Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 40


__ADS_3

Kondisi Alana masih seperti tadi saat Alvi meninggalkannya, yaitu meringkuk di dalam selimut, menyembunyikan seluruh tubuh mungilnya. Alvi yang melihatnya hanya bisa menghela nafas panjang, mood Alana sedang tidak baik, dan akan susah untuk di bujuk, itulah informasi yang ia dapatkan dari sang mertua saat menelfon tadi.


Alvi melangkah mendekati ranjang, meletakkan makan malam beserta obat demam ya ia bawa di atas nakas lalu menyingkap selimut yang menutupi tubuh Alana.


"Makan dulu, baru minum obat!" bujuk Alvi, karena Alana demam tinggi, mungkin efek menangis seharian.


"Nggak mau!" lirih Alana.


"Alana!"


"Suapin." manja Alana, tetapi di iyakan oleh Alvi.


Alvi mendudukkan diri di pinggir ranjang, berhadapan dengan Alana yang kini bersandar di kepala ranjang. Dengan telaten Ia menyuapi gadis ceria yang tiba-tiba manja tersebut.


"Udah." Alana menepis sendok yang hendak masuk kedalam mulutnya, membuat Alvi kembali menarik nafas pasrah.


"Dikit lagi ini."


"Nggak enak a."


Alvi kembali meletakkan piring tersebut lalu mengambil beberapa obat yang di resepkan dokter tadi, lalu menyodorkannya pada Alana. Namun gadis berambut indah tersebut malah mengeleng dengan wajah di tekuk.


"Nggak mau, pait." tolaknya.


Obat adalah musuh terbesar bagi Alana, apa lagi itu berbentuk pil atau apapun, biasanya bunda Anin akan meminta obat betuk sirup pada dokter yang merawat Alana jika gadis berambut indah tersebut sedang sakit.


Kepala Alana kembali berdenyut juga perut sedikit sakit, karena telat makan padahal ia mempunyai penyakit lambung.


Melihat Alana meringis, Alvi kembali menyodorkan obat yang ia pegang. "Jangan keras kepala, ayo minum."


"Bentar juga sembuh sendiri."


"Minum, atau saya cium." ancam Alvi, mungkin dengan begini Alana mau meminum obatnya.

__ADS_1


"Aa..."


Belum sempat Alana protes obat tiga biji tersebut masuk kedalam mulut Alana. Alvi dengan cepat menyerahkan segelas air minum pada gadis berambut indah tersebut, berharap obat yang baru saja ia masukkan tidak di muntahkan oleh Alana.


Ia sebenarnya juga terpaksa melakukan hal itu agar Alana cepat sembuh, ia tidak tega jika terus melihat Alana meringis, memegangi perut atau kepalanya secara berganti. Apa lagi mata indah gadis berambut indah tersebut, sudah sembab hingga untuk membuka mata saja sulit.


"Udah di bilangin pait" protes Alana walau obat tersebut sudah ia telan. "Permen Aa."


Bukannya permen yang ia dapat, malah benda kenyal mendarat mulus di bibirnya. Matanya membulat sempurna, dengan mulut terbuka. Membuat Alvi lebih leluasa menjelajahi mulutnya yang terasa pahit. Kini rasa pahit itu hilang tergantikan dengan rasa yang tidak bisa ia definisikan bagaimana rasanya. Aroma mint menguar di indera penciumannya.


Merasa mendapat respon, Alvi meraih tengkuk Alana, mememperdalam luma tan yang ia lakukan, bahkan tangannya dengan berani mengelus punggung Alana yang hanya di lapisi kain tipis tersebut. Hingga dorongan pada tubuhnya ia rasakan, kala Alana kehabisan nafas.


"Aa." lirih Alana dengan pipi merona, malu sekaligus bahagia mendapat perlakuan lembut dari Alvi.


Alvi tersenyum tipis, mengusap bibir Alana. "Masih pahit?" tanyanya mengulum senyum.


Alana mengeleng kemudian menyembunyikan kepalanya. Di dalam selimut ia memegangi bibirnya yang terasa kebas akibat kejadian tadi, sembari senyum-senyum sendiri. Ciuman mereka sudah selesai namun bekas bibir Alvi masih terasa nyata di bibirnya, tubuhnya semakin panas membayangkan itu.


Sementara Alvi, salah tingkah sendiri mengingat sikap agresifnya tadi, tanpa mengatakan apapun ia keluar dari kamar, rasanya tubuhnya juga ikut panas setelah kejadian fenomenal tersebut. Ini yang pertama untuknya.


Salahkan Devan karena mengotori otak sucinya dengan hal-hal mesum, seperti mengatakan bahwa berciu*man itu rasanya sangat manis, jadilah ia melakukannya pada Alana.


Niat hati menghilangkan rasa pahit untuk Alana, malah membuatnya seperti orang gila, karena sedari tadi senyum-senyum sendiri, tidak fokus merangkum nilai-nilai siswanya, malah ia selalu salah dalam memasukkan angka. Ini benar-benar gila, gunung es yang ia ciptakan dalam dirinya sedikit demi sedikit mencair karena kehadiran Alana.


Jam dua dini hari, Alvi terbangun kala mendengar suara Alana mengigau kedinginan. Tubuh yang terasa panas, dengan badan mengigil. Alvi merengkuh tubuh mungil gadis itu kedalam selimut tetapi belum bisa menghangatkan tubuh gadis berambut indah tersebut.


"Masih dingin a." lirih Alana.


Tanpa pikir panjang, Alvi membuka baju kaos yang menutupi tubuh atletisnya, lalu masuk kedalaman selimut, kemudian memeluk erat Alana. Menempelkan tubuh mereka berdua.


"Masih dingin?"


Alana mengeleng, menyembunyikan kepalanya di ketiak Alvi. Bergerak memposisikan diri agar lebih nyaman, tanpa ia sadari perbuatannya membuat tubuh Alvi menegang, membangunkan sesuatu yang sangat berbahaya di bawah sana. Bagaimana tidak, benda kenyal tak bertulang yang hanya di lapisi kain tipis kini menempel indah di dadanya.

__ADS_1


"Jangan bergerak Alana!" peringatan Alvi dengan suara serak menahan sesuatu.


***


Wekeenday, seperti janji Alana pada kakek Farhan bahwa hari ini ia akan menjenguk kakek tua tersebut, namun perkataan Alvi barusan malah membuatnya down.


"Lain kali saja," tegur Alvi saat mereka sarapan, padahal ia sudah berdandan serapi mungkin.


"Tapi Saya sudah janji."


"Kamu baru sembuh, nggak boleh pergi kemana-mana." titah Alvi tak terbantahkan.


"Udah rapi dan cantik juga masa nggak jadi keluar." gerutunya dengan wajah di tekuk, mengaduk-aduk nasi goreng buatan Alvi tanpa berniat memakannya.


"Kamu cantik buat siapa? sampai harus dandan kalau keluar rumah?" tanya Alvi datar tanpa menatapnya, masih fokus dengan makanannya.


"Buat diri sendiri a."


"Buat diri senndiri bisa di rumah aja, nggak usah cantik-cantik amat kalau di luar. Cantik kamu cuma buat suami kamu."


Ia mengulum senyum, semakin hari Alvi semakin cerewet dan suka mengatur dirinya. Perlakuannya juga mulai hangat dan perhatian, walau masih sering kumat, atau kurang peka terhadap apa yang ia inginkan.


"Iya...iya cantik saya buat aa doang kok, tenang aja." Ia mengedipkan sebelah matanya bermaksud mengoda Alvi. "Jadi boleh kan saya ikut aa kerumah sakit?" bujuknya lagi.


Bukannya tergoda atau apa, Alvi malah bangkit dari duduknya lalu memasang jas yang sedari tadi mengantung di kursi. "Nggak!"


Ia ikut bangkit, mendekati Alvi, tanpa berkata apapun, ia membantu Alvi mengancingkan jas hitam tersebut. "Boleh dong." bujuknya lagi.


"Saya pergi dulu."


"Nggak mau cium dulu a!" teriaknya sebelum Alvi menghilang dibalik pintu.


Ia mengulum senyum kala melihat Alvi melambaikan tangan. Ia kembali duduk lalu menyantap sarapannya, ternyata ngambek yang ia lakukan tadi tidak membuahkan hasil. Karena sekarang ia lapar dan orangnya juga sudah pergi, acara ngambeknya batal, perutnya sudah konser minta di isi.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2