
Bukan satu atau dua kali Alana belanja segila ini, satu minggu terakhir Alana menghabiskan waktunya keluar masuk Mall, belanja apa saja yang ia inginkan tapi herannya, gadis itu tak sekalipun membeli sesuatu untuk dirinya sendiri.
Malam ini semua terulang kembali, belanjaan Alana menggunung di dalam kamar belum ada satupun yang di buka.
Alvi menghela nafas panjang, mendudukkan diri di sofa di mana semua belanjaan Alana berserakan, menunggu sang istri yang entah ngapain di kamar mandi. Hari ini Alvi begitu lelah menangani klien abal-abal yang sangat menyebalkan, dan sekarang yang ia butuhkan hanya sang istri.
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok gadisnya yang langsung menebarkan senyum kebahagian, dimana senyum itu mampu membuat lelah Alvi hilang begitu saja. Tubuh yang semakin hari bukannya semakin berisi malah kurus kerempeng seperti papan padahal istrinya selalu makan-makanan sehat.
"Udah lama A?" Mencium punggung tangan Alvi, duduk di samping lelaki itu.
"Belum," Jawab Alvi manarik Alana semakin dekat padanya, aroma Vanila begitu segar menguar di indera penciumanya.
Alvi terus mengendus hingga leher Alana, membenamkan wajahnya begitu lama menikmati aroma yang begitu memabukkan, stresnya seketika menghilang dalam dekapan gadis itu.
Alana tak banyak protes mengelus rambut lebat lelakinya. Tujuh bulan bukanlah waktu yang singkat untuk memahami Alvi. Lelaki itu akan bersikap sangat manja jika sedang lelah dan banyak pikiran seperti ini.
"Ada masalah di perusahaan?"
"Sedikit."
"Aa nggak ada niatan ninggalin salah satu pekerjaan? fokus jadi guru atau jadi Ceo aja. Belakangan ini Aa sibuk banget, lebih sibuk dari hari-hari sebelumnya. Sering pulang larut bahkan sampai subuh."
Alana berusaha bernegosiasi dengan Alvi untuk kebaikan lelaki itu sendiri, lama-lama Alvi akan sakit jika terus begini.
"Guru bukan sebuah pekerjaan buat Aa Al, tapi tempat berbagi ilmu yang Aa punya, jadi Aa nggak bisa ninggalin gitu aja," jawab Alvi.
"Kalau gitu nggak usah ngurus perusahaan Aa, coba cari orang kepercayaan Aa untuk mengelola Anggel Fasion Group seperti Anggara Group yang di pimpin kak Hendri sekarang."
__ADS_1
Alana mencoba memberi saran-saran untuk suaminya.
"Susah," singkat Alvi.
Alana menghelas nafa panjang, kenapa Alvi begitu keras kepala jika tentang pekerjaan. Alvi tak seperti pengusaha lainnya yang bisa dengan tenang meninggalkan perusahaan, apa lagi Angel Fasion Group adalah perusahaan titipan dari Ayah Kevin dimana ia tidak boleh lenggah akan sesuatu yang bisa saja berdampak pada perusahaan.
Alana tak lagi membahas tentang itu, ia lebih memilih membahas hal lain yang menyenangkan tapi sebelum itu ia menyuruh Alvi mandi dan segera makan malam.
Usai makan malam Alana sibuk menata belanjaanya di dalam kamar bersiap mengunboxing satu persatu.
Alana membuka paper bag mulai dari yang terkecil.
"Aa tolong yang itu!" Menunjuk paper bag kecil di samping Alvi.
"Ta...da...." Memperlihatkan kotak persegi pada Alvi. "Lihat Aa jam tangannya keren banget kan?" Memperlihatkan jam tangan laki-laki dengan model simple dan sangat santai. "Tangannya siniin!" Menarik tangan Alvi lalu memasangkan jam tangan baru.
"Gimana cantik kan?"
"Banget sayang, makasih." Membenamkan bibirnya sedikit lama di bibir Alana.
"Itu yang pilihin Miss Tania loh, nggak nyangka Aa bakal suka."
Seketika senyum Alvi hilang, dengan cepat ia melepas jam tangan di tangannya. "Aa nggak terlalu suka modelnya."
"Tadi katanya suka sekarang nggak, gimana sih A," gerutu Alana mengambil jam tangan itu lalu memasukkan ke dalam kotak. "Aku kasi orang lain aja kalau gitu."
__ADS_1
"Buang aja."
"Is ngapain di buang, mending di kasi orang dapat pahala." Alana menjeda, gadis itu sibuk memilah-milah paper bag mana lagi yang akan ia buka.
"Heran deh setiap aku nyebut nama Miss Tania Aa keliatan nggak suka gitu, ada apa? Aa kenal sama Mis Tania?"
"Nggak," sangkal Alvi dengan cepat.
"Kirain."
Alvi lagi-lagi di buat melongo akan belanjaan Alana, 98% isi belanjaan gadis itu hanya untuknya juga beberapa mainan dan pakaian baby yang entah untuk siapa. Kamar di samping kamar mereka sudah di penuhi dengan perlengkapan baby.
"Sayang," panggil Alvi. "Aa nggak ngelarang kamu belanja apapun, tapi sudah ya belanja perlengkapan baby nya!" pinta Alvi.
"Tapi lucu Aa gemes liatnya."
"Tapi...." Kalimat Alvi mengantung di udara.
"Nggak papa persiapan untuk baby kita nanti."
"Tapi kamu...." Lagi dan lagi kalimatnya mengatung di udara.
"Aku tau, Aa nggak perlu perjelas." potong Alana lalu bangkit dan meninggalkan Alvi.
...TBC...
Jangan lupa goyangkan jarinya untuk like, komen dan vote mumpung hari seninš¤.
__ADS_1