
Usai makan siang bersama, Alvi memberikan Alana beberapa lembar latihan soal untuk persiapan tryout nanti. Lelaki itu dengan setia menemani sang gadis belajar, menjelaskan apa-apa saja yang tidak di pahami Alana.
Sekali-kali ia merapika rambut yang menjuntai indah itu agar tidak menghalangi pandangannya memandangi wajah cantik sang gadis jika sedang serius seperti ini.
"Kenapa?" tanyanya ketika Alana menoleh ke arahnya.
"Jangan di liatin, aku gerogi Aa." protes gadis itu, kemudian kembali mengerjakan soal-soal.
Alvi mengulum senyum, sekarang ia tidak lagi menatap Alana namun merangkul pundak gadis itu, menciumi lengan gadisnya yang terekspos sempurna.
Bunyi pulpen di letakkan di atas meja terdegar jelas, siapa lagi pelakunya jika bukan Alana. Gadis itu kini kembali menoleh pada lelaki yang selalu befikiran mesum jika bersamanya.
"Aa aku kapan selesainya kalau gini." gerutu Alana, namun tak mencegah Alvi menyusuri lehernya.
"Sudah sejam lebih kamu belajar, istirahat dulu, nanti malam di lanjut, otaknya jangan di paksakan," ujar Alvi mengecup bibir pink Alana, kemudian bangkit dari duduknya.
Mata gadis itu berbinar, akhirnya ia terbebas dan bisa main ponsel lagi, ia mengira lembaran soal yang di berikan Alvi harus selesai sekarang juga.
"Ponsel aku mana?" cengir Alana menegadahkan tangannya, sebab Alvi menyita ponselnya jika sedang belajar.
"Di atas nakas. Jangan kemana-mana, Aa mandi dulu."
"Aku mau buat jus, Aa juga mau? kalau Iya, rasa apa?"
"Apa aja." sahut Alvi dari dalam kamar mandi.
"Ipi Iji," ledek Alana sembari berjalan keluar kamar. "Nggak punya selera mungkin tuh orang apa aja di embat." Selau saja jika di tanya, jawabannya seperti itu, tak pernah protes apapun yang Alana buat.
Usai membuat jus Alvocado dan jeruk, Alana kembali ke kamar, ia menghela nafas kasar melihat kelakuan Alvi. Handuk di lempar begitu saja ke atas tempat tidur, pakaian kotor tergeletak di samping keranjang kotor.
Sedangkan yang membuat kekacauan duduk santai di sofa dengan handuk tersampir di pundak, tentu saja menunggu dirinya mengeringkan rambut. Alana meletakkan nampang yang berisi jus di depan Alvi sedikit kasar. Beralih ke ranjang mengambil handuk kemudian menjemurnya di dekat pintu kamar mandi, merapikan keranjang kotor agar tidak seberantakan tadi.
"Saat pertama menginjakkan kaki di rumah Aa aku kira Aa tuh orangnya rapi, bersih. Eh taunya aku ketipu," gerutu Alana sembari menghampiri Alvi, mengambil handuk di pundak lelaki itu kemudian mengeringkan rambutnya.
"Dari dulu emang Aa bersih." Memeluk pinggang gadis itu, membenamkan wajahnya pada dua gundukan yang terasa sangat kenyal. Pergerakan Alana yang mengeringkan rambutnya membuat hidung mancung Alvi ikut bergerak di antara gunung kembar memabukkan itu.
"Tapi sekarang aa sudah punya istri," lanjutnya.
"Aa sayang, Aa emang punya istri, tugas istri melayani suaminya, tapi nggak jadi pembantu juga. Kalau Aa bisa ngerjain kenapa harus nunggu istri. Sendaianya dari dulu Aa emang jorok, okelah nggak masalah, tapi ini Aa sengaja." ceramah Alana.
"Aa janji, tapi untuk ngeringin rambut tetap kamu."
__ADS_1
"Iya suamiku." gemes Alana mendengar regekan manja suaminya.
"Kodrat perempuan itu cuma tiga kalau Aa lupa. Datang bulan, melahirkan, dan menyusui. Yang lainnya bisa di kerjakan oleh suami."
"Iya."
"Iya apa?"
"Kamu nggak pakai Br*a Al?" tanya Alvi ketika menyadari sesuatu.
"Iya, kenapa?" santai Alana.
Alvi mendongak, tatapannya penuh mengintimidasi pada gadis yang kini berdiri di hadapannya. "Kamu keluar kamar tanpa memakai Br*a tadi?" selidik Alvi.
"Iya, kenapa sih?"
"Jangan gitu lagi Aa nggak suka, gimana kalau ada orang tiba-tiba bertamu. Semua yang ada di kamu itu semua MILIK Aa nggak boleh ada yg melihatnya."
"Posesif banget cih suami aku." gemes Alana menguyel-uyel pipi Alvi.
Gadis itu melerai pelukan Alvi pada pinggangnya.
"Mau kemana?"
"Nggak usah." Kembali menarik Alana kedalam pelukannya. "Biar lebih gampang." seringai lelaki itu, mengangkat tubuh mungil Alana agar duduk di pangkuannya.
"Nggak usah mesum." peringatan Alana. "Masih siang bolong, jus nya di habisin."
Di mulut mengatakan jangan mesum tetapi tangan gadis itu seakan memberi akses pada Alvi untuk melakukan lebih.
"Lusa tanggal berapa?" memainkan leher baju Alvi.
"Empat November."
"Aa ingat itu hari apa?"
"Tentu saja, Aa nggak mungkin lupa." Senyum Alana seketika mengembang, lelaki itu pasti tidak akan lupa hari brojolnya.
"Hari Kamis, hari terakhir kamu tryout setelahnya libur beberapa hari," santai Alvi.
"Bukan itu." kesal Alana.
__ADS_1
"Terus apa?"
"Aa beneran nggak tau? ah sudahlah bikin bad mood siang-siang." Gadis itu turun dari pangkuan suaminya, kesal akan jawaban Alvi yang sama sekali tidak ingat dengan hari ulang tahunnya.
"Keinginan kamu yang belum tercapai apa?"
"Nonton konser Astro langsung di Korsel, ayah nggak pernah ngijinin," sahut Alana dari balkon.
"Oh."
***
Sejak keluar dari kamar gadis itu terus memanyungkan bibirnya, kesal akan tingkah Alvi subuh tadi. Seandainya ia tidak menuruti keinginan lelaki itu, sekarang ia tidak mungkin bangun kesiangan, mana hari ini hari senin, ada tryout. Namanya berada di urutan pertama yang artinya sesi satu.
"Pelan-pelan makan nya Al,"
Gadis itu tak menyahut, malah semakin mempercepat laju makannya, membuat Alvi menghela nafas melihatnya, sepertinya ia akan mendapat amukan lagi hari ini.
Makan terburu-butu membuat Alana tersedak, Alvi dengan sigap mengambil air minum untuk gadisnya.
"Aa sudah bilang pelan-pelan." Omel Alvi mengusap sudut bibir Alana. "Masih jam tujuh." Melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Misih jim tujuh," cibir Alana bangkit dari duduknya meninggalkan Alvi seorang diri di meja makan. Ia tak henti-hentinya melirik arloji di pergelangan tangannya, hampir setengah delapan, tapi Alvi belum juga memunculkan batang hidungnya.
"Aa niat nggak sih ngantar aku ke sekolah?" omel Alana setelah Alvi masuk kedalam mobil.
"Iya, kenapa?"
"Pakai nanya. Jangan samain sama Aa dong, Aa tuh masuknya jam sepuluh cuma jadi pengawas, mau berangkat jam berapa nggak bakal telat."
Omelan gadis itu terhenti ketika Alvi dengan cepat mengecup bibir tipis yang sedari tadi memarahinya, bahkan lelaki itu sedikit meluma*tnya.
"Apaan sih." Mendorong kasar tubuh Alvi. "Buruan jalan!"
Wajah gadis itu semakin masam, ketika di pertengahan jalan mendapati kemacetan yang lumayan memakan waktu, ia bahkan tak menyahut lagi pertanyan-pertanyaan Alvi.
Menghilangkan kegabutan dan juga kekesalannya, gadis itu lebih memilih menyandarkan kepalanya, memainkan kaca mobil.
Melihat seseorang mengetok kaca mobilnya, Alana menyipitkan mata, sepertinya ia mengenali pengendaran ber motor itu. Karena penasaran ia menurunkan kaca mobil.
"Pak Dirga...."
__ADS_1
...TBC...
Masih hari selasa jangan lupa lempar Vote nya ya, like dan komen juga tapi, biar autor makin semangat.🤗🤗🤗