Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 37


__ADS_3

Alana. Gadis berambut indah tersebut tak henti-hentinya mengerutu panjang pendek sembari mengikuti langkah lebar Alvi menuju ruang guru.


Belum cukupkah hukuman menghapus papan tulis setelah pelajaran usai? hingga ia harus mengantar buku tugas teman-temannya ke ruangan Alvi?


Ia tidak tahu apa kesalahannya hingga Alvi menghukumnya seperti ini, ia juga sudah berlajar semaksimal mungkin saat pelajaran berlangsung. Masa hanya karena duduk dengan Azka membuatnya di hukum?


"Udah." Ujar Alana meletakkan setumpuk buku yang ia bawa ke atas meja Alvi.


"Jangan duduk dengan lawan jenis." Peringatan Alvi tanpa melirik Alana, ia hanya sibuk mencari sesuatu di dalam laci mejanya.


Mata Alana membulat sempurna, benarkan tebakannya? Alvi marah karena ia duduk dengan Azka? yang benar saja. Sudut bibir gadis indah tersebut terangkat, benarkah Alvi cemburu padanya? jika itu benar, haruskah Alana menari di sini sakin bahagianya?


"Aa cemburu?" Alana mengulum senyum.


Alvi menatap datar Alana. "Jangan bawa-bawa urusan pribadi ke sekolah!" Tegur Alvi. "Keluarlah!"


"Cemburu juga nggak papa pak." Goda Alana setelah itu menghilang di balik pintu.


Alvi. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang, melihat Alana duduk dengan Azka membuatnya kesal dan marah, apa lagi jika mengingat bahwa Azka adalah cowok yang pernah di jodohkan dengan Alana. Cowok yang membuat harga dirinya turun karena di tolak oleh ayah mertuanya.


Cemburu? cemburu hanya di rasakan pada seseorang yang sedang jatuh cinta, tapi sekarang ia tidak merasakan hal tersebut. Ia hanya kesal bukan cemburu. Alvi selalu menekankan itu dalam hatinya, tak ingin percaya bahwa kini ia punya rasa pada istrinya sendiri. Rasanya aneh bisa luluh pada gadis remaja seperti Alana, padahal selama ini Ia tidak berminat menjalin hubungan dengan siapapun, bahkan dengan Tania yang selalu di sebut Devan saat mereka bertemu.


Tak ingin membuang waktu, Alvi bangkit dari duduknya menuju kantin guru, karena sekarang waktunya makan siang. Kebetulan kantin guru dan kantin murid bersebrangan membuat Alvi harus melewati kantin siswa terlebih dahulu. Langkah pria tampan tersebut berhenti di pintu kantin khusus murid saat melihat Alana berdiri mengantri makanan, berdesak desakan dengan siswa cowok.


Tak suka melihat pemandangan tak mengenakkan hati tersebut, tanpa pikir panjang ia mamasuki kantin siswa membuat kaum hawa menjerit histeris melihat kedatangan Alvi.


"Ohmaygood mimpi apa gue semalam bisa liat pak Alvi di kantin!"


"Pak Alvi nyamperin gue." Histeris salah satu siswi hits yang kini berdiri di depan Alana.


Kini semua mata tertuju pada Alana kala pak Alvi berheti tepat di belakangnya. Merasa di perhatikan, Alana berbalik dan tertegung melihat pemandangan indah di depannya, wajah datar Alvi berada di hadapannya.


"Pa..pak Alvi." Tiba-tiba Alana di landa kegugupan.

__ADS_1


"Ikut saya!"


"Saya lapar pak." Tolak Alana halus.


"Ikut saya sekarang!" Ulang Alvi kini suaranya semakin datar.


Alana melempar senyum kaku pada teman-teman sekolahnya, lalu mengikuti langkah lebar Alvi keluar dari kantin. Dan disinilah ia berada, di kantin guru, bersama beberapa guru yang melihatnya aneh. Sebenarnya mau pak Alvi apa ? membawanya ke kantin guru. Ia sangat malu pada guru-guru yang sedang memandanginya penuh selidik, apa lagi ibu Rita guru cantik yang ia tahu mengerjar-ngejar pak Alvi dan semua orang mendukungnya.


"Makan, sebentar lagi bel berbunyi!" Titah Alvi.


Bukannya makan Alana malah memandangi makanan di depannya, ada beberapa sup dan kangkung tumis, lauk ikan dan juga ayam.


Alana menyingkirkan kangkung tumis dan ikan di hadapannya, karena memang dari dulu ia tidak suka makan sayur dan juga ikan.


"Kenapa nggak di makan?" heran Alvi.


"Nggak suka pak."


Bukannya mengerti, Alvi malah kembali menyodorkan kedua makanan yang tidak di sukai Alana. "Makan." Alvi mengatung kalimatnya. "Kangkung baik bagi kesehatan mata, dan ikan baik untuk kesehan otak." Ceramah Alvi mulai mengatur pola makan Alana.


Alvi menaikkan salah satu alisnya "Cerdas?" tanyanya terdengar mengejek di telinga Alana.


"Iya...iya saya tahu, saya nggak cerdas seperti pak Alvi." Kesal Alana meletakkan sendok yang ia pakai. Kesal karen Alvi mulai mengatur dirinya, dan ia tidak suka di atur. "Saya susah kenyang." Alana bangkit dari duduknya namun di cegah oleh Alvi.


Darah Alana berdesir kekesalannya menguap seketika saat merasakan tangan besar Alvi menyentuh sudut bibirnya. Astaga jantung gadis berambut indah tersebut mulai tidak aman sekarang, kenapa semakin hari jantung Alana semakin susah di kontrol jika bersama Alvi.


"Ada nasi di bibir kamu." santai Alvi, lalu kembali melahap makannya.


***


Sejak tadi menghilang di kanting, Alana kembali kekelas dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya, mambuat Salsa yang sedari tadi mencarinya mengerutkan kening, merasa aneh dengan tingkah Alana.


"Napa lo Al?"

__ADS_1


Gadis berambut indah tersebut memegangi dadanya. "Jantung gue Sal." keluhnya duduk di samping Salsa.


Tangan Salsa bergetar seketika kala melihat Alana terduduk lemah di sampingnya.


"Lo baik-baik saja kan Al?" Panik Salsa.


Alana menganguk tanpa dosa. "Jantung gue nggak aman setelah bertemu pak Alvi "


Plak


Gamparan mendarat mulus di kepala Alana, Salsa sangat kesal melihat tingkah temannya. Setelah menikah Alana benar-benar berubah bucin, selalu bercerita tentang Alvi padanya, jika di tanya apa lo cinta sama Alvi? jawabannya selau nggak tahu, tapi gelagatnya seperti jatuh cinta over dosis.


"Oh iya, tadi Azka nyanyain lo."


"Lo bilang apa?" kepo Salsa.


"Bilang lo nggak datang ke sekolah." Santai Alana tanpa dosa. "Gara-gara sih Azka tuh gue....woy lo mau kemana Sal?" Teriak Alana kala melihat Salsa berlari keluar dari kelasnya.


"Nyariin Azka!" sahut Salsa dari jauh.


***


Berbeda saat mereka bertemu, kini sikap Alvi pada Alana sangat dingin, sepanjang jalan Alvi tak mengucapkan sepatah katapun padanya. Bahkan malam harinya Alvi hanya memberi Alana tugas setelah itu beralih masuk ke ruangan kerjanya tanpa menegur atau mengawasi Alana belajar.


Gadis berambut indah tersebut menggigit ujung pulpennya, memikirkan kesalahan apa yang ia lakukan hingga membuat Alvi bersikap dingin padanya. Sudah cukup cuaca malam ini yang dingin menusuk kulit putihnya, jangan sikap suaminya.


Alana sudah mengerjakan semua soal-soal yang di berikan Alvi, jadi ia tinggal menunggu kedatangan Alvi masuk ke dalam kamar.


"Aa marah?" tanya Alana hati-hati ketika mereka sudah berada di atas ranjang, di mana Alvi tidur memunggunginya.


"Jangan diemin saya gitu dong a." Pinta Alana yang tidak suka kecanggungan.


"Tidurlah, besok kamu harus sekolah. Besok nggak usah berangkat bareng saya!"

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2