Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 92


__ADS_3

Baru saja akan membaringkan diri suara deringan telfon terdengar, dengan malas Alana menjawab telfon dari suaminya. Ia diam menunggu Alvi memulai pembicaraan.


"Kapan pulang? Aa rindu." kalimat pertama yang di lontarkan Alvi. "Aa jemput malam ini ya."


"Besok aja, aku udah ngantuk."


Senyum di bibir Alvi terukir indah mendengar jawaban gadisnya, akhirnya gadis itu akan pulang kerumah.


"Tidur yang nyenyak, besok Aa jemput sekalian antar kamu ke sekolah."


"Iya."


Benar kata ayah Kevin, seharusnya ia tidak seegois ini, bagaimanapun Alvi berbohong demi menjaga perasaaanya. Malam ini, pagi begitu cepat menyapa seperti mengerti apa yang di ingin kan gadis berambut indah di dalam kamar yang sedang merias wajahnya tipis-tipis.


Alana menuruni satu persatu anak tangga sembari bersenandung kecil, menghampiri sepasang suami istri di meja makan. Ia meletakkan tas ransel berwarna kuning di kursi, lalu duduk di sampingnya.


"Pagi Ayah, bunda." sapa Alana Riang.


"Pagi cantik."


Usai Sarapan Ayah Kevin mengajak putrinya berangkat bareng, tapi gadis itu malah senyum-senyum sendiri sembari mengeleng. "Aku berangkat sama Aa."


Ayah Kevin mengangguk setuju, mengecup kening bunda Anin dan juga Alana sebelum berangkat. Sepeninggalan Ayah Kevin, Alana mulai gelisah, hampir jam 8 pagi tapi Alvi belum datang menjemputnya. Ponsel lelaki itu juga tidak aktif.


"Berangkat bareng bunda aja, Alvi mungkin nggak sempat jemput kamu."


Mau tidak mau, Alana ikut dengan bundanya, sebelum meninggalkan rumah, gadis itu menitip pesan pada mang Ucup agar memberitahu Alvi kalau ia berangkat bersama bunda Anin.


Sesampainya di sekolah, Alana juga tak mendapati keberadaan Alvi, padahal lelaki itu punya jam mengajar di kelasnya jam sembilan nanti.


"Pak Alvi nggak datang? biasanya jam segini pak Alvi udah masuk." tanya Salsa pada Alana yang sedari tadi sibuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


Alana mengangkat bahunya tanda tidak tahu, moodnya tiba-tiba berubah, perasaanya tidak tenang seperti terjadi sesuatu, tapi apa?


"Sal, kok perasaan gue nggak enak gini ya?" tanya Alana.


"Lo sakit?" memperhatikan wajah Alana. "Tapi lo nggak pucat."


"Mungkin," sahut Alana.


Hari mulai siang tapi ponsel Alvi belum juga aktif, sedari tadi Alana sering dapat teguran dari guru karena tidak fokus. Tak sabar lagi, gadis itu menghubungi asisten kepercayaan suaminya.


"Halo Nona."


"Kak Hendri sama pak Alvi? aku mau bicara."


"Nona nggak tau kalau pak Alvi dirawat di rumah sakit?"


Deg


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Alana memutuskan sambungan telfon begitu saja, ia membereskan buku-bukunya di atas meja lalu memasukkan ke tas dengan terburu-buru.


"Lo mau kemana?" tanya Salsa.


"Gue ada urusan," tariak Alana di ambang pintu.


Sepanjang jalan, gadis itu meremas jari-jari tangannya, bergantian dengan memutar-mutar cincin pernikahan mereka di jari manisnya mencoba tenang walau tidak bisa. Semalam ia baru saja bicara dengan Alvi, tapi kenapa lelaki itu tidak mengatakan sesuatu?


Tidak butuh waktu lama Alana menemukan ruang rawat Alvi. Gadis itu memutar handel pintu, mendorong daun pintu itu secara perlahan dan mendapati sosok yang selalu melindunginya terbaring lemah di atas berangkar dengan selang infus di tangannya.


"Kak Angga, pak Alvi kenapa?" tanya Alana duduk di samping brangkar.


"Kekurangan kasih sayang dia, makanya drop." sahut Devan.

__ADS_1


"Alerginya kambuh," jawab Angga sembari memberikan surat medis Alvi pada Alana. "Biasanya nggak separah ini. Mungkin karena terlalu lelah dan imun tubuhnya turun, membuatnya mudah terserang."


Alana mengangguk mengerti, menerima kertas berwarna biru pudar itu, memerhatikan sedetail mungkil.


"Alergi debu?" lirih Alana.


"Iya, kamu nggak tau?" tanya Angga.


Alana mengeleng, hampir setengah tahun mereka menikah, tapi ia tidak tahu apa saja yang di sukai Alvi, bahkan alergi lelaki itu saja ia tidak tahu. Pantas saja Alvi sering menolak jika ia ingin makan di pinggir jalan, belum lagi Alvi sangat terobsesi dengan kebersihan di rumah, tidak membiarkan sesuatu berdebu.


Pantas saja setiap mereka makan di pinggir jalan, pulang-pulang Alvi langsung mandi, walau begitu ia sering mendapati kulit suaminya sedikit memerah.


Usai menjelaskan semuanya, Angga pamit undur diri, lagi pula sudah ada Alana yang menjaga Alvi. Sebelum keluar ia tak lupa menarik Devan yang masih betah berbaring di atas Sofa.


"Jomblo di larang ngintip," ujar Angga menyeret Devan keluar dari ruang rawat Alvi.


"Kayak lo nggak jomblo aja," gerutu Devan.


Alana hanya bisa mengelengkan kapalanya melihat perdebatan Angga dan Devan, ia tidak menyangka suaminya betah berteman dengan mereka.


"Ternyata Mr. perfect bisa sakit juga Van."


"Mana bucin lagi." timpal Devan ikut menistakan Alvi.


...TBC...


Hay-hay dedek balik lagi bawa si Aa, jadi jangan lupa lempar vote dan hadiahnya ya🤭. Buat Readers tersayang, jaga kesehatan ya!


Jangan lupa mampir juga di novel kakak Online aku yang nggak kalah seru, ceritanya bikin nyesek dan nangis bombay, siapa sih yang rela jika di madu dengan sahabat sendiri? nggak ada kan? yuk ikuti ceritanya


__ADS_1


__ADS_2