Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
part 106


__ADS_3

Demi keamanan bersama, bunda Anin terpaksa meninggalkan Alana keluar Negeri walau gadis itu belum keluar dari rumah sakit. Bunda Anin tak ingin ayah Kevin bertemu dengan Alvi dan mengakibatkan pertengkaran.


Bunda Anin terus mengelus pundak Alana yang bergetar dalam pelukannya, berusaha menenangkan anak semata wayangnya. Ia tidak tega melihat Alana memohon padanya untuk tidak pergi.


"Kenapa harus sekarang bunda? aku lagi sakit butuh bunda, aku nggak mau jauh-jauh dari bunda lagi," ujar Alana dengan suara serak.


Bunda Anin tersenyum, mengurai pelukannya lalu menghapus air mata Alana yang terus mengalir. "Bunda ada urusan mendadak sayang, jadi harus berangkat malam ini sama ayah."


"Ayah mana? kok nggak pamit sama Alana?" tanya Alana, tak biasanya ayah Kevin akan pergi dengan waktu yang cukup lama tapi tidak berpamitan padanya. Biasanya Ayah Kevin seharian akan memanjakan dirinya sebelum pergi.


"Ayah sibuk ngurus keberangkatan juga menyelesaikan beberapa pekerjaan di sini." Bunda Anin menjeda, merapikan tas yang ia bawa di atas meja, mengecup kedua pipi juga kening Alana sebelum pergi. "Prinses bunda jangan nakal ya, nurut sama suami."


Alana hanya mengangguk memandangi kepergian bunda Anin, ada yang aneh dengan ke dua orang tuanya. Mereka tega pergi padahal dirinya masih di rawat di rumah sakit. Ayah yang juga selalu memanjakannya kini semakin jauh tanpa ia tahu kesalahannya.


Alana menatap Alvi yang sedari tadi setia menemaninya. "Aa aku salah apa?"


"Kamu salah apa?" bingung Alvi.


"Is aku nanya Aa, kenapa malah nanya balik sih."


Alvi tertawa kecil ketika Alana mencubit perutnya "Kamu nggak ada salah sayang," jawabnya.


"Kenapa semua orang lebih mentingin pekerjaan mereka di banding aku? apa mereka udah nggak sayang sama aku? Aa juga tadi bilang gitu, dan sekarang ayah."

__ADS_1


"Baperan banget istri Aa, lagi kedatangan tamu, hm?" Alvi berusaha mengalihkan perhatian tak ingin Alana mengetahui kejanggalan yang ada, di mana dirinya dan juga Ayah Kevin tidak akur dan berniat memisahkan mereka.


Alana mengeleng dengan bibir mengerucut membuatnya terlihat sangat mengemaskab di mata Alvi, lelaki itu tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, mencium bibir tipis itu.


"Udah dua bulan aku nggak datang bulan."


Ucapan Alana barusan membuat Alvi mematung, ia menatap Alana dengan tatapan yang sulit di artikan, sama halnya dengan gadis itu menatap Alvi dengan tatapan yang sama ketika menyadari perkataanya.


"Aa apa jangan-jangan aku...." Alana menjeda. "Akan jadi Mommy-" lirihnya di akhir kalimat berharap semua itu benar.


Alvi tak menyahut dan berperan dengan pikirannya sendiri, di sisi lain ia sangat berharap semua itu terjadi tapi di sisi lain ia tidak ingin harapan Alana yang begitu besar hanya angan semata.


"Nanti kita periksakan ke dokter Dion."


"Sekarang aja Aa,"


***


Makan siang tiba, Alvi dengan sabar membujuk Alana agar makan dan minum obar. Usai makan Alana terus merengek ingin mandi dengan alasan gerah.


Karena tak memungkinkan untuk mandi, Alvi memutuskan hanya membilas tubuh Alana dengan handuk basah. Setelah memastikan semuanya terkunci, Alvi melepas piyama bagian atas Alana lalu membilasnya secara perlahan.


"Ssssttthhh," ringis Alana ketika handuk basah itu menyentuh kulitnya yang memerah bekas cambukan dari ke tiga pria yang hampir memperkos*anya.

__ADS_1


Alvi menghentikan kegiatannya, tak tega melihat Alana terus meringis kesakitan. Darahnya kembali mendidih melihat tubuh mulus istrinya belang-belang merah akibat ulah seseorang.


Rasanya tidak puas hanya memasukkan ke tiga pria itu ke jeruji besi tanpa menghajarnya terlebih dahulu.


"Kok berhenti? kapan selesainya," protes Alana.


Alvi mengeleng.


"Aa mau orang lain yang melakukannya?"


Alvi lagi-lagi mengeleng.


"Ais Aa gemes banget deh pengen nyekek," kesal sekaligus gemes melihat tingkah Alvi.


Dengan terpaksa Alvi membersihkan seluruh tubuh Alana. Sepanjang ia membersihkan tubuh gadisnya, ia ikut-ikutan meringis ketika Alana meringis. Membuat Alana tak sanggup menahan tawa.


"Jangan ketawa Al!"


"Lagian Aa gemesin, orang aku yang sakit, malah ikut meringis kan lucu." tawa Alana semakin menjadi.


Tawa Alana tak bertahan lama ketika Alvi mulai mengoleskan salep anti luka di seluruh tubuh Alana. Rambutnya yang rapi menjadi salah satu sasaran Alana ketika menahan tangis.


"Maaf!" ujar Alvi tak tega dan hanya di balas gelengan kepala oleh Alana.

__ADS_1


...TBC...


Jangan lupa like, komen, dan vote nya akak cantikšŸ¤—.


__ADS_2