Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 26


__ADS_3

Langit malam terlihat indah di temani bintang-bintang bertabur di sana, membuat seorang gadis tak henti-hentinya memandangi lagit tersebut, dengan senyuman mengembang. Seraya menikmati segelas susu yang ada di tangannya, merasai semilir angin yang menusuk kulit putihnya.


Perhatian gadis itu teralihkan kala pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.


"Sayang, boleh bunda masuk?" teriak bunda nya.


"Masuk aja bun, nggak di kunci kok." sahutnya kemudian beranjak dari balkon kamarnya.


Bunda Anin membuka pintu dengan senyuman di wajahnya, menghampiri putrinya yang kini terduduk di pinggir ranjang dengan kaki mengantung kebawah.


"Belum tidur?" Bunda Anin mengelus rambutnya sebentar, lalu beralih pada pintu balkon, kemudian menutupnya. "Pintunya jangan di buka sayang, di luar dingin." peringatan bunda pada putrinya.


"Tumben bunda nyamperin Alana, biasanya juga di tempelin mulu sama ayah." ujarnya di sertai tawa kecilnya.


Dia tahu betul bagaimana posesifnya ayah Kevin, bahkan dia sering berebut kasih sayang bunda Anin, baik ketika makan atau apapun itu, membuat bunda Anin kewalahan.


"Ini ayah yang nyuruh." jawab Bunda Anin menyampirkan anak rambutnya kebelakang telinga.


"Ayah?" beonya.


Bunda Anin menghela nafas panjang sebelum membuka suara, seperti ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting


"Bunda mau ngomong sesuatu." ujar bunda Anin.


Dia mengembangkan senyumnya, ah ya dia lupa jika ingin mengatakan sesuatu juga tentang hubungannya dengan pak Alvi.


"Alana juga mau ngomong sesuatu sama bunda."


"Oh ya, mua ngomong apa sayang?"


"Bunda dulu deh." ujarnya penasaran hal serius apa yang akan di bicarakan bunda nya, hingga menghampiri di dalam kamar.


"Anaknya bunda kan udah besar, cantik, bentar lagi lulus nih, mau nggak kalau nikah muda?" ujar bunda Anin mengelus rambut indahnya.


Glek


Dia menelan ludahnya susah payah, nikah muda? apa bunda mengetahui hubungannya dengan pak Alvi?

__ADS_1


"Maksud bunda?"


"Ayah pengen kamu nikah sama anak sahabatnya, mau kan?" tanya bunda Anin hati-hati.


"Ma-maksud bunda, Alana mau di jodohin gitu?" Mata indahnya mulai berkaca-kaca, kenapa harus di jodohin? dia jadi ragu mengutarakan maksudnya, takut mendapat penolakan dari orang tuanya, secara orang tuanya sudah mempunyai pilihan sendiri.


Bunda Anin mengangguk dan itu semakin membuat matanya terasa panas.


"Alana nggak mau di jodohin bunda. Ini bukan lagi Zaman Siti Nurbaya." tolaknya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


Bunda Anin menghapus air mata di pipi nya dengan ibu jari. "Ini keputusan ayah sayang."


"Apa jangan-jangan karena perjodohan ini bunda sama ayah pulang, Iya? Kenapa harus di jodohin bunda? Alana masih sekolah, masa depan Alana masih panjang."


"Sebenarnya, bunda juga nggak setuju dengan keputusan ayah sayang." bunda Anin menarik putry semata wayangnya kedalam dekapan.


"Tapi ini demi kebaikan kamu, bunda dan Ayah pulang cuma ngurus kepindahan ke luar negeri, perusahaan di sana butuh ayah. Dengan kamu menikah kami bisa tenang, karena ada yang jaga kamu di sini." lanjut bunda Anin.


"Kalau cuma alasan itu, ayah bisa nyewa pengawal buat jagain Alana. Dan juga Alana nggak sendiri, Ada abang, Ray, El, sama Ken juga yang bakal jagain di sini. Alana bisa tinggal di rumah Oma buyut sama Abang El."


"Mereka cuma bisa jagain kamu sampai di depan pintu sayang. Mereka juga punya kehidupan masing-masing."


Tangisnya semakin menjadi, alasan apa lagi yang harus dia lontarkan agar ayahnya tidak jadi menjodokannya.


Dia mengurai pelukannya menghapus air mata yang membuat wajahnya terasa kaku. "Jangan buat Alana berpikiran kabur dari rumah hanya kerena perjodohan ini." Ancamnya, kemudian menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Melupakan hal yang ingin dia sampaikan pada bunda nya.


Hari yang cerah, keseruan di dalam kelasnya tak mampu merubah moodnya. Bahkan Salsa sedari tadi bingung menghadapi sikapnya, hari ini dia telihat sangat pendiam, tak seceria biasanya.


"Lo kenapa Al? cerita sama gue." bujuk Salsa namun tak di hiraukan olehnya.


"Lo sakit Al? pucat gini." Salsa memeriksa keningnya. "Kita ke UKS atau gue antar pulang gimana?" cerewet Salsa.


"Udah gue nggak papa." jawabnya.


"Gue kabarin Keenan, ya? takut lo kenapa-napa."


"Nggak usah."

__ADS_1


Pulang sekolah pun, dia hanya berdiam diri di kamar, enggan bicara dengan sang ayah, merasa kecewa dengan keputusan yang di ambil ayahnya tanpa berdiskusi dulu dengannya.


Bunda Anin kembali menghampirinya di dalam kamar, namun dia hanya berdiam diri di meja belajarnya, fokus dengan buku pelajaran.


"Makan dulu sayang." bujuk bunda Anin yang tak tega melihat putrinya berdiam diri. Ini pertama kalinya Alana mendiamkannya, dan rasanya sakit.


"Jangan di pikirin ya." bujuk bunda Anin lagi.


Alana menghambur kepelukan bunda Anin menumpahkan segala keresahan hatinya lewat air mata. Dia tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang, hanya saja rasanya sakit jika harus menikah dengan orang lain selain pak Alvi. Apa lagi mengingat janjinya beberapa hari yang lalu bahwa dia akan menikah dengan pak Alvi.


"Alana nggak mau di jodohin." ucapnya lirih.


"Iya bunda mengerti bagaimana perasaan kamu sayang. Bunda nggak akan maksa, tapi sebelum menolak, maukan bertemu dengan nya dulu? setelah itu buat keputusan. Bunda akan dukung semua keputusan kamu. Bunda akan bicara sama ayah." bujuk bunda Anin.


Bunda Anin yakin, putrinya bakal menerima perjodohan ini setelah mengetahui orangnya, kerena putrinya sangat dekat dengan cowok itu.


Alana mendongak, menatap mata bundanya dan dibalas senyuman oleh wanita paruh baya itu. "Beneran?"


"Iya, sekarang makan ya." bujuk bunda Anin menyodorkan sepiring makanan lengkap dengan lauk pauknya dan segelas susu.


"Mau kan ikut makan malam bersama calon suami kamu." bunda Anin mengerling kearahnya.


"Bunda." rajuknya kembali memeluk tubuh ramping bundanya. "Janji nggak bakal maksa Alana setelah ini?"


"Bunda janji."


Keduanya kompak menoleh kala mendengar pintu terbuka dan menampilkan sosok pria tampan tengah tersenyum ke arah mereka. Hanya bunda Anin yang membalas senyum pria itu, sementara dirinya membuang muka, tak ingin bersitatap dengan pria yang kerap dia panggil ayah.


"Ternyata kesayangan ayah lagi ngumpul di sini." ujur Ayah Kevin menghampiri mereka berdua dan duduk di atas meja menghadap sang putri.


Senyum ayah Kevin surut kala melihat wajah cemberut gadis kesayangannya. Biasanya putri tunggalnya itu akan menghabur kepulukannya atau begelayut manja jika pulang kerja, tapi sekarang gadis itu malah mendiamkannya.


"Ayah pinjam bunda boleh ya." goda Ayah Kevin namun tak di respon olehnya.


"Ayah tahu kamu marah sama ayah. Tapi setelah makan malam nanti kamu bakal berterima kasih pada ayah, karena mengirimkan seorang pengeran di dalam hidup kamu."


"Gaje tau nggak!" ujarnya ketus tanpa melirik sang Ayah.

__ADS_1


Ayah Kevin hanya bisa saling melempar senyum dengan bunda Anin, melihat tingkah putri tunggal mereka, mode ngambek Alana terlihat lucu di mata mereka.


...TBC...


__ADS_2