
Brak!!!
Alvi mendobrak pintu ruangan yang entah keberapa, darahnya berdesir melihat gadis yang sangat ia cintai tengah berusaha melindungi diri dari pelecehan tiga orang pria. Dengan sigap alvi menarik kerah baju lelaki yang ingin mencium istrinya lalu menghempaskannya ke tembok dengan sebelah tangan, berbarengan dengan datangnya anggota Avegas dan rombongan ayah Kevin.
Tanpa menunggu lama, Alvi menarik Alana kedalam pelukannya, menutupi tubuh terbuka gadisnya dengan hoodie yang ia kenakan. Melihat betapa mengenaskannya keadaan Alana membuat hati Alvi begitu sakit, tubuh gadisnya memerah seperi bekas cambukan, wajah yang terluka juga darah kering di pelipis Alana.
"Aa aku takut." Tangis Alana dalam pelukan Alvi. "Mereka hampir perk*osa aku."
Alvi bergeming, mengepalkan tangannya di balik tubuh Alana, ingin rasanya ia sendiri yang menghajar ketiga pria itu, tetapi keadaan Alana saat ini lebih penting dari apapun.
Kevin ikut mendekat, mendorong tubuh Alvi agar menjauh dari putri kesayangannya. "Alana!" panggil ayah Kevin.
"Ayah."
"Ayah di sini sayang." Mengusap darah di sudut bibir Alana. "Kamu gadis kuat."
"Sakit ayah." Adu Alana sebelum tubuhnya ambruk tak sadarkan diri dalam pelukan ayah Kevin.
Baru saja Alvi akan membantu ayah Kevin, pria paruh bayah itu lebih dulu mengendong anak gadisnya keluar dari rumah besar tak berpenghuni itu.
***
Jarum jam menunjukkan angka 3 dini hari, tetapi lorong rumah sakit depan ruangan IGD masih penuh akan kehadiran keluarga besar Alana dan beberapa angota Avegas. Bunda Anin tak henti-hentinya menangis dalam pelukan ayah Kevin, sementara Alvi berdiri tepat di depan pintu seperti patung bernyawa, tak memperdulikan penampilannya di depan murid juga keluarga Alana.
Dalam pikiran Alvi hanya keadaan Alana, terus berdo'a agar gadis kesayangannya tidak kenapa-napa di dalam sana.
Adzan subuh berkumandang tetapi belum ada tanda-tanda dokter keluar dari ruangan IGD. Devan menepuk pundak Alvi, menyadarkan lelaki itu dari lamunan panjangnya, bahkan Alvi tak menyadari beberapa dari mereka sudah pulang dan menyisakan keluarga inti saja.
__ADS_1
Devan menyerahkan paper bag berisi pakaian bersih yang ia beli untuk Alvi.
"Sholat dulu Bro!"
Usai sholat Alvi kembali lagi dan tak mendapati seorangpun di depan ruangan IGD, baru saja akan bertanya, Keenan lebih dulu berbicara. "Alana sudah di pindahkan pak."
Sesampainya di depan ruang rawat Alana, Alvi mendapati, Rayhan dan Samuel berdiri di depan ayah mereka masing-masing. Keenan yang datang bersamanya ikut bergabung berdiri tepat di depan ayahnya juga.
Plak
Plak
Plak
Suara tamparan secara beruntun terdengar ketika para ayah menampar putranya masing-masing, sayup-sayup Alvi masih mendengar om Daren membentak Samuel sebelum menutup ruang rawat Alana.
Ketiga pemuda itu semakin menunduk.
Tak ingin ikut campur, Alvi menutup pintu ruang rawat Alana, lalu menghampiri gadisnya yang terbaring di atas brangkar dengan infus di tangan kiri.
Belum lagi perban di bagian kepala, juga beberapa luka di wajah Alana. Semuanya seperti dejavu bagi Alvi.
"Bagaimana keadaan Alana bunda?"
"Kata dokter tidak ada yang perlu di khawatirkan cedera di kepala akan segera sembuh, tetapi kaki Alana yang pernah patah mungkin akan kembali sakit, akibat cedera saat berusaha meloloskan diri."
__ADS_1
Alvi mengangguk mengerti, kini ia mengurai sedikit demi sedikit rambut Alana sepelan mungkin agar tak mengganggu tidur gadisnya.
"Maafin Aa karena lalai jaga kamu."
Baru saja akan mencium kening Alana, tubuhnya di tarik dengan kasar oleh seseorang. Karena kaget Alvi tak dapat mengelak dan pasrah ketika tubuhnya di seret keluar dari ruangan sang istri.
"Kamu lupa apa yang saya katakan?"
"Tapi dia juga istri aku Yah."
"Jangan temui anak saya lagi!" titah ayah Kevin. "Kamu lupa siapa yang buat Alana seperti sekarang? itu ibu kamu!" lanjut Ayah Kevin.
Alvi bersujud tepat di hadapan Ayah Kevin, merendahkan harga dirinya di depan ayah mertuanya demi Alana juga demi kesalahan yang telah ibunya lakukan. Ia bahkan tidak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit.
"Maaf karena teledor menjaga Alana, Aku juga mewakili ibu meminta maaf atas kejadian yang telah terjadi. Jadi aku mohon jangan larang aku bertemu dengan Alana."
Bunda Anin mengeleng melihat menantunya, ia menarik Alvi agar bangun dari sujudnya tetapi lelaki itu bergeming menunggu jawaban ayah Kevin.
"Bangun nak, ini bukan salah kamu. Kamu suami Alana dan berhak atas dirinya, tidak ada yang bakal misahin kalian bunda janji."
"Anin!" tegur Kevin.
"Apa?" tegas Anin tak selembut tadi. "Mas lupa bagaimana sakitnya ketika di pisahkan dengan istri sendiri, apa lagi dia sedang di rawat di rumah sakit?"
Bunda Anin menepis tangan Ayah Kevin dan malah menyuruh Alvi berdiri. "Aku nggak mau hanya karena wanita itu rumah tangga Alana dan Alvi jadi hancur mas."
...TBC...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan Vote ya readers tersayang dedek.