Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 50


__ADS_3

Hari minggu cerah, hari yang di tungu-tunggu para pekerja untuk menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta.


Namun yang di lakukan Alvi malah mengurung Alana seharian di rumah, membuat gadis berambut indah tersebut gelisah seperti setan kepanasan mendengar ayat-ayat suci. Alana tidak terbiasa tinggal di rumah ketika hari liburan, ia sering menghabiskan waktunya jalan-jalan entah itu dengan Salsa atau siapapun yang penting tidak sendiri.


Sembari bersenandung ria, Alana mengibas-ibaskan rambut indahnya menuruni satu persatu anak tangga, dan itu semua tak lumut dari perhatian Alvi di ruang tamu.


"Pagi menjelang siang Aa." sapa Alana mengecup pipi kiri Alvi masih dengan senyuman.


Entah kesambet setan apa Alana pagi-pagi seperti ini, baru saja gadis itu cemberut masuk ke dalam kamar, kini Alana keluar dengan senyuman mengembang, jangan lupakan setelan yang sudah sangat rapi seperti akan pergi.


"Mau kemana?"selidik Alvi memindai penampilan Alana yang sedikit terbuka.


"Jalan-jalan dong Aa, emang Aa sukanya di rumah mulu." cibir Alana mengibaskan rambutnya. "Eh tahu nggak A?" gadis berambut indah tersebut duduk di samping Alvi ketika mengingat sesuatu.


Ia memeluk lengan kekar lelaki itu lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Alvi. "Pernah dengar cerita seorang istri ninggalin suaminya nggak?"


Alvi mengeleng, lalu meletakkan majalah di atas meja, kemudian membalas tatapan Alana. "Aa nggak tau, kenapa?"


"Aku pernah dengar, ada seorang istri gitu ninggalin suaminya karena nggak peka terus kaku gitu. Nggak romantis-romantisan, palingan si istri duluan yang mulai. Si suami manisnya pas mau ritual suami istri aja." jelas Alana panjang lebar namun Alvi hanya menganguk mengerti.


Membuat Alana mendengus kesal, bisa-bisanya lelaki yang memeluknya ini tidak peka akan sendirannya.


"Terus?" kepo Alvi ketika Alana tidak bersuara lagi.


"Yaudah si cewek nyari cowok yang lebih romantis dan lebih peka dari suaminya, terus ninggalin si Suaminya. Aku juga bakal ngelakuin itu kalau udah capek."


"Alana!"


"Apa?"


"Kamu nggak bakal ninggalin Aa kan?" mata Elang Alvi menatap netra Alana, menangkup kedua pipi gadis berambut indah tersebut, membuat bibir gadis itu manyun dan terlihat sangat mengemaskan.


"Tergantung."


"Aa harus bagaimana?"


"Nggak tau." Acuh Alana bangkit dari duduknya kembali menyambar tas di atas meja. "Dah Aa."


"Mau kemana?"


"Jalan lah."

__ADS_1


"Udah izin sama suami kamu?"


"Belum, kenapa? harus banget?" cibir Alana. "Udah di panggil tadi tapi nggak mau."


"Aa nggak ngizinin kalau nggak pergi sama Aa."


Senyum Alana mengembang tanpa Alvi sadari, ternyata segampang ini membuat Alvi berubah pikiran, hanya diracuni beberapa cerita dongen, udah luluh aja.


"Nggak usah aku bisa...Aa!" teriak Alana ketika Alvi mengendongnya ke dalam kamar, kebiasaan lelaki itu akhir-akhir ini, sering mengendongnya. Apa ia tidak berat bagi Alvi?


"Jangan kemana, sampai Aa selesai mandi!" titah Alvi menurunkan Alana di sofa.


"Iya Sayang!" goda Alana. "Nggak mau sekalian di mandiin?"


Alvi menyeringai mendengar tawaran Alana. "Boleh." seperti tidak ada lelahnya, padahal ia baru saja mengerjai gadisnya dengan alasan hadiah ulang tahun.


"Hilih, giliran bahas aneh-aneh langsung senyum-senyum gitu." Alana mendorong Alvi masuk kedalam kamar mandi. "Mandi cepat, atau aku tinggal!"


Lima belas menit berlalu, Alana tersentak ketika Alvi tiba-tiba jongkok di depannya.


"Aa! jadi merah kan." gerutunya ketika melihat maha karya Alvi tepat di atas lututnya.


Bukannya menjawab Alvi malah berdiri lalu menggigit kecil tulang selangka Alana yang terekspos indah, lalu berjalan ke arah lemari pakaian. Bisa di pastikan gadisnya akan menganti baju tanpa di suruh.


"Apa susahnya coba nyuruh ganti baju, nggak usah pakai gigit segala kayak fampir." manyun Alana sembari mengambil setelan lebih tertutup di banding tadi.


"Kamu itu nggak bisa cuma di tegur, banyak ngelesnya."


"Emang aju bajaj apa, pakai ngeles segala."


***


Setelah bertengkar tidak jelas, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan sesuai permintaan gadis berambut indah tersebut. Yaitu taman hiburan Aquarium dan Safari. Tempat yang sangat Alana sukai sebagai pencinta laut.


Setelah Alvi membeli tiket masuk dengan cara mengantri seperti yang di inginkan Alana, barulah mereka masuk. Alana melepaskan gengaman Alvi lalu berlari seperti anak kecil memasuki area Aquarium raksasa, lalu berdiri di tengah-tengah kolom akurimum memperhatikan berbagai makhluk hidup di laut.


"Jangan lari-lari." peringatan Alvi meraih tangan mungil Alana.


"Aa aku pengen berenang, aku pengen jadi duyung." rengek Alana ketika melihat duyung gadungan melintas di atas mereka.


"Nggak...Alana...." frustasi Alvi ketika Alana melepas gengaman tangannya lalu berlari menghampiri penjaga aquarium.

__ADS_1


Ia hanya bisa mengeleng, melihat kelakuan absurd Alana, berdiri di tengah-tengah kolom aquarium memerhatikan Alana terus melintasi dirinya, tak henti-hentinya senyum itu terus terlihat dari bibir indah gadisnya.


Ia melangkah mendekati aquarium sebelah kiri ketika mendapat kode dari Alana menyuruhnya mendekat. Gadis berambut indah tersebut dadah-dadah padanya, lalu memutar tangannya membentuk huruf Love.


Alvi senyum tipis, ingin rasanya ia menerkam gadisnya itu lalu mengurungnya di dalam kamar, rasanya tidak sudi jika ada yang melihat senyum indahnya selain dirinya.


"Mau jalan lagi?" lirik Alvi ketika Alana sudah kembali.


Alana mengeleng lalu mengusak-usak hidungnya.


Hatchiiiii!!


Ia menyandarkan kepalanya pada pundak Alvi yang kini fokus menyetir.


"Udah di bilangin jangan kebanyakan main air, kamu itu nggak terlalu cocok sama air." Omel Alvi sembari menyerahkan tisu dengan sebelah tangannya.


"Bukannya di perhatiin, malah ngomel mulu, bikin kesal tau." Alana beralih menyandarkan kepalanya pada pintu. Kepalanya sangat pusing habis bermain air, tapi Alvi malah mengomelinya.


"Lama-lama juga aku nyari selimut tetangga, kebetulan tentangga baru kita tampan banget." gerutu Alana menutup matanya tanpa memperhatikan ekpresi datar Alvi.


"Udah tampan, humoris, perhatian lagi."


Cit!!!


Bunyi ban mobil berdecit nyaring, katika Alvi ngerem tiba-tiba di pinggir jalan. Selalu saja, Emosi lelaki itu tidak bisa di kendalikan jika gadisnya memuji atau menyebut lelaki lain di depannya.


"Aa, kalau nyetir pelan-pelan...." suara Alana perlahan-lahan menghilang ketika menyadari tatapan tajam Alvi. Ia tidak menyangka Alvi akan semarah ini, padahal ia hanya bercanda.


"Ma-maaf." cicitnya. "Udah jangan natap aku gitu terus Aa." bujuk Alana beralih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alvi. "Kepala aku sakit." manjanya.


"Kenapa kamu selalu nguji kesabaran aku, Hm?"


Pelukan Alana semakin erat di tubuh Alvi, mambuat Alvi tidak tega jika harus memarahi gadisnya, lelaki itu beralih mengelus puncuk kepala Alana.


"Aa tahu, aa bukan lelaki romantis seperti orang di luar sana, tapi Aa janji akan berusaha, jadi jangan nguji kesabaran Aa dengan memuji laki-laki lain."


"Iya."


Cup


Alvi mengecup kening Alana lembut sembari senyum tipis. "Kita ke dokter ya."

__ADS_1


...TBC...


Ada yang tahu hari ini hari apa? oke mungkin ada yang lupa, jadi hari ini hari senin, jangan lupa lempar Vote buat Aa Alvi ya biar tambah romantis🤗🤗🤗.


__ADS_2