
Seperti perkiraan Alana, Baby Twins terbangun jam 3 dini hari karena lapar. Dengan muka bantal dan setengah mengantuk ia menghampiri boks baby Alatha lalu mengendongnya, duduk di sofa sembari menyusui Alatha. Belum juga selesai tangisan Agatha juga terdengar membuat Alana sangat frustasi.
Ia kembali meletakkan Alatha di boks lalu mengambil Agatha, baru saja akan duduk tangisan Alatha mulai terdengar.
"Cup ... cup ... cup .... Sayang, jangan nangis ya, gantian ya."
Bukannya berhenti, tangisan keduanya semakin menjadi, mau tidak mau Alana membanggungkan Alvi, padahal suaminya ada rapat pagi yang tidak bisa di wakili siapapun.
"Aa bangun bentar, batuin aku. Alha sama Atha nangis terus dari tadi." Alana menguncang tubuh Alvi.
"Maaf sayang, Aa ketiduran," Buru-buru Alvi bangun saat mendengar tangisan putrinya.
Mereka berdua berbagi tugas, walau ujung-ujungnya Alana kewalahan sendiri karena harus menyusui kedua anaknya secara bergantian. Sebenarnya ini juga karena kekeras kepalaannya yang tak ingin di bantu dengan susu formula.
Pagi hari, Alvi pergi di saat anak-anak juga istrinya belum bangun, ia hanya menyempatkan mencium kening Alana juga pipi anak-anaknya yang terlelap.
Sepanjang jalan ia terus memijit pangkal hidunya, rasa pusing karena kurang tidur mulai menjalari kepalanya hingga ia sampai di gedung Anggara Group. Ya Alvi ada rapat di perusahaan Anggara Group jadi ayah Kevin tidak bisa membantu.
"Rapat berikutnya dengan Lion Dark Group akan di laksanakan lima menit lagi tuan," ujar Hendry.
"Buat kan saya kopi, dan undur rapat beberapa menit kedepan," perintahnya.
"Baik Tuan."
__ADS_1
Hendri kembali masuk keruangan Alvi, bukan membawa segela kopi tetapi ponsel di tangannya.
"Maaf Tuan, tapi Nona Alana tidak mengizinkan Anda minum kopi di pagi hari, apa lagi Anda belum sarapan." Hendri menunduk sopan dengan ponsel di tangannya.
"Itu kalau kau beritahu istri saya," jawab Alvi.
"Jadi Aa mau bohongin aku?"
Alvi menatap tajam Hendri ketika menyadari ponsel yang di pegang asistennya itu tengah terhubung pada Alana.
"Maaf Tuan." Menyerahkan benda pipih itu pada Alvi setelah itu meninggalkan ruangan yang tiba-tiba menyeramkan.
Hari ini Jadwal Alvi sangat padat, baru saja ia keluar dari ruang rapat, dirinya akan menghadiri rapat lainnya beberapa menit kedepan, sarapan saja sudah tidak punya waktu.
"Nggak usah ngalihin Aa sayang. Ingat, nggak boleh minum kopi sebelum sarapan, atau aku akan marah sama Aa," omel Alana di seberang telfon.
"Iya sayang."
"Aku udah nyuruh kak Hendri pesan makanan buat sarapan, jangan lupa di makan biar tetap sehat."
"Aa masih ada rapat sayang."
"Ah, aku lupa ngomong semalam sama Aa, kalau Perusahaan Lion Dark Group bakal di wakili sama Keen."
__ADS_1
"Terus?"
Alana mengarahkan kamera ke taman di mana seorang pria berjas hitam tengah bermain dengan Arga. "Keen masih ada di sini Aa, jadi Aa masih bisa sarapan sebelum rapat selanjutnya."
***
Alvi tidak terburu-buru pulang karena sekarang di rumahnya ada Bunda Anin yang menemani Alana. Alvi masih sibuk di kantor mengerjakan beberapa hal. Di sela-sela waktunya Alvi meyempatkan mengali informasi tentang ibu yang baru melahirkan dan berbagai macam cara menangani anak kembar agar tidak kewalahan di malam hari. Senyumnya mengembang saat mendapat ide brilian.
"Hendry, kemarilah!" perintahnya melalu intecome.
"Ada apa Tuan?"
"Pergi ke toko Ibu dan Baby, beli Pompa ASI terbaik beserta kantong ASI yang steril untuk istri saya. Oh sekalian Frezer juga."
"Kenapa bukan anda sendiri yang beli tuan?"
"Langsung kirim kerumah saja!" Alvi merapikan jasnya. "Tunggu apa lagi? Sana!"
"Baik, Tuan."
...****************...
Jangan lupa like, komen dan vote. Mampir juga di novel baru dedek "Cinta dan masa Lalu"
__ADS_1