Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 47


__ADS_3

Seakan mendapat jackpot, Alvi dengan sigap mengungkung tubuh mungil Alana hingga dalam kendalinya, menyatukan bibir mereka, saling menyesap, bertukar saliva satu sama lain.


Merasa kurang puas, Alvi meraih tengkuk gadis tersebut, membuat gadis itu mengalungkan tangannya dengan manja di leher Alvi. Mengabsen setiap inci mulut Alana, menyapukan benda tak bertulang pada barisan gigi putih gadisnya.


Gerimis di luar sana tak mampu memadamkan gairah dalam tubuh dua senjoli yang sedang di mabuk Asmara itu.


Tangan besar itu dengan nakal merambat keseluruh punggung Alana, melepas satu persatu kancing piyama gadis tersebut hingga memperlihatkan gunung kembar yang siap ia daki.


"Aa Alvi..." erang Alana semakin membusungkan benda kenyal tak bertulang itu kala bibir tebal Alvi bermain di sana.


Gelenyar aneh menjalar keseluruh tubuh gadis itu, tangan lentiknya tak mau kalah menyusuri punggung kekar Alvi membatu lelaki tersebut membuka baju kaosnya hingga terpampang nyata roti sobek yang sangat menggoda.


Alvi melepas pangutannya, menatap mata sayu gadis di bawahnya. "Boleh?" izin Alvi sebelum melakukan hal lebih pada tubuh istrinya.


Dengan nafas tesengal-sengal Alana menganguk "Jadikan aku milikmu malam ini A." ia kembali mengalungkan tangannya pada leher lelaki itu. Tubuhnya mengingingkan lebih dari sekedar sentuhan dan ciuman dari Alvi.


"Aaaaaaa." Alana menjerit kala melihat junior Alvi, dengan sigap ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tetapi penasaran, sedikit demi sedikit ia mengintip di balik jarinya.


Alvi mengulum senyum, merangkak mendekati Alana, kembali menindih tubuh polos gadisnya. Menumpu tubuhnya dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya mencoba menyingkirkan tangan mungil Alana.


"Kenapa kamu semakin mengemaskan tanpa busana, Hm." gemas Alvi mengecup kedua mata Alana. "Jangan di tutup matanya, kamu akan melihatnya setiap hari."


"Malu Aa." lirih Alana mencoba mencubit roti sobek Alvi, namun tangannya melenceng ketika lelaki itu bergerak, membuat tangan munggil itu kini menyentuh tongkat bisbol Alvi.


Senyum nakal tercetak di bibir tebal Alvi melihat wajah kaget Alana, tanpa menunggu waktu ia kembali melahap benda kenyal berwara pink itu. Turun kebawa menjelajahi leher jenjang gadisnya, kembali menciptakan maha karya yang sangat indah di sana.


"Maaf." bisik Alvi sebelum melesatkan tongkat bisbolnya, kembali bermain pada dua gunung kembar yang akan menjadi mainannya, mencoba memberikan kenikmatan, mengalihkan perhatian gadisnya dari rasa sakit yang Alana rasakan, saat itu mencoba menembus surga kenikmatan gadis berambut indah tersebut.


"Sakit." Lirih Alana menutup mata, ketika merasakan benda tumpul mencoba memasukinya. Setitik air mata mengalir di sudut matanya. Tangan yang semula meremas sprei kini mencakar punggung kekar Alvi mencoba menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan.


"Sakitnya tidak akan lama." bisik Alvi di telinganya semakin bergerak, membuat rasa sakit yang ia rasakan kini berubah nikmat perlahan-lahan.


Ia ikut bergerak menikmati setiap sentuhan yang di berikan Alvi, sentuhan Alvi mampu membawanya melayang keatas awan, hingga puncak kenikmatan itu.

__ADS_1


"Terimakasih...Sayang." Alvi mengecup kening Alana sebelum ambruk.


Bruk


Tubuh Alvi ambruk di atas tubuhnya setelah menyemprotkan bibit-bibit kecebong dalam wadahnya. Lelaki itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alana tanpa melepas penyatuan mereka.


"Hey." Alana tersenyum mengelus lembut rambut lebat Alvi.


Alvi mendongak menatap wajah Alana yang kini memerah padam akibat ulahnya. Ia mengulum senyum kembali menyesap bibir tipis gadisnya setelah kesadarannya kembali.


"Again." pinta Alvi penuh harap.


***


Pagi yang cerah, secerah wajah seorang lelaki yang kini memandangi wajah teduh gadis di dalam pelukannya. Alana sekarang menjadi miliknya. Ia mengelus punggung semulus sutra milik Alana, kemudian mengecupnya, beralih pada kening gadis itu.


"Selamat pagi istriku." bisik Alvi namun di balas gumaman oleh Alana.


"Tuan." tunduk bi Neneng pembantu baru di rumah baru mereka.


"Hm." cuek Alvi berjalan kearah kurkas mengambil susu lalu menuangkannya kedalam gelas. Memasukkannya kedalam Microwave untuk menaskannya.


Bi Neneng yang melihatnya buru-buru mendekat. "Biar saya saja tuan." ujarnya tidak enak.


"Sarapan apa?" tanya Alvi tanpa melirik wanita paruh baya itu, suaranya juga terdengar dingin.


"Cuma nasi goreng Tuan."


Tanpa menjawab lagi, Alvi menyambar sepiring nasi goreng di atas meja makan, Lalu berjalan kembali menuju kamarnya. Ia meletakkan sarapan itu ke atas nakas lalu duduk di samping ranjang di mana Alana masih menggulung dirinya dalam selimut tebal.


"Alana bangun, sarapan dulu." Ujar Alvi sedikit mengguncang bahu Alana.


"Masih ngantuk Aa, aku juga lelah ih." Sedikit demi sedikit Alana membuka kelopak matanya, menangkap satu objek yang sangat indah di pagi hari. Rambut basah suaminya yang acak-acakan.

__ADS_1


Ia mengembangkan senyumnya. "Suami aku tampan banget ih, aku bobo lagi ya." izin Alana, ia masih lelah juga mengantuk, karena ulah lelaki di depannya, tidak membiarkannya beristirahat hingga menjelang sahur. Kata 'Again selalu keluar dari mulut lelaki itu hingga ia benar-benar lelah.


"Sarapan dulu setelah itu tidur lagi, kamu mau maag kamu kambuh, sakit perut makan obat, Hm." Sembari menarik Alana hingga terduduk memperlihatkan bahu semulus sutera tanpa tertutup apapun. Ia menelan salivanya, melihat beberapa tanda kepemilikan disana, malu sendiri dengan perbuatannya, tenyata ia sangat ganas semalam.


"Aku lelah, ini semua gara-gara Aa." Manja Alana membentur-benturkan kepalanya pada dada bidang Alvi. Membuat lelaki itu tersipu malu hingga telinganya memerah.


"Cie...Cie Salto." goda Alana mencolek dagu Alvi.


"Jangan nakal, Hm. Makan saya harus pergi." Alvi manyuapkan makanan kedalam mulut Alana, karena tangan gadis itu masi memegangi selimut agar tidak melotor memperlihatkan maha karyanya yang lain.


"Auau mwau kemwanwa?" Tanya Alana.


"Di telan dulu makanannya!" Sepertinya, ia harus menampung stok sabar hari ini dan hari-hari berikutnya, karena ia akan merawat seorang bocah menyebalkan modelan Alana.


"Mau kerumah sakit, jemput Kakek." lanjut Alvi.


"Ikut." rengeknya.


"Yakin?" Alvi menatap tak percaya gadisnya bisa berjalan dengan normal setelah perbuatannya.


Alana menganguk antusias, mencoba mengerakkan kakinya turun dari ranjang, tetapi rasa nyeri di bagian intinya membuatnya berhenti bergerak lalu meringis.


"Aaaaaaaa." kaget Alana kala tubuhnya melayang ke udara, sontak ia mengalungkan tangannya di leher Alvi, takut terjatuh kelantai.


Lelaki tersebut membawanya masuk kedalam kamar mandi menurunkannya kedalam bathtub, mengatur suhu air, lalu menuangkan Bath Bom rasa strawberry kesukaannya.


"Mandilah! panggil saja kalau sudah selesai! jangan jalan!" sebelum keluar dari kamar mandi Alvi menyempatkan mencium kening Alana. Ia tidak tega melihat istrinya meringis kesakitan. Ingatkan Alvi agar tidak lost kontrol jika melakukannya.


"Nggak mandi bareng Aa." tawar Alana menggoda Avi.


"Saya sudah mandi."


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2