
Susah payah Alvi memindahkan Alana ke atas ranjang, akan tetapi baru saja ia menurunkan tubuh mungil itu, sang empunya tubuh mengeliat dan membuka matanya.
"Aa kapan pulang?" tanya Alana mengerjap-erjapkan matanya.
Gadis itu menyandarkan kepalanya di kepala dipan, nyawanya masih belum terkumpul, ia terus menguap.
"Baru saja." singkat Alvi terus menatap wajah bantal sang gadis yang terlihat sangat mengemaskan. Sulit sekali rasanya ingin memarahi gadis di hadapannya.
"Aa dah makan?"
"Belum."
"Ayo makan, aku juga belum makan. Aa bawa pesanan aku kan?" Dengan hati-hati Alana menurunkan kakinya menyetuh lantai dingin tersebut.
"Telfonan sama siapa tadi?" tanya Alvi dengan ekspresi datarnya.
Alana menaikkan salah satu alisnya, telfonan? ia tidak merasa telfonan dengan seseorang.
"Aku nggak telfonan...." Alana menepuk jidatnya, ia baru ingat sebelum tidur telfonan dengan pak Dirga, bahkan ia belum memutuskan sambungan telfonnya.
"Nggak?" ekspresi Alvi semakin datar, jelas-jelas ia tadi melihat riwayat panggilan Dirga, tapi Alana malah mengatakan tidak.
"Hehehe, lupa Aa, ternyata aku telfonan sama pak Dirga," sahut Alana mengatakan yang sejujurnya, toh dari awal ia tidak ingin membohongi Alvi, lagi pula mereka tidak punya hubungan apa-apa, hanya sebatas guru dan siswa.
"37 menit, ngomongin apa aja?" selidik Alvi masih setia berdiri di hadapan Alana, membuat gadis itu tidak bisa bergerak.
Mata Alana membulat sempurna, 37 menit? yang benar saja. Perasaan Ia mengerjakan tugas Bahasa indonesia nya hanya beberapa menit berkat bantuan pak Dirga.
"Pak Dirga cuma nanya kabar aku aja sama bantuin ngerjain tugas, tapi nggak selama itu kok, cuma beberapa menit. Aku ketiduran makanya lupa matiin telfon," jawab Alana.
Tatapan Alvi semakin tajam, membungkuk, terus mendekatkan wajahnya pada wajah gadisnya, membuat Alana ikut mundur, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan.
"Aa." lirih Alana memejamkan matanya, tatapan penuh mengintimidasi Alvi membuatnya gugup.
"Dirga nemenin kamu tidur, Hm?"
Mata Alana yang semula tertutup, kini terbuka, membalas mata elang Alvi. Ia tidak habis fikir dengan pikiran om-om di hadapannya. Ia memukul pundak lelaki itu.
"Aa ngaco?" tanyanya tak percaya. "Gimana pak Dirga mau nemenin aku tidur, aku di sini sedangkan pak Dirga entah di mana. Kalau nuduh yang benar dikit bisa?"
"Aa mau ribut sama aku? bentar aja, aku lapar mau makan dulu." Alana menarik ujung dasi Alvi, kemudian mengecup sudut bibir lelaki itu. "Aku mau makan steik daging."
__ADS_1
Tak ada sahutan dari lelaki itu, Alvi hanya bergeming menunggu Alana melepaskan dasinya. Merasa sudah terlepas, Alvi berjalan menjauhi Alana, membuka jasnya kasar lalu melemparnya ke keranjang kotor. Masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya, gerah akan cuaca bercampur gerah akan api cemburu. Dirinya saja tidak pernah telfonan selama itu dengan gadisnya, tapi Dirga malah melakukannya.
Usai membersihkan diri, ia berjalan ke arah lemari tanpa melirik gadisnya sedikitpun, mengambil baju kaos asal lalu memakainya.
"Aa marah sama Aku? Aa ngambek, iya?" tanya Alana, namun Alvi malah berjalan melewatinya lagi menuju pintu.
"Aku nangis nih." ancam Alana. Salah satu senjata ampuh meluluhkan Alvi.
"Terserah kamu mau nangis atau nggak," sahut Alvi sebelum keluar dari kamarnya.
Ia berjalan menuruni satu persatu anak tangga, berbelok ke arah kanan menuju dapur. Menyiapkan beberapa bahan untuk membuat Steik daging sesuai keinginan gadisnya.
Sembari menunggu panggangan nya masak, Alvi menelfon seseorang.
"Ngapain lo nanya-nanyain keadaan istri gue?" todong Alvi tanpa basa basi setelah sambungan telfon terhubung.
"Salah kalau gue nanyain kabar murid sendiri? apa lagi dia asisten gue?" sahut Dirga di seberang telfon.
"Sejak kapan lo peduli dengan orang lain?"
"Sejak gue kenal gadis bernama Alana."
Tangan Alvi terkepal mendengar jawaban Dirga, pengacara pribadinya itu benar-benar menguji kesabarannya.
"Tentu saja ke semua orang."
"Salah satu siswa SMA Angkasa ada yang kecelakaan, jika lo guru yang peduli ke semua siswa. Jenguk dia, bayar semua biaya perawatannya, dan jangan lupa ke kantor polisi untuk jadi pengacaranya. Gue tunggu pembuktian Lo."
"Sialan Lo Alvi!" maki Dirga di seberang sana.
Alvi buru-buru mematikan telfon ketika mencium bau-bau tak sedap, sontak ia menoleh dan mendapati steik yang ia buat, gosong. Buru-buru ia mematikan kompor lalu mengangkat Steik setengah gosong tersebut.
"Bi, ini kenapa ada bau gosong," ujar Bunda Anin sembari berjalan ke arah dapur. "Alvi kamu ngapain di...." Bunda Anin mengantung kalimatnya melihat menantunya. "Ya Allah kenapa bisa gosong nak."
Alvi mengaruk tengkuknya, rasanya ia ingin menghilang sekarang juga.
"Kenapa nggak nyuruh Bi Ijah? itu buat siapa? kamu?" tunjuk bunda Anin pada Steik gosong di atas piring.
"Rencananya buat Alana bunda."
Bunda Anin mengeleng-gelengkan kepalanya. "Bunda sudah bilang Alana jangan terlalu di manja, apa lagi di suruh masak gini."
__ADS_1
"Alvi yang ingin masak buat Alana, bukan Alana yang nyuruh bunda." Alvi meluruskan, ia tidak ingin istrinya mendapat ceramah panjang lebar bunda nya.
"Nggak usah masak, biar bunda atau bibi yang masak, sekarang kamu ke kamar panggil Alana makan, dia belum makan sejak pulang dari rumah sakit."
Sesuai perintah bunda Anin. Alvi kembali ke kamar dan mendapati istrinya duduk masih dengan posisi yang sama, bedanya sekarang gadis itu tengah memegang buku novel.
"Sudah nangisnya?" tanya Alvi duduk di pinggir ranjang menghadap sang istri.
Alana menutup buku novel yang ia bawa kemudian meletakkan nya di atas nakas.
"Nggak jadi nangis, nggak ada yang liatin, nggak ada yang mau bujukin." cemberut Alana.
Alvi mengulum senyum, kenapa gadisnya semakin mengemaskan. Ia menjawil cuping hidung Alana, kemudian mengecupnya.
"Jadi nangisnya di pending dulu?"
"Iya...," jawabnya manja. "Aa nggak ngambek lagi kan?"
"Hm."
"Sayang."
"Jangan manggil sayang," bisik Alvi. "Sayang kamu buat Aa ber naf*su, mau di terkam, Hm?" Alvi mencium rahang Alana, beralih ke telinga, lalu turun ke leher jenjang gadis itu.
Alana mengeliat merasa geli, ia mendorong tubuh kekar itu agar manjauh darinya.
***
Alana terus memerhatikan Alvi yang kini sibuk dengan steik gosong di atas meja makan, sedari tadi lelaki itu membersihkan warna-warna hitam di pinggir daging.
"Makan Aa!"
"Ini mau makan."
"Kelamaan." Alana menggeser piring steik gosong tersebut. "Ayo buka mulut!" perintah Alana mengarahkan steik daging yang sudah Alvi potong-potong, tentu saja buatan bunda Anin.
Dengan senang hati Alvi membuka mulutnya, menikmati setiap suapan yang di berikan Alana. Kini Alana menyuapi Alvi batagor pesanannya.
"Enak nggak?"
"Biasa aja," jawab Alvi. "Suapin pakai mulut coba, siapa tau lebih enak." seringai Alvi.
__ADS_1
...TBC...