
Malam mulai larut, mata Alana mulai sayu tak tahan akan kantuk yang menyerang, tetapi Alvi belum juga menelfonnya seperti hari-hari sebelumnya. Gadis itu juga sudah berkali-kali menghubungi Alvi tetapi tidak aktif.
"Katanya ponselnya bakal aktif 24 jam buat aku," gerutu Alana mulai kecewa pada Alvi. Dirinya tak keberatan Alvi mengingkari janji untuk tidak menemuinya, karena ia tahu Alvi sibuk, tetapi apa tidak ada waktu sedikit saja untuknya hanya untuk sekedar menelepon?
Alana merengut melihat foto pernikahan mereka di atas nakas.
"Apa liat-liat?" gertak Alana pada foto Alvi. "Aku marah ya sama Aa," lanjutnya mengambil foto itu lalu membaliknya agar Alvi tak menatapnya.
Alana tidur dalam perasaan kecewa, terbukti air mata terus mengalir di sudut matanya walau ia sudah lama memejamkan mata.
Adzan subuh mulai terdengar dari benda pipinya di atas nakas, gadis itu mengeliat dan tersentak saat merasakan pelukan hangat di tubuhnya, hampir saja ia berteriak, tetapi tidak jadi saat melihat siapa orang itu.
Alana menangis memandangi wajah tampan yang sedang tertidur pulas di sampingnya. "Apa aku serindu itu sampai halu liat Aa," cicit Alana.
Perlahan-lahan mata pria tampan di sampingnya terbuka sembari tersenyum manis kearahnya, mengecup kening dan kedua kelopak mata Alana.
"Kamu nggak halu sayang,"
__ADS_1
"Tuh kan, lama-lama aku gila." Bukannya berhenti tangis Alana semakin kencang, merasa heran pada dirinya sendiri selalu melihat Alvi di mana-mana.
"Sayang, ini Aa, kamu nggak halu," ujar Alvi berusaha menenangkan istrinya. Ia menggigit pipi Alana. "Sakit?"
Alana menggangguk lucu.
"Artinya kamu nggak halu sayang." Alvi semakin erat memeluk tubuh mungil yang selama ini ia rindukan, dan selalu hadir dalam mimpinya.
Alana mendongak, menatap mata elang Alvi dalam-dalam. "Ini Aa benerann kan? bukan Aa bohongan," tanyanya sembari mengerjap-erjapkan mata memastikan bahwa laki-laki di hadapannya memang suaminya.
"Iya sayang," jawab Alvi.
"Kan perjalanan kesini Al. Aa juga udah chat tadi jam lima."
"Mana ada, Aa cuma chat ngigetin makan tapi nggak ngigetin minum, kan aku tersedak tadi," gerutu Alana.
Usai melaksanakan shalat subuh berjamaah, Alana duduk di sofa hanya memakai piyama sebatas paha, bersandar pada pembatas sofa dengan kaki menjulur.
__ADS_1
Dirinya sibuk dengan ponsel hingga tak menyadari Alvi berdiri tepat di sampingnya sembari menyeringai, laki-laki itu mengeser kaki Alana lalu tidur di antara paha mulus sang istri. Alvi memeluk kaki jangan itu, menciumi paha mulus Alana beberapa kali, bahkan sengaja menyesapnya.
"Geli Aa," ujar Alana meremas rambut Alvi yang mulai lebat.
"Sayang!" panggil Alvi. "Nggak ada niatan gitu ngasih Aa jatah buat ganti jatah yang belum Aa ambil selama seminggu," gumam Alvi.
Alana mengulum senyum, meletakkan benda pipihnya di atas meja, menunduk lalu memberi sentuhan lembut pada bibir tebal sang suami.
"Aku ada jam kuliah, jam sepuluh," jawab Alana.
Mendapat lampu hijau dari sang istri, Alvi bangun lalu merangkak mendekati wajah sang istri, menyentuh rahang Alana dengan lembut lalu menyatukan benda kenyal sebagai sambutan pertama.
Dengan sangat hati-hati Alvi memainkan lidahnya di dalam sana, sesapan yang tadinya lembut dan perlahan-lahan mulai nenuntut lebih membuat Alana sesak nafa di buatnya.
Alana menahan nafas saat Alvi menyusuri area sensitifnya di belakang telinga, membuka satu persatu kancing piyama di tubuhnya, lalu melemparnya entah kemana.
Pagi itu adalah pagi yang panas bagi kedua insan yang saling melepas rindu, berbagi kehangatan dengan caranya masing-masing. Dinginnya udara diluar sana tak mampu memadamkan gai*rah keduanya untuk berhenti melepas kerinduan yang selama ini mereka pendam.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like, komen dan Vote.