
Usai pemakaman di langsungkan, semua keluarga adhitama berkunjung kerumah sakit untuk menjenguk cucu pertama dari ponakan pertama mereka. Semua kini berkumpul di sebuah ruangan yang sangat luas. Ruang rawat VVIP yang sengaja Alvi ambil untuk kenyamanan istri dan kedua putrinya.
Rasa nyeri akibat jahitan yang lumayan banyak usai melahirkan, membuat Alana selalu meringis jika bergerak. Rasa nyeri saat Alvi pertama kali membobolnya tidak ada apa-apanya dengan rasa nyeri saat melahirkan, jika bisa dibandingkan, makan Alana akan mengatakan sakitnya sepuluh kali lipat
Alvi membimbing Alana bergabung dengan keluarga besar, mendudukkan istrinya di sofa singel setelah mengalas dengan bantal yang sangat lembut agar bagian bawah Alana tidak terlalu sakit.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk kedua putri kalian?" tanya bunda Anin tetapi perhatiannya fokus pada malaikat kecil di pangkuannya. Anak pertama dan cucu pertama, sungguh anak-anak Alana sangat beruntung.
"Udah!" sahut Alvi dan Alana berbarengan, keduanya saling tatap sembari melempar senyum bahagia.
"Alysia Agatha Vernando, Alysia Alatha Vernando," lanjut keduanya.
"Hm ... cantik banget nama cucu Oma, persis seperti orangnya," gemes Tante Jesy yang kini mengendong si bungsu Alatha
"Jadi ceritanya gue resmi jadi om, nih?" celetuk Rayhan di ikuti tawa yang lainnya.
__ADS_1
Lama mereka bersenda gurah dan bermain dengan baby Twins A hingga mereka satu persatu pamit pulang mengerjakan kesibukan masing-masing. Kini tertinggal orang tua Alana juga Arga yang baru saja bangun di gendongan ayah Kevin.
Berita kelahiran cucu dari anak tunggal Tuan Kevin yang terhormat belum menyebar karena perintah Alana dan Alvi yang ingin membuat kejutan di hari aqikah nanti, setelah pengajian Oma Jelita selesai.
Usai menidurkan Agatha dan Alatha di boks masing-masing, Alvi kembali duduk di pinggir brangkar menemani Alana, menanyakan apa-apa saja yang di inginkan istrinya.
Saat ayah kevin juga bunda Anin pamit pulang Alana meminta Arga agar tinggal saja di rumah sakit, toh ruangan yang ia tempati sangat luas dan tentu saja terhindar dari penyakit-penyakit pasien di luar sana.
"Yakin Nak? kamu harus ngurus Ata sama Ala sayang, apa nggak kerepotan?" tanya bunda Anin tak yakin.
Bunda Anin menghela nafas panjang. "Kalau Arga rewel telfon bunda aja, biar bunda jemput." Menyerahkan Arga pada Alvi.
***
Seusai prediksi, Arga tidak menyusahkan sama sekali dan mendengarkan apa yang di katakan Alvi. seperti sekarang saat bocil itu sibuk bermain, sementara Alvi sibuk mengurus Alana juga baby twins.
__ADS_1
"Makan yang banyak sayang biar ASI nya banyak." Menyuapi Alana berbagai makanan kaya serat terurama sayur-sayuran.
"Aku nggak suka sayur Aa," kesal Alana menyingkirkan mangkuk di tangan Alvi, dari kecil dirinya tidak pernah makan sayur-sayuran. Apa lagi jika itu sayuran Daun.
"Makan buah aja kalau gitu, nanti kamu sakit gimana?"
Alvi dengan telaten mengupas beberapa buah untuk sang istri. Dirinya benar-benar hiatus dari pekerjaan apapun dan hanya fokus pada keluarga kecilnya. Bunda Anin sudah menawarkan diri, tetapi ia sendiri yang menolak dan akan meminta bantuan jika ia memang sudah tidak bisa menanganinya.
"Aku tuh bukan orang sakit A, nggak usah terlalu di manja apa lagi sampai di papah kalau mau jalan. Cuma bagian inti sama kayak pertama Aa bobol aku, bentar lagi juga sembuh. Mending Aa perhatikan kesehatan Aa juga, dari tadi belum makan sibuk ngurusin aku sama anak-anak," Omel Alana.
"Makan gih, mumpung anak-anak udah pada tidur!" perintah Alana. "Mau di suapin? sini makannya, aku suapin suami tercinta aku ini."
...****************...
Jangan lupa komen, like dan Vote.
__ADS_1