
Melihat sang suami sibuk telponan dengan orang lain yang entah siapa, ide jahil langsung terlintas di otak cerdas Alana. Ia ikut duduk di samping Alvi, mengambil barang-barang apa saja yang ada di dekatnya untuk di serahkan pada laki-laki itu.
Mulai dari remot Tv, mouse, remot Ac, tisu dan sebagainya.
"Tantu saja, saya akan mengurus semuanya. Untuk dana, saya sudah menyuruh asisten saya, mungkin akan dikirim hari ini," ucap Alvi pada rekan bisnisnya.
Laki-laki itu pasrah mengambil apa saja pemberian Alana, dan memangkunya dengan senang hati. Hingga semua peralatan memenuhi kursinya.
Usai bertelponan, Alvi meletakkan ponselnya dan menatap Alana yang kini tersenyum jahil padanya. "Kenapa sayang? Punya masalah apasih sama Aa?" tanya Alvi.
"Iseng aja, marah ya?" tanya Alana tanpa dosa.
"Nggak, sayang malah," jawab Alvi mengelus rambut panjang Alana. "Rumah sepi, anak-anak mana?"
"Emang sepi? Padahal anak-anak lagi ribut di ruang keluarga," jawab Alana. "Ayo me time sama anak-anak," ajak Alana menarik salah satu tangan Alvi.
"Sebentar sayang, Aa nyelesain ini dulu." Menujuk laptop yang menyala.
Alana menghela napas panjang, di hari libur saja, suaminya sibuk bekerja. Padahal ia sengaja mengosongkan jadwalnya hari ini karena ingin berkumpul bersama. Lebih tepatnya hanya ingin berdua. Akhir-akhir ini Alana selalu ingin berada di dekat Alvi.
__ADS_1
***
Satu jam sudah berlalu, tapi Alvi belum juga memunculkan batang hidung di ruang keluarga.
"Mommy mau kemana?" tanya Arga yang kini di pangkuanya ada Alatha yang sedang bergelayut manja.
"Mau nemuin Daddy," jawab Alana.
"Dih, ingat umur Mom. Udah tua nempel terus sama Daddy," cibir Agatha.
"Sirik aja, makanya nyari pacar." Alana balas mencibir.
Dan di situasi seperti ini, Alvi seakan mempunyai empat bocah yang harus di urus.
"Arga nggak setuju kalau si kembar punya pacar!" tegas Arga.
"Siapa juga yang mau pacaran, Atha kep halal ye," sahut Agatha kembali fokus pada layar, takut Arga mengalahkannya. Keduanya sedang bermain game.
"Alha juga nggak mau pacaran, kan Alha milik Abang," jawab Alatha mengalungkan tanganya di leher Arga, padahal Alatha bukan lagi anak kecil, gadis itu sudah kelas 3 SMP, sebentar lagi masuk SMA.
__ADS_1
"Hm."
Tak ingin ikut campur urusan percintaan anak muda, Alana segera meninggalkan ketiga anak-anaknya. Sementara si kembar dan Arga kembali melanjutkan pembicaraan.
"Bang, kemarin Atha ketemu mbak Disya," ucap Agatha tiba-tiba.
Pergerakan tangan Arga berhenti mendengar nama Disya di sebut. Sudah lama mereka tidak bertemu, sejak Disya lulus dan memutuskan kuliah di negara orang, gadis cantik dan rian itu tak lagi ada kabar.
"Dia ada di sini?" tanya Arga.
"Iya, katanya mbak Disya nggak kuat kuliah disana, mau lanjut di sini aja katanya. Oh iya, mbak Disya nanyain Abang."
"Ngapain mbak Disya nayain Abang? Alha nggak suka kalau Abang dekat sama mbak Disya," celetuk Alatha si posesif.
Arga menyugar rambutnya kebelakang sembari tersenyum bangga. "Ya jelas Disya nanyain gue, siapa coba yang nggak kangen sama pesona seorang Arga." Pedenya.
"Huek, pengen muntah," ejek si kembar bersamaan.
...****************...
__ADS_1