
Alana terbangun saat mendengar suara orang mual di kamar mandi, ia menyandarkan tubuhnya di kepala dipan lalu meminum air putih. Kebiasaan yang selalu ia lakukan di pagi hari.
Baru saja akan beranjak, Alvi sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dengan rambut basah. Laki-laki itu tersenyum kearahnya.
"Udah bangun ternyata," ujar Alvi menghampiri Alana, baru beberapa langkah, rasa mual kembali menyerang, ia kembali masuk ke kamar mandi.
Lama Alvi menunduk di depan wastafel tetapi hanya cairan bening juga kuning yang keluar dari mulutnya. Lelaki itu terduduk di kloset sakin lemasnya. Ia memejamkan mata, mengatur nafas yang mulai tak terkendali. Satu yang membuatnya bersyukur, morning sickness hanya ia yang mengalaminya bukan Alana.
Setelah merasa enakan dan mualnya terasa reda, Alvi kembali menemui Alana, mendekat lalu duduk di pinggir ranjang. Saat akan mengecup kening gadis itu, terlebih dulu Alana mengelak.
"Selamat pagi sayang."
"Nggak usah basa-basi aku mau pulang," ujar Alana.
"Sarapan dulu ya!" bujuk Alvi.
"Nggak usah ngatur hidup aku. Mau maka atau nggak itu urusan aku," sanggah Alana tak mau mendengar alasan lagi. Yang ia ingin penjelasan dari Alvi, setelah itu pulang kerumah orang tuanya.
Alvi menarik nafas dalam-dalam, mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutup-tutupi.
Flshaback on
Satu tahun yang lalu saat Alvi mengunjungi salah satu panti asuhan sebagai donatur atas perintah ayah Kevin. Ia tak sengaja melihat anak laki-laki dua tahun sedang bermain di halaman panti.
__ADS_1
Saat akan melangkah masuk kedalam rumah panti, anak laki-laki itu berlari dan langsung memeluk kakinya.
"Papa?" ujar anak laki-laki itu.
Ibu panti yang melihatnya dengan cepat mengendong anak laki-laki itu, takut Alvi akan risih. Lama mereka berbincang hingga Alvi tak mampu untuk tidak bertanya tentang anak di pangkuan ibu panti.
"Boleh saya tahu nama anak itu, dan kenapa dia berada di sini?" tanya Alvi.
"Namanya Arga Tuan, kami mendapatkannya di depan panti beberapa bulan yang lalu. Setiap ada orang yang berkunjung, Arga selalu memanggil orang itu dengan sebutan, Papa," jelas ibu panti. "Dia anak yang mengemaskan, Tuan." lanjutnya.
Sejak saat itu Alvi mulai sering mengunjunggi panti asuhan hanya untuk menemui anak laki-laki bernama Agra, boleh dibilang ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Semakin lama, ada rasa ingin memiliki di benak laki-laki itu.
Tak ingin mengambil keputusan sendiri, ia menemui Ayah Kevin juga bunda Anin untuk meminta izin mengadopsi Arga sebagai anaknya. Menjadikan Arga anak pertamanya.
"Mengadopsi?" tanya bunda Anin.
Alvi menggangguk, "iya, Bunda."
"Ayah tidak punya hak itu melarangmu, Nak. Tapi sebaiknya kamu diskusikan dulu dengan Alana, kamu tahu sendiri bagaimana keras kepalanya anak itu," ujar Ayah Kevin.
"Justru Alvi nggak mau memberitahu Alana, makanya Alvi meminta izin sama Ayah."
"Kenapa?" tanya bunda Anin bingung.
__ADS_1
"Aku nggak mau buat Alana kepikiran bunda. Alana masih kuliah dan sedang sibuk-sibuknya. Alvi takut jika memberitahunya sekarang, Alana akan tersinggung dan malah berfikir macam-macam. Itu bisa mengganggu pendidikannya." jawab Alvi.
"Jika kamu merasa menyembunyikan ini untuk kebaikan Alana, Ayah tidak akan keberatan. Tapi berjanji sama Ayah jangan sampai Alana menangis karena hal ini."
"Alvi janji, Ayah."
"Alvi, jika sesuatu terjadi, bunda nggak bisa bantu kamu. Kamu tahu bagaimana posesifnya Alana, kan?"
Setelah diskusi itu, Alvi benar-benar menggangkat Arga sebagai anaknya, menghubungi Dirga agar memasukkan Arga dalam kartu keluarganya dan menambahkan nama Vernando di belakang nama Arga.
Hidup dalam kebohongan bukan hal mudah bagi Alvi. Benar kata orang sekali kita berbohong maka kita akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya. Sejak kehadiran Arga dalam hidupnya, ia tidak terlalu kesepian, saat pulang kerja akan ada yang menyambutnya. Tetapi ia juga harus berbohong pada Alana. Sampai di titik dimana Alana selalu mempertanyakan kelakuan anehnya, ia mulai takut kebohongannya terbongkar sebelum gadis itu lulus.
Itu juga salah satu Alasan Alvi, jarang mengunjungi Alana satu tahun terakhir. Tanpa Alana tahu Alvi mulai mendekati benda yang mengandung zat Nikotin yang sangat Alana benci.
Sebulan sebelum wisuda Alana, Alvi menyiapkan sebuah pesta untuk merayakan Aniversari yang ke lima sekaligus resepsi pernikahan besar-besar yang belum sempat ia lakukan saat menikah dulu. Alvi berfikir, itu juga waktu yang tepat untuk mengatakan yang sejujurnya pada Alana.
Satu penyesalan terbesarnya adalah saat membuat Alana menangis dan memohon-mohon hanya karena menyuruhnya tinggal untuk beberapa hari lagi, tetapi ia memilih pulang menemui Arga. Saat itu Arga sedang sakit dan terus menangis ingin bertemu dengannya.
Rencana yang telah ia susun serapi mungkin dan berharap akan berjalan lancar, harus berantakan saat mendapat telfon dari bunda Anin bahwa Alana ada di Indonesia.
...****************...
Jangan lupa Vote, komen, dan like. Mampir juga di cerita baru Dedek "Cinta dan Masa Lalu"
__ADS_1