
"Selangkah saja kamu melewati pintu kamar, maka jangan harap bisa bebas seperti dulu." Ancam Alvi dengan suara tegas ketika Alana hendak membuka pintu.
Gadis itu berbalik menghadap Alvi. "Aku kangen sama bunda," jawabnya. "Apa itu salah?"
Alvi memejamkan matanya mencoba bersabar walau kobaran api mulai tersulut dalam dirinya, akibat lelah berkerja seharian.
Melihat Alvi berjalan mendekat kearahnya, Alana berjalan mundur memejamkan mata, takut Alvi akan menyakitinya. Namun, perkiraannya salah, lelaki itu malah memeluknya dengan erat sembari berkata lembut.
"Aa tahu kamu bukan kangen sama bunda, tapi kamu marah sama Aa," ujar Alvi masih mendekap tubuh munggil gadisnya.
"Masalah tidak akan selesai jika kamu diam saja. Itukan yang pernah kamu katakan saat Aa marah? jadi, sekarang kita bicarakan baik-baik ya?"
Runtuh sudah pertahan Alana, air mata kembali mengalir di mata indahnya. Ia bukan marah pada Alvi, hanya saja ia ingin menyendiri tak ingin melihat wajah lelaki yang sudah membohonginya beberapa bulan ini. Melihat wajah Alvi membuat hatinya semakin sakit. Ia benci kebohongan apapun itu alasannya.
"Jangan nangis sayang! Aa nggak suka." menghapus air mata yang membasahi pipi Alana dengan ibu jarinya. Menangkup kedua pipi cubi itu agar Alana mau menatapnya.
"Aku mau pulang." menghindari tatapan Alvi.
"Mau pulang kemana Hm? ini rumah kamu."
"Plis, jangan bersikap seperti ini seolah-olah kamu nggak tau apa-apa. Itu malah semakin membuat hati aku semakin sakit." Alana terus memukul dada bidang Alvi melampiaskan amarah dalam dirinya.
"Sampai kapan kamu bakal nyembunyin ini semua dari aku? aku salah apa? apa segitu nggak percayanya kamu sama aku sampai-sampai aku harus tahu sendiri? Kamu takut aku bunuh anak kamu, Iya!" bentak Alana penuh emosi. "Apa aku terlihat sekejam itu di mata kamu?" gadis itu semakin terisak, air matanya kian mengalir semakin deras.
Alana mengusap air matanya kasar, menepis tangan Alvi yang mencoba mengelus pundaknya. "Nggak ada seorang perempuan yang nggak bahagia jika mereka akan jadi seorang ibu, termasuk aku!" Menepuk dadanya yang terasa sesak. "Tapi kenapa Aa tega menyembunyikan kehamilan aku?" suara Alana kian lirih.
"Saat aku bertanya, apa aku keguguran, kamu malah dengan santainya menjawab. Kamu nggak hamil bagaimana mau geguguran. Aku merasa menjadi wanita paling bodoh di seluruh dunia."
Alana mendorong tubuh kekar Alvi yang kini bergeming, tak mengeluarkan satu katapun. "Kapan kamu tau aku hamil?
Brugh
Tubuh kekar itu terjatuh kelantai, bersujud tepat di depan Alana. Rasanya Alvi tak bisa menopang berat tubuhnya mendengar semua bentakan Alana, melihat pancarana kekecewaan lewat mata gadis itu.
Alvi maraih kedua tangan Alana tetapi gadis itu menepisnya. "Sayang maafin Aa."
"Sayang kamu terdengar munafik di telinga aku." Alana senyum sinis kembali menghapus air matanya dengan kasar. "Selama ini Kamu anggap aku apa? pemuas naf*su?"
__ADS_1
"Alana!" bentak Alvi tak suka mendengar pertanyaan terakhir istrinya.
"Cukup Alvi!" Balas Alana dengan suara tak kalah tinggi. "Selama ini aku selalu jujur sama kamu mau sekecil apapun itu, tapi apa yang aku dapat? kamu bahkan nggak pernah percaya sama aku, selalu berbohong dan berlindung di balik kata demi kebaikan aku. Padahal dari awal kamu tahu aku nggak suka kebohongan."
"Maafin Aa Al."
"Aku mau kerumah bunda." lirih Alana setelah mengeluarkan seluruh isi hatinya.
Alvi bangkit dari sujudnya kembali meraih tangan Alana ,kali ini tidak ada penolakan walau gadis itu masi engang mentapnya. "Aa antar."
"Nggak usah aku bisa sendiri, dan nggak usah nunggu aku pulang, aku mau tinggal di rumah bunda."
"Alana."
"Aku pengen sendiri, beri aku waktu untuk nenangin diri." pinta Alana berusaha berdamai. "Saat ini aku nggak mau liat wajah Aa."
"Sampai kapan?"
"Aku sendiri yang akan minta di jemput setelah tenang."
***
"Marahnya jangan lama ya, Aa nggak sanggup," ujar Alvi sebelum membiarkan Alana pergi.
Gadis itu tak menyahut, bahkan Alana tak menoleh sedikitpun hanya untuk melihat kepergian Alvi. Gadis itu mengembangkan senyumnya ketika membuka pintu rumah dan di sambut senyuman hangat bunda Anin.
Tanpa menunggu lama Alana menubruk wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu. "Alana kangen sama bunda."
"Sama siapa? suami kamu mana?" Bunda Anin melerai pelukan putrinya, tumben sekali Alana berkunjung tanpa kehadiran Alvi.
"Sama Alvi tapi udah pergi katanya masih banyak urusan."
"Ayah mana?"
"Di kamar sayang, mau bunda panggilin?" tawar bunda Anin tetapi Alana mengeleng, gadis itu malah bergelayut manja di lengannya.
"Aku ngatuk, mau tidur tapi bunda temenin." manja Alana.
__ADS_1
Tanpa banyak protes Anin menemani Alana di dalam kamar. Merasa Alana sudah terlelap, Anin bergerak perlahan meninggalkan putri kesayangannya, mengambil benda pipih di atas nakas. Sepertinya ia harus menanyakan sesuatu pada menantunya.
Jika Alana terus mengatakan ngatuk dan bersikap manja padanya, hanya ada dua hal, Gadis itu sedang bersedih, atau sedang marah.
"Alvi kamu dimana nak?" tanya Bunda Anin setelah sambungan telfon terhubung.
"Di rumah bunda, kenapa? Alana baik-baik saja kan?"
"Iya nak."
"Alvi boleh minta tolong sama bunda? setelah sholat isya perban tangan Alana jangan lupa di ganti ya, takutnya infeksi."
Bunda Anin mengembangkan senyumnya, lagi-lagi Alvi membuat hatinya tenang menyerahkan putrinya kepada orang yang tepat.
"Kalian bertengkar?" selidik bunda Anin.
Hening, Alvi tak menjawab lelaki itu tidak tahu harus menjawab apa, tidak ada yang tahu kehamilan bahkan keguguran Alana selain dirinya, dan bisa di pastikan mertuanya juga akan ikut marah jika mengetahuinya.
"Nggak usah bohong sama bunda, Alana itu orangnya mudah di tebak, gadis itu akan manja sama bunda kalau lagi sedih. Bunda bukannya mau ikut campur, tapi boleh Bunda tahu kalian bertengkar karena apa? siapa tau bunda bisa bantu."
"Alana marah karena Alvi bohong sama dia," sahut Alvi
"Alana ada ngomong sesuatu sebelum kesini?"
"Nggak bunda, dia cuma bilang pengen sendiri, dan untuk sementara waktu nggak mau ketemu sama Aku, sampai dia sendiri yang minta di jemput."
Bunda Anin bernafas lega, ternyata Alana tidak benar-benar marah pada Alvi.
"Bunda nggak tahu yang salah siapa, tapi kamu bisakan nurutin keinginan Alana? dia nggak pernah ingkar janji, paling lama satu minggu. Jangan muncul atau bujukin Alana, dia anaknya keras kepala, semakin di bujuk semakin marah. Bunda juga akan bujuk dia."
"Baik bunda," pasrah Alvi.
...TBC...
Hay-hay masih hari selasa loh, nggak ada niatan gitu lempar vote buat Aa biar tetap strong😊.
Oh iya, dedek juga bawa novel seru loh buat readers tersayangnya dedek. Yang suka tema fantasi cocok banget.
__ADS_1