberapa lembar hasil penelitian yang baru saja dia selesaikan semalam, dan memperlihatkannya pada kakek Farhan.


Kakek Farhan mengambil berkas itu, lalu memandanginya. "Apa ini?"


"Hasil penelitian Alvi beberapa hari lalu, bahkan rumus matematika dan penelitian mengatakan kita tidak cocok."


Kakek Farhan tertawa mendengar penjelasannya. "Tidak semua masalah harus di selesaikan dengan rumus dan penelitian Ndo."


"Tapi Kakek sendiri yang mengajarkan Alvi tentang itu sejak Kecil."


"Tapi bukan berarti jalan hidupmu harus selalu berkaitan pada rumus Nando!"


"Terserah kakek sajalah!" pasrahnya bangkit dari duduknya merasa kesal dengan apa yang dia dapatkan hari ini.


Sudah capek-cepek dia meneliti dan merangkum semuanya namun hanya di lirik sebelah mata oleh kakek Farhan yang Notben nya sangat teliti dalam segala hal. Apa kanker otak juga bisa membuat orang bodoh? sepertinya tidak. Entahlah dia bukan dokter yang bisa memastikan itu.


"Hanya Alana yang bisa mengubah pandanganmu tentang dunia. Itu yang kakek dapatkan setelah mengenal gadis cerita itu." Sayup-sayup dia masih mendengar perkataan kakek Farhan sebelum menutup pintu rapat-rapat.


Hari-hari dia lalui dengan menyibukkan diri dengan berkerja, selain mengajar dia mengisi waktunya untuk mengurus perusahaan yang dia percayakan pada Asistennya.


Beberapa hari ini dia sengaja mengunjungi rumah sakit jika sudah larut, untuk memastikan kondisi kakeknya baik-baik saja, tanpa harus berdebat terlebih dahulu tentang pernikahan yang tak pernah dia inginkan, sebelum mendapatkan gelar Master.


Namun telpon dari dokter Angga hari ini mau tidak mau membuatnya berkunjung di sore hari, yang bisa di pastikan kakeknya masih terjaga. Dia melewati ruangan kakek Farhan, kemudian menuju ruangan Dokter Angga.


Dia tertegung kala mendengar penuturan dokter Angga tentang kesehatan kakek Farhan.

__ADS_1


"Kondisi pak Farhan memang terlihat baik-baik saja. Namun kanker yang yang bersarang dalam kepalanya sewaktu-waktu dapat menyerang tanpa bisa di cegah."


Dia masih terdiam mendengarkan penjelasan dokter Angga selanjutnya.


"Perkiraan waktu yang masih pak Farhan miliki sekitar satu tahun lagi. Kami para dokter hanya bisa memperkirakan. Semuanya kembali pada Allah."


"Jangan sampai menyia-nyiakan waktu yang tersisa Vi, bahagiakan pak Farhan selagi dia ada, jangan sampai kamu menyesal suatu saat nanti." nasehat dokter Angga di balas anggukan olehnya.


Sebelum pulang dia menyempatkan diri keruangan kakeknya dan mendapati seorang gadis akan membuka pintu ruang rawat kakeknya.


"Kamu."


Gadis itu berbalik dan tersenyum kearahnya.


"Kenapa kamu kesini?" tanyanya lagi.


"Saya datang karena di telpon sama kakek Farhan." Jawab Alana kemudian nyosor masuk kedalam ruangan kakek Farhan di susul olehnya.


Dia mendudukkan diri di sofa, menyalakan TV yang sama sekali tidak menarik untuknya, hanya untuk pengalihan perhatian dari dua orang berbeda generasi yang tengah asik bergurau.


"Alvi." panggil kakek Farhan padanya.


Dia melangkah mendekat dan berdiri di samping Alana. Kakek menyerahkan kertas not padanya.


Dia memandangi kertas yang di pegangnya bergantian dengan kakek Farhan. Aneh biasanya kakek Farhan akan menyuruh orang suruhannya untuk membeli semua keperluannya tapi sekarang? kenapa harus dia? dan harus di temani Alana? yang ada semuanya menjadi kacau.


"Alana bisa sendiri Kek." jawab Alana merebut kertas itu dari tangannya. "Pak Alvi pasti sangat sibuk." Alana memandanginya "Iya kan!" tanyanya terdengar penuh tekanan.


"Iya." jawabnya.


"Belanjaan itu sangat banyak, Alana tidak akan mampu membawanya."


"Tapi..."


"Uhuk...uhuk..." kakek Farhan memegangi dadanya.


"Iya...Iya." pasrahnya.


"Ayo." panggilnya pada Alana tanpa memandangi gadis itu.


"Alana pergi dulu kek." Alana melambaykan tangannya.


Sebelum keluar dari ruangan kakek Farhan, pria itu berbisik sesuatu di telinganya. "Pergunakan penglihatan sempurna mu, untuk menilai gadis yang tidak sempurna seperti Alana."

__ADS_1


***


Belanja adalah keahlian semua wanita mungkin? dan itu juga berlaku bagi Alana. Belanja adalah hal yang sangat menyenangkan. Dia sibuk mengelilingi rak-rak di indoapril. Mendorong troli sekencang mungkin. Kemudian melompat ke pembatas dekat roda untuk menumpu tubuhnya seperti anak kecil yang sedang bermain mobil-mobil.


Dia cekikikan sendiri sembari memperhatikan pak Alvi yang tengah mencari barang yang di perlukan kakek Farhan.


Dia menghampiri pak Alvi kala melihat om-om itu terlihat membandingkan beberapa merk sabun cair dengan waktu yang lama.


"Kenapa pak?"


Pak Alvi menjelaskan perbedaan dua produk itu, mulai dari komposisi sampai isi kandungan versi matematika dan dia tidak mengerti itu dan hanya mengut-mangut saja.


Dia menyela dan mendorong tubuh pak Alvi agar menyingkir. "Biar saya saja!"


Dia mengambil dua sabun cair yang berbeda merek itu, dan menciumi aromanya. "Yang ini saja." ujarnya memasukkan kedalam troli.


"Secepat itu mengambil keputusan?"


"Ini wanginya enak, kayaknya nyaman kalau di pakai sama kakek Farhan."


Dia dan pak Alvi berjalan berdampingan mencari apa-apa saja yang masih kurang. Mereka berdua berhenti di tempat rak sendal rumah. Tanpa pikir lama dia mengambil salah satu sendal berwarna merah, lalu masukkannya kedalama troli.


"Kenapa milih itu?"


Dia merengut, selama dia berbelanja pak Alvi selalu mengoceh membuat telinga pegal saja


Secepat itu?


Nggak di pikirin dulu?


Masih ada waktu 3 menit untuk berfikir.


"Ini udah bagus, warnanya cerah terus nggak licin baik digunakan sama kakek." jelasnya kemudian melangkah meninggalkan pak Alvi.


Setelah mendapatkan semuanya yang dia mau, dia mendorong troli itu kearah kasir dan mengantri bersama pak Alvi. Dia menopang dagu di pegangan troli kala mendapati pelangan di depannya tengah berdebat di depan meja kasir membuat antrean semakin panjang.


Dia mengembangkan senyumnya kala ibu-ibu itu memandanginnya. "Boleh saya pinjam uang nya? ibu lupa dompet di rumah, rumahnya dekat sini kok."


Dia melirik kasir dan pak Alvi yang mengeleng kearahnya, memberi kode agar tak memberi ibu-ibu itu uang.


...TBC...


Apa yang akan di lakukan Alana hayo?

__ADS_1


__ADS_2