Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 66


__ADS_3

Alana, gadis berambut indah tersebut, terus memandangi handel pintu ruang rawatnya, ia menunggu kedatangan seseorang. Senyumnya mengembang ketika melihat handel pintu tersebut bergerak.


"Akhirnya Aa pulang...." Alana mengantung kalimatnya, ketika mendapati orang yang baru saja masuk ke ruang rawatnya bukan orang yang ia harapkan. "Pak Dirga?" Ia senyum kikuk.


Dirga membalas senyum Alana, meletakkan buket bunga dan buah yang ia bawa kemudian duduk di samping brangkar.


"Bagaimana keadaan kamu?"


"Baik. Pak Alvi mana?"


"Alvi masih ngajar."


"Oh." Alana meraih ponsel Alvi diatas nakas, lalu mendial angka satu menampilkan no ponsel bisnis Alvi.


Ia mengerucutkan bibirnya, panggilanya tidak di jawab, mungkin memang Alvi masih ngajar, ia hanya mengirim pesan.


"Aa nggak usah buru-buru pulang, aku nggak sendiri kok, ada pak Dirga yang nemenin."


Setelah mengirim pesan, Alana kembali meletakkan benda pipih Alvi di atas nakas. Kini ia beralih pada pria manis di sampingnya.


"Kebetulan pak Dirga datang," ujar Alana.


Alis Dirga terangkat, kebetulan? ada hal apa hingga Alana ingin bertemu dengannya?


"Saya mau ngundurin diri jadi asisten pak Dirga."


"Kenapa?" Terlihat jelas raut wajah Dirga tidak suka mendengar kalimat yang keluar dari mulut Alana. Jika gadis itu mengudurkan diri menjadi asistennya, ia tidak punya alasan lagi mendekatinya.


"Bentar lagi saya ujian pak, belum lagi kaki saya patah, nggak mungkinkan saya jadi asisten bapak di situasi seperti ini? Di luar sana masih banyak siswa yang lebih dari saya." Alana memberi penjelasan.


"Tapi saya hanya suka sama kamu," jawab Dirga spontan, membuat gadis berambut indah tersebut mengernyit heran, perkataan pak Dirga begitu ambigu di pendengarannya.


"Ma...maksud saya. Saya suka cara kerja kamu."


Alana mengangguk mengerti, bisa-bisanya ia salah mengartikan perkataan pak Dirga, tidak mungkin kan lelaki manis di sampingnya mencintainya, apa lagi pak Dirga sudah tahu statusnya.


Dirga mengulum senyum mendengar suara kryuk...kryuk..kryuk berasal dari perut Alana. Sedangkan, yang punya perut nyangir tanpa dosa memperlihatkan deretan gigi rapinya.


"Kamu belum makan?" tanya Dirga masih mengulum senyum.


Alana mengangguk malu, sialan perutnya, buat malu saja. Rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya.


"Kenapa? nungguin Alvi?" selidik Dirga.


Gadis berambut indah tersebut lagi-lagi mengeleng, ia bukan menunggu Alvi, melainkan menunggu seseorang untuk menolongnya, makan siangnya ada di atas meja.


"Makan siang saya ada di sana pak." Tunjuk Alana pada meja di depan Tv. "Bisa tolong ambilin," pintanya tak enak.


"Tentu saja." Dirga bangkit dari duduknya, berjalan kearah meja mengambil makan siang untuk gadis yang berhasil memikat hatinya selain Tania. Ia kembali mendudukan diri di samping brangkar, membuka kotak makan gambar manusia kotak berwarna kuning.


"Saya aja pak." Tolak Alana ketika Dirga ingin menyuapinya, ia marasa tidak enak jika merepotkan orang lain, lagi pula Alvi tidak suka jika melihatnya.

__ADS_1


"Kamu masih sakit." Dirga tetap pada pendiriannya ingin menyuapi Alana.


"Yang sakit kaki saya pak, bukan tangan, jadi saya bisa makan sendiri."


"Nggak papa."


"Lo nggak dengar istri gue ngomong apa?"


Dirga dan Alana sontak menoleh mendengar suara bariton tersebut.


"Aa."


"Hm." Respon Alvi, lelaki itu meletakkan Tote bag yang ia bawa, lalu berjalan kearah brangkar, berdiri di samping kiri karena Dirga ada di samping kanan. Untung saja ia buru-buru pulang setelah mendapat pesan dari gadisnya, ia tidak akan sudi jika ada lelaki lain yang menyuapi istrinya.


Tatapan tajam ia layangkan pada Dirga, lelaki itu mencengkram erat pergelangan tangan Dirga agar lelaki itu melepaskan sendoknya. Namun, bukannya melepaskan Dirga malah semakin erat memegang sendok dan kotak makan berwarna kuning tersebut.


Drama rebutan sendok dan kotak makan akhirnya terjadi, jangan lupakan tatapan tajam keduanya. Membuat gadis berambut indah tersebut, yang sedari tadi kelaparan naik darah, belum lagi makanan di sendok itu terus berjatuhan mengotori bajunya.


"Cukup!!!" teriak Alana. "Setidaknya sebelum kalian bertengkar beri aku makan dulu." kesal Alana.


***


Sepeninggalan Dirga, Alvi membawa Alana ke sofa depan Tv atas permintaan gadisnya. Alana ingin nonton Drakor di temani Alvi. Setelah memutar drakor yang di inginkan Alana, Alvi ikut duduk di samping gadisnya, melingkarkan lengan kekarnya pada punggung Alana agar bersandar pada punggungnya, jangan lupakan tangan satunya dengan setia mengenggam erat tangan mungil Alana.


Semakin lama, keduanya bukannya larut dalam alur Drama, malah mesra-mesraan, saling melempar senyum.


"Besok kamu sudah bisa pulang," ujar Alvi, tatapannya tak pernah lepas dari wajah sang gadis. "Kamu mau tinggal di apartemen atau rumah bunda?" lanjut Alvi.


"Rumah sedang di renovasi." Jujur Alvi, setelah Keadaan Alana membaik di rumah sakit, Alvi memerintahkan orangnya untuk merenovasi rumah mereka. Ia benci melihat tangga yang sudah membuat gadisnya jatuh dan kehilangan calon malaikatnya, itulah mengapa ia menyuruh orang untuk menyingkirkan tangga sialan itu.


Bukannya protes Alana malah mengembangkan senyumnya, baiklah mungkin ini saat yang tepat untuk membuktikan pada ayahnya bahwa Alvi sangat mencitanya, dengan tinggal serumah, Ayah Kevin bisa melihat bagaimana perlakuan Alvi padanya.


"Ngapain senyum-senyum? Hm." mengecup bibir pink Alana.


"Aa nggak papa kalau tinggal serumah dengan ayah?"


"Kamu mau tinggal bareng bunda?" Alana mengangguk antusias.


"Apapun yang penting kamu senang." jawab Alvi, ia tidak masalah serumah dengan Ayah Kevin, toh mereka juga akan jarang bertemu.


Dengan nakal Alana mengalungkan tangannya di leher Alvi, mendekatkan wajahnya pada ceruk leher lelaki itu, meniupnya penuh sensasi. "Love you Aa."


"Jangan pancing Aa Al "


"Balas dulu ih."


"Balas apa?" Tatapan Alvi turun ke bibir pink yang mengerucut itu, sangat menggoda, tidak ada salahnya jika ia mencicpinya, asal jangan kebablasan.


"Masih berdarah?" lirih Alvi hampir tak terdengar.


"Masih." jawab Alana. "Aa kok aku tiba-tiba datang bulan gini ya?" heran Alana.

__ADS_1


Alvi menelan salivanya kasar, dokter memang sudah mejelaskan semua padanya, ia tidak boleh berhubungan dengan sang istri 1-2 minggu hingga masa pendarahan selesai. Dan untungnya Alana tidak curiga dan malah mengira hanya datang bulan, tapi gadis itu merasa aneh pada bagian bawah tubuhnya.


"Aa kok diam?" kesal Alana.


"Aa harus jawab apa? Aa bukan perempuan sayang." Masih memandangi bibir pink gadisnya.


Tak tahan lagi ia semakin mendekatkan wajahnya, hingga tatapan mereka terkunci satu sama lain.


"Lama amat Aa." protes Alana mencium lebih dulu bibir tebal Alvi, membuat kelaki itu tersenyum.


"Woilah, mata gue ternodai!" teriak Rayhan yang baru saja masuk kedalam ruang rawat Alana dan mendapati sepupunya akan..., sulit di jelaskan, yang jomblo tidak akan mengerti.


Sontak Alana mendorong Alvi, membuat lelaki itu terjatuh ke lantai. Bukan hanya Alana yang malu, bahkan Alvi juga malu, apa lagi yang melihat muridnya sendiri.


"Maaf Aa." sesal Alana.


"Jiah wajah lo merah Al." tawa Rayhan pecah, akhirnya ia bisa melihat seorang Alana malu. "Ternyata lo bisa malu juga."


"Rayhan!" kesal Alana menutup wajahnya dengan kedua tangan, Alvi? salah tingkah sendiri.


"Lah ini pada kenapa? kok wajah pak Alvi sama Alana blushing?" Heran Ricky yang baru saja masuk di susul anggota inti lainnya.


"Jomblo di larang kepo, apa lagi yang baru saja sakit hati." Menepuk pundak Ricky dramatis.


Azka dan Semuel meletakkan buah yang mereka bawa di atas nakas, lalu duduk di sofa di susul Ricky dan Rayhan.


"Gimana kaki lo?" tanya Azka.


"Udah tau patah pakai nanya lagi."


"Iya kan basa basi."


"Sejak kapan Azka bisa basa basi." cibir Alana.


"Cepat sembuh adek nya abang," ujar Keenan hendak mengacak-acak rambut Alana seperti yang biasa ia lakukan. Namun pergerakan tangannya terhenti mendengar deheman pak Alvi di samping Alana.


"Nah lo pawangnya marah." gurau Ricky.


Alana memperhatikan buah tangan yang di bawa inti Avegas. "Cuma buah doang?" protesnya.


"Nih anak di jengukin bukannya berterima kasih malah maruk."


Baru saja akan protes, satu anggota inti muncul lagi membawa beberapa kresek lumayan besar meletakkannya di atas meja. Seketika senyum Alana mengembang, Dito selalu tau apa yang ia inginkan, berbagai cemilan, chicken upin ipin, dan beberapa dus pizza.


"Ini baru abang gue." girang Alana bertepuk tangan seperti anak kecil.


Dito senyum kecut, selama ini ia hanya di anggap abang, tapi kenapa ia malah menganggap Alana seorang gadis? bukan adik.


"Kukira hubungan kita spesial, ternyata cuma adek kakak an." sindir Rayhan.


"Martabak kali, Spesial." seloroh Ricky membuat mereka tertawa.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2