Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 86


__ADS_3

Hari hampir magrib, tetapi orang yang di tunggu-tunggu Alana belum memunculkan batang hidungnya, membuat gadis itu semakin kesal. Alana melempar bantal sofa sembari mengerutu.


"Dasar om-om, nggak tau apa aku lagi ngambek malah di tinggal sendiri." Alana terus mengerutu, keluar dari kamar berniat mencari Alvi yang menghilang setelah mandi.


"Masa iya, pergi nggak pamit," lirihnya.


Seperti biasa, jika Alana keluar dari kamar tujuan utamanya hanya dapur untuk menemui bi Neneng. gadis itu hanya berdiri di ambang pintu.


"Bibi nggak liat Aa?"


"Bibi tadi liat Tuan masuk ke ruang kerjanya nyonya," sahut bi Neneng.


"Nyonyanya bisa di hilangin nggak? aku berasa tua banget." protes Alana.


Sebelum masuk ke ruangan kerja Alvi, Alana sempat mengintip keluar lewat jendela memastikan mobil lelaki itu masih terparkir rapi di garasi.


Tanpa mengetok pintu, Alana menyelonong masuk begitu saja, berdiri di samping Alvi yang kini tengah fokus pada dokumen di atas meja.


"Sibuk banget perasaan sampai lupa sama istri," cibir Alana membuat Alvi mendongak. Lelaki itu melepas kaca mata bacanya, kemudian menarik Alana duduk di pangkuannya.


"Kenapa, Hm?"


"Aa nggak tau? aku tuh dari pulang sekolah ngambek. Bukannya di bujukin malah di tinggal sendiri." Omel Alana tetapi Alvi hanya membalas dengan senyuman.


"Lain kali kalau ngambek bilang sama Aa! biar Aa tau, terus bujuk kamu." Menoel cuping hidung Alana.


"Iya." Cemberut Alana.


Gadis itu mengalungkan tangannya, menyandarkan kepalanya di pundak Alvi ketika lelaki itu mengendongnya Ala anak Koala.


"Badan kamu hangat lagi."


"Dikit doang."


***


Alvi yang baru saja membaringkan tubuhnya di atas ranjang, bersiap istirahat setelah bekerja seharian jadi tertunda ketika suara Alana sudah mengelegar berbarengan dengan suara dorongan pintu kamar lumayan keras.


Alvi hanya bisa memejamkan matanya, tak ingin berdebat dengan Alana karena sedang datang bulan. Gadisnya sangat menyeramkan dan sangat sensitif dengan hal-hal kecil.


Emosi Alana semakin tersulut ketika melihat repon Alvi, lelaki itu malah bersembunyi di balik selimut dan tidur membelakanginya.


"Aa ledekin aku?" Menarik selimut yang membungkus tubuh suaminya.


Tawa Alvi semakin menjadi, membuat Alana semakin kesal, rambut lelaki itu berantakan akibat jambakan juga pukulan dari Alana.


"Ampun sayang."


Tawa Alvi tiba-tiba berhenti ketika melihat mata memerah istrinya yang siap mengeluarkan butiran-butiran bening.


"Kenapa berhenti? ayo ketawa sepuas Aa!" bentak Alana. "Puas banget kayaknya nyiksa aku."


"Alana!"


Gadis itu mengeluarkan semua isi lemari Alvi yang sangat berantakan akibat ulah pemiliknya.


"Sekarang baju Aa nggak usah di lipat, di setrika, buat orang lelah Aja. Aa mikir nggak sih? gimana lelahnya aku?" Omel Alana yang sudah lelah melihat kelakuan buruk Alvi, mengambil baju dengan cara di tarik membuat baju bagian atas berantakan, baju kotor di campur baju bersih, belum lagi jas dan sejenisnya di gantung asal di dalam kamar.


Alvi menghampiri Alana yang kini berdiri di depan lemari dengan sebukit pakaiannya yang berantakan


"Udah marahnya" tanya Alvi tanpa tersulut emosi sedikit pun.


"Udah."


Alvi tersenyum, merentangkan tangannya lebar-lebar. "Sini peluk!" panggilnya.


"Aa nggak marah aku omelin?" lirih Alana dalam dekapan Alvi.


Lelaki itu hanya mengeleng, terus mengelus rambut indah gadisnya. "Aa nggak bisa marah sama kamu." Tenang Alvi.


***

__ADS_1


Sembari menunggu kepulangan Alvi dari kantor, Alana bersantai ria di taman belakang, dengan segelas susu jua beberapa cemilan. Gadis itu duduk di pinggir kolam, mencelupkan kakinya, merasai dinginnya air di sore hari.


"Dingin banget," lirih Alana, kembali menaikkan kakinya, baru saja akan meminum susu, suara Alvi mengucap salah terdegar.


Buru-buru gadis itu berdiri, ingin menyambut kedatangan suami tercinta, tetapi apa daya jika kakinya tersandung hingga membuatnya tercebur kedalam kolam.


Alvi yang baru saja pulang sedikit heran ketika tak mendapati Alana menyambutnya dengan senyuman, buru-buru lelaki itu menuju kamar takut terjadi sesuatu pada istrinya.


Ia mengernyit heran ketika tak mendapati Alana di sana. Lelaki itu hanya melempar jas dan juga tas kerjanya ke sofa, kembali turun ke dapur menemui bi Neneng untuk menanyakan keberadaan sang istri.


"Bi Istri saya mana?"


"Di taman belakang Tuan," sahut bi Neneng.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, Alvi berjalan menuju taman belakang dan mendapati sang istri tengah mengigil berusaha keluar dari air kolam.


Dengan sigap Alvi mengambil handuk di lemari coklat yang segaja mereka sediakan di sekitar kolam. Memakaikan pada gadisnya yang mengigil kedinginan berserta omelan yang betubi-tubi.


"Ngapain berenang sore-sore, Hm?" Masih memeluk Alana agar tidak ke dinginan. "Badan kamu masih hangat sayang, gimana kalau sakit? yang susah kamu sendiri. Nggak sakit aja malas makan, apa lagi sakit."


"Siapa yang mau berenang Aa? orang tadi kepeleset ih."


"Makanya kalau jalan hati-hati. Bagaimana seandainya kamu nggak bisa berenang? nggak ada yang nolongin? Aa udah jadi Duda kaya." Omel Alvi disertai candaan agar istrinya tidak marah.


Alvi menurunkan Alana di Bathtub perlahan-lahan setelah mengisinya air hangat.


"Mandinya jangan kelamaan, jangan main air." Peringatan Alvi sebelum keluar dari kamar mandi.


"Nggak ada niatan gitu bantuin aku mandi biar nggak lama?" Goda Alana menaik turunkan Alisnya. "Nggak usah takut Aa, aku bisa pakai tangan biar kepala Aa nggak sakit." seringai Alana


"Tabung buat nanti malam, Aa ada urusan dulu." mencium kening Alana sebelum keluar dari kamar mandi.


"Tumben," cibir Alana.


Usai mandi secepat kilat, Alana keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk sebatas paha. Gadis itu mengernyit ketika mendapati suaminya kembali rapi seperti akan pergi ke suatu tempat.


"Mau kemana rapi banget?" selidik Alana. "Mana keren banget lagi, pakai Topi, hodie, kayak mau jalan aja," lanjutnya berjalan menuju lemari pakaian.


Alana berbalik menghadap Alvi yang kini duduk di sofa dengan ponsel di tangannya.


"Harus banget keren gitu? sebenarnya mau kemana? kalau urusan kerjaan pasti nggak gini, atau urusan lain yang nggak boleh aku tau?"


"Cuma urusan kerjaan Al." jawab Alvi menghampiri Alana yang kini bersedekap dada dengan wajah murung. Ia mengecup kening Alana sebelum pamit.


"Aa pergi dulu ya!"


"Aa nggak capek? baru pulang loh. Masa iya pergi lagi. Nggak bisa di tunggu besok? penting banget?"


"Nggak bisa." mengacak-acak rambut basah Alana. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati Aa, kalau perlu nggak usah pulang sekalian, tidur di luar juga nggak papa."


Alvi hanya bisa menghela nafas panjang mendengar perkataan Alana. Ia menutup pintu kamar sepelan mungkin.


Melihat itu, Alana semakin cemberut, ia mengira Alvi akan membatalkan niatnya, bagaimana pun lelaki itu butuh istirahat nggak melulu mencari uang.


Setelah rapi dengan setelan piyama tidur bergambar kartun masya, Alana berbaring di sofa. Membuka aplikasi goofod, melihat-lihat menu makanan yang mungkin membuatnya lapar.


Mata gadis itu berbinar ketika melihat salah satu restoran menyediakan menu mie setan berbagai varian.


-Pengusir setan


-Dukun beranak


-Tuyul


-Kuyang


-Sadako


Gadis itu menyeringai, mengclaim varian Mie Setan tuyul. "Mumpung Aa nggak ada di rumah." Ia terkik geli, akhirnya bisa makan-makanan pedas tanpa kena omel dari si gunug Es.

__ADS_1


"Tuyul apa pengusir setan ya?" gumam Alana ragu memilih Varian. "Tuyul aja deh, biar bisa nyolong duit, lumayan nambah-nambah uang jajan." Gadis itu tertawa, merasa lucu pada dirinya sendiri.


Sembari menunggu pesanan datang, gadis itu berjalan kearah balkon, berniat menikmati angin malam. Ia mengernyit ketika mendapati dua mobil mewah terparkir rapi di halaman rumahnya. Jika ada dua mobil di sana, lalu Alvi pergi menggunakan Apa?


Tak ingin menebak-nebak, gadis itu berlari keluar kamar, tujuannya hanya menemui bi Neneng di lantai bawah.


"Bibi!" teriak Alana ketika baru kelur dari Lift. "Bibi Aa aku udah pergi?"


"Bibi nggak liat Nyo, eh Neng. Terakhir tadi bibi liat Tuan masuk ke ruang kerjanya. Kenapa Neng? Neng butuh sesuatu?"


Alana mengeleng. "Makasih Bi,"


Benar saja, lelaki yang ia kira sudah pergi ternyata duduk anteng memandangi laptop. Ia melangkah mendekat berdiri di samping Alvi.


"Aa nggak jadi pergi? kenapa?"


"Takut di kunciin," jawab Alvi tanpa menoleh, masih fokus dengan layar di depannya.


"Aa marah?"


"Nggak."


"Aku tuh cuma nggak mau Aa kelelahan, terus sakit. Ingat A, sehat itu mahal."


Alvi tak menyahut, kembali fokus pada layar laptopnya bergantian dengan dokumen di depannya. Hingga intruksi Alana membuat tangannya berhenti mengerakkan cursor.


"Anggel Fasion?" lirih Alana mengambil alih laptop Alvi. "Kenapa data-data perusahaan ayah ada sama Aa?" selidiknya.


"Sekarang Anggel Fasion Group, Aa Ambil Alih."


"Kenapa? di paksa sama Ayah?" Selidik Alana.


"Nggak Al."


"Aku tuh nggak suka kalau Aa kurang istirahat hanya karena perusahaan Ayah. Aa punya perusahaan sendiri, belum lagi jadi wali di sekolah, banyak tanggung jawab Aa, ngapain ngambil tanggung jawab lagi?" Omel Alana tak suka jika Alvi kerepotan hanya karena orang tua nya.


Gadis itu mengambil ponsel Alvi diatas meja, mendial nomor Ayahnya. Melihat itu dengan sigap Alvi merebut ponsel di tangan Alana.


Lelaki itu menarik Alana agar duduk di pangkuannya, memeluk gadis itu agar tenang, dari kemarin gadisnya sangat cerewet, dan suka membesar-besarkan masalah kecil.


"Kamu kenapa, Hm? sensitif banget? Aa nggak lelah sayang, Aa juga nggak capek jadi jangan khawatir, perusahan Aa sudah ada Hendri, jadi nggak papa kalau Aa ngurus perusahaan istri Aa."


"Milik Aku?" tunjuk Alana pada dirinya sendiri.


"Aa baru tahu kalau Anggel fasion 70% itu milik kamu, dan selebihnya milik bunda."


"Bukannya kalau Aa nggak ambil malah ngerepotin Ayah?"


Alvi membuka salah satu laci, mengambil berkas penting untuk ia perlihatkan pada Alana, agar gadis itu percaya dengan perkataanya. Akan tetapi Alana tidak memerhatikan berkas yang di perlihatkan Alvi, dan malah kepo dengan kertas putih bertuliskan sebuah rumah sakit ternama di bagian atasnya.


"Surat mendis siapa?" tanya Alana masih fokus pada laci sentegah terbuka.


"Hah?" bingung Alvi.


"Itu!" Tunjuk Alana, bahkan gadis itu hampir meraihnya tetapi Alvi dengan sigap menutup Laci.


"Itu...itu surat mendis Kakek." gugup Alvi.


"Tapi kok ada nama aku? Aa bohong?"


Alvi menelan salivanya susah payah, apa yang harus ia katakan sekarang? kenapa ia begitu ceroboh menyimpan sembarangan surat medis Alana dari dokter Angga yang menyatakan gadisnya akan sulit hamil.


"Kok Aa gugup gitu? sampai keringatan." Mengeringkan keringat di pelipis Alvi dengan punggung tangannya.


...TBC...


Hay...hay gais dedek balik lagi, gimana part ini? ini part terpanjang yang dedek buat setelah sekian lama purnama menulis🤭, semoga kalian nggak bosan bacanya sakin panjangnya 🤗.


Mampir juga di novel kakak online aku yuk


__ADS_1


__ADS_2