Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 139


__ADS_3

"Kok keras?"


"Hah?" bingung Alvi, padahal tongkat bisbolnya masih setengah on, tidak mungkin Alana merasakannya.


Alana meraba-raba tempat di sekitarnya, dan menemukan apa yang ia cari, beberapa buku di bawah selimut. Baru Alana akan membuka buku tersebut, tubuhnya sudah terhempas ke kasur akibat dorongan Alvi. Dengan sigap Alvi merebut buku itu lalu kembali menyembunyikannya.


"Liat Aa." Alana tak menyerah merebut buku yang lainnya. "Ngapain Aa baca buku kayak gini? gabut banget." Alana membalik-balikkan beberapa buku yang di sembunyikan Alvi di bawah selimut. Buku tentang wanita.


"Seribu satu cara menaklukan seorang wanita, cara mencintai wanita dengan baik, suami idaman para wanita." Alana mengabsen buku-buku di atas tempat tidur dan banyak lagi yang belum ia sebut.


Alvi nyengir tanpa dosa, merasa malu kedapatan membaca buku memalukan itu.


"Kenapa?" tanya Alana mengalungkan tangannya di leher lelaki itu, sedikit menekan agar Alvi menunduk dan ia bisa mencium bibir lelakinya.


"Aa ingin menjadi pria seperti yang kamu mau, humoris, romantis, dan peka terhadap perasaan perempuan." jawab Alvi mengunci tatapan Alana.


Kening Alana mengerut, sejak kapan ia memberitahu Alvi pria idamannya?


"Aa nggak sengaja liat buku Diary kamu."

__ADS_1


Alana tertawa mendengar pengakuan Alvi, buku Diary? yang benar saja, buku Diary itu ia tulis saat SMP kelas tiga dan sekarang sudah tidak berlaku untuknya.


"Aa sayang," lembut Alana. "Aa nggak perlu jadi orang lain untuk aku. Aku suka Aa apa adanya, mau Aa sedingin Es, mau Aa sekaku kanebo, nggak peka. Itu nggak masalah buat aku. Justru sikap Aa yang kayak gini buat aku jatuh cinta.


***


Alana bergerak gelisah di atas tempat tidur, rasa tak menyaman mulai mengganggunya, perut seperti melilit, juga pinggang rasanya mau patah. Ia meremas tangan Alvi sekuat mungkin membuat lelaki yang terlelap itu terbangun.


"Kenapa Alana?" gumam Alvi masih enggan membuka mata, padahal matahari mulai menampakkan diri walau masih malu-malu.


"Sakit." rengek Alana.


Alvi mengusap keringat di pelipis gadisnya, terus mengelus perut bergantian dengan pinggang sesuai perintah Alana.


Alvi melihat tanggal, dan baru sadar sekarang pertengahan bulan, pantas saja Alana seperti ini. Gadisnya sedang datang bulan.


"Udah mendigan?" tanya Alvi menarik Alana agar duduk di pangkuannya. Cara ini selalu ampuh meredakan nyeri yang dirasakan Alana. Memeluk gadisnya sembari mengelus pinggang juga perut.


Alana mengangguk dalam pelukan Alvi.

__ADS_1


Pelahan-lahan Alvi bergerak, turun dari ranjang dengan Alana di pangkuannya. Lelaki itu berdiri mengendong gadisnya ke kamar mandi, lalu menduduknnya di kloset.


"Aa ambil pembalut dulu."


Alvi kembali membawa pembalut juga pakaian dalam untuk sang istri, berniat ingin membantu, tapi Alana menyuruhnya keluar.


Setelah selesai, Alvi kembali mengendong Alana ke tempat tidur, membaringkan Alana, lalu ikut berbaring di sampingnya, mengelus pinggang mulus sang istri dan sesekali mengecup kening Alana.


"Aa udah jam delapan, nggak berangkat?"


Alvi mengeleng.


"Aku nggak papa, cuma nyeri haid, udah biasa ini. Mending Aa siap-siap."


"Apa semua perempuan akan mengalami ini?"


"Is, Aa nggak usah lebay deh, udah kodratnya perempuan haid dan melahirkan. Dan inilah yang membuat perempuan lebih istimewa dari laki-laki."


***

__ADS_1


Jangan lupa komen, like, dan vote.


__ADS_2