
Siapa saja akan befikiran aneh dengan gelagat aneh yang di lakukan Alana tadi, gadis itu memaksa Alvi membuka baju juga celana. Tapi apa yang Alvi pikirkan berbanding terbalik dengan keinginan gadisnya.
Alana senyum kemenangan setelah menyelesaikan pekerjaannya, tanpa memperdulikan ekspresi Alvi yang sangat frustasi. Gadis itu kembali menyelimuti Alvi setelah membasuh seluruh tubuh suaminya dengan air hangat.
"Wangi banget bayi besar aku. Gimana segarkan kan? nggak terlalu gatal lagi?"
"Hm."
"Idih ngambek lagi, ntar jatahnya kalau udah sembuh, sekarang fokus sama kesehatan Aa dulu."
Alana mengamangkan baskom berisi air hangat juga handuk kecil yang sangat halus itu di atas nakas, lalu berisiap-siap berdiri untuk mengambilkan Alvi pakaian ganti, tapi sebelum itu ia mengecup sudut bibir lelaki yang sedari tadi cemberut, merengek ingin buka puasa.
"Alana!" rengek Alvi seperti anak yang menginginkan sesuatu.
"Nggak Aa. Aa itu masih sakit jangan...emmmphhh." Alana tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika mulutnya di bungkam oleh Alvi.
Alana sedikit mendorong dada Alvi agar menghentikan perbuatannya, ia mengusap bibir lelaki itu yang terlihat basah. "Jangan banyak gerak, aku takut kalau tangan Aa ngeluarin darah." jujurnya.
"Nggak bakal Aa janji," ujar Alvi kembali menyatukan benda kenyal itu, kali ini tak ada penolakan dari gadisnya, bahkan Alana mengikuti permainan yang ia lakukan.
Alvi mendorong tubuh Alana dengan sebelah tanganya, membaringkan gadis itu di sampingnya.
Alana mengalungkan tangannya di leher Alvi, meremas rambut lebat itu, ketikan Alvi bermain pada telinga juga ceruk lehernya. Bahkan tangan Alvi mulai aktif membuka satu persatu kancing kemeja sekolahnya.
Deringan telfon dari ponsel tak Alvi hiraukan, fokus pada apa yang ia lakukan sekarang, hampir dua minggu ia tidak pernah bertemu gadisnya, membuatnya sangat rindu.
Deringan ketiga Alana terpaksa mendorong dada Alvi agar memisahkan diri darinya, gadis itu mengatur nafas sebelum berbicara. "Di angkat dulu Aa siapa tau penting."
"Udah mati." jawab Alvi kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
Deringan telfon kembali mengema di ruangan itu, mengganggu keromantisan yang sedari tadi tercipta, mencegah dirinya buka puasa setelah sekian hari tidak bertemu.
"Oh Shi***," umpat Alvi meraih ponselnya di atas nakas tanpa merubah posisinya, membuat gadis yang ia tindih sesak nafas.
__ADS_1
Alvi semakin kesal ketika mengetahui siapa penganggu itu, siapa lagi jika bukan si aktor tampan bernama Devan.
"Bicaralah!" perintah Alvi sembari mengecup bibir Alana yang terlihat seksi karena mangatur nafas.
Sembari mendengarkan Devan mengoceh, Alvi melancarkan aksinya, hingga tanpa sadar Alana mendes*ah.
"Anjim, lo lagi ngapain bego?" maki Devan ketika mendengar ******* Alana.
Mendegar makian Devan membuat wajah Alana seketika memerah, merasa malu ada yang mendengarnya. Ia mencubit perut Alvi, menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.
"Masuk!" perintah Alvi kemudian memutuskan sambungan telfonnya, tak lupa ia meraih remot untuk membuka pintu yang di kunci Alana tadi.
Ia juga memperbaiki selimut untuk menutupi tubuh Alana.
Alvi meringis ketika Alana kembali mencubit perutnya dengan keras.
"Sakit sayang."
"Nyebelin banget." kesal Alana.
"Alana mana?" tanya Devan sok tidak tahu, mendaratkan tubuhnya di sofa.
Mendengar Devan menyebut namanya, Ia memunculkan sedikit kepalanya, mengintip, ada apa gerangan aktor Favoritnya itu mencarinya. "Kenapa kak?" lirih Alana masih malu dengan apa yang terjadi tadi.
"Ngapain di sana? nidurin ular pintong?"
"Devan, diam nggak lo!" perintah Alvi.
"Wah-wah baru nyadar gue kalau baju lo nggak ada."
Sumpah demi apa ingin rasanya Alana tertawa melihat wajah Alvi memerah, bukan merah karena ruam, tapi merah karena malu.
Usai membenarkan bajunya yang berantakan, Alana hendak menjauh karena tidak enak dengan Devan, tapi lagi-lagi Alvi menariknya.
__ADS_1
"Di sini saja!"
Belum pergi satu, pengacau lainnya datang lagi. Jika Alana tersenyum menyambut kedatangan dokter Angga, lain halnya dengan Alvi, dapat Alana lihat ekspresi suaminya sangat tertekan.
"Kapan gue bisa pulang?"
"Kalau lo merasa udah sehat, pulang aja nggak ada yang larang." jawab Angga, mengundang tawa Devan yang sedari tadi menjahili Alana.
"Nggak!"
Ketiga pria yang berbeda profesi itu sontak menatapnya. Mungkin merasa heran dengan ia berteriak tidak setuju. Seperti di komando, ketiga lelaki itu menaikkan sebelah alisnya secara bersamaan.
"Aku nggak setuju Aa pulang sebelum ruam di tubuh Aa benar-benar hilang," ujar Alana.
Sudut bibir Angga tertarik, ternyata tanpa di minta Alana sudah sangat membantunya untuk mencegah Alvi si guru kimia keras kepala itu nekat pulang. Ia menjawab tidak ada yang larang karena sudah jengkel dengan Alvi.
Saat Alvi bergabung dengan teman-temannya, Alana menggunakan waktu itu untuk menganti baju di kamar mandi. Usai menganti baju gadis itu ikut bergabung, duduk di samping suaminya. Ia menyibukkan diri dengan ponselnya, chatan dengan seseorang.
"Siapa?" Kepo Alvi ketika melihatnya senyum-senyum sendiri.
"Mis Tania, teman baru aku, pak Dirga yang kenalin, orangnya seru banget." jawab Alana memperlihatkan chatnya dengan Mis Tania. "Dia bakal kesini dalam waktu dekat."
"Tania Mahardika?" tanya Angga dan Devan serentak.
"Iya."
Hening melanda, ketiga pria itu saling pandang seperti mengatakan sesuatu lewat mata masing-masing.
"Kok kayak pada kaget gitu, kenapa?"
...TBC...
Maaf ya Dedek nggak sempat nulis kemarin malam karena ketiduran🙈.
__ADS_1
Dedek bawa novel lagi nih buat kalian, jangan lupa di baca ya.