Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 102


__ADS_3

"Siapapun tolong Alana, ayah, Aa tolong Alana. Alana takut gelap." teriak Alana ketika terbangun ia sudah ada di dalam sebuah ruangan yang sangat gelap.


Tangan dan kaki di ikat membuatnya tidak bisa melakukan apapun. Keringat dingin bercucuran di seluruh tubuhnya. Tempat gelap adalah satu-satunya hal yang sangat ia takuti.


"Ayah!" Ia kembali berteriak ketika melihat sekelebat bayangan melintas tak jauh darinya.


"Siapa?"


Ia terus meronta agar terlepas, tenaganya hampir habis, lelah, lapar campur lemas karena berada di tempat gelap.


Plak


Satu tamparan mendarat mulus di wajah mulusnya, membuat Alana meringis kesakitan, bahkan gadis itu bisa merasakan darah segar mengalir di bibirnya.


"Berisik!" tegur Anna, seseorang yang baru saja menampar Alana sangat keras.


"Ma...mama...tolongin Alana, Alana takut gelap," lirih Alana sebelum ia kehilangan kesadaran.


Alana tersentak kaget ketika merasakan sebuah air dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia menyipitkan matanya, ketika membuka mata dan mendapati ruangan itu sudah terang benderang.


"Om," lirihnya ketika melihat tiga pria yang mengejar-ejarnya tadi sore berada di dalam ruangan itu.


Kini matanya terfokus pada pintu di mana seorang wanita cantik masuk sembari menyeringai kearahnya. Wanita itu semakin mendekatinya, mencengkram dagu indah Alana sangat kuat hingga mampu membuat ia meringis kesakitan.


Ia menangis tanpa suara, air matanya merembes begitu saja membasahi pipi juga tangan ibu Alvi, rasa dingin juga sakit di seluruh tubuhnya tak mampu ia tahan.


"Aku salah apa?"

__ADS_1


Anna tertawa mendengar pertanyaan Alana, ia dengan kasar melepas cegramannya membuat wajah gadis itu tertoleh ke samping. Kini Anna menarik rambut indah Alana, membuat gadis itu mendongak sembari meringis kesakitan.


"Salah kamu? Salahmu karena lahir di rahim wanita jala*ng seperti Anin. Harusnya aku yang jadi ibu kamu, harusnya aku yang jadi nyonya Adhitama bukan wanita jala*ng itu!"


"Cukup!" Alana memejamkan matanya, kini rasa sakit yang ia rasakan tak sebanding dengan amarah dalam dirinya.


"Bunda bukan wanita seperti itu, bunda malaikat yang berwujud manusia! dan juga," Alana menjeda kalimatnya, membalas tatapan tajam wanita yang sedang menarik rambutnya. "Sampai kapanpun aku nggak bakal sudi punya ibu sepertimu! ibu yang tega meninggalkan anak juga suaminya di waktu yang sangat menyedihkan."


Plak


Tamparan kembali Alana rasakan, tetapi tak mampu membuat gadis itu goyah, ia hanya takut kegelapan tidak dengan orang seperti Anna.


"Yang pantas di sebut ja*lang itu kamu!" teriak Alana penuh emosi. "Wanita sepertimu tidak pantas di sebut ibu, melainkan iblis!"


"Lepaskan dia!" perintah Anna dan di laksanakan dengan baik oleh salah satu pria yang ada di ruangan itu.


"Lakukan apapun yang kalian inginkan sebelum membunuhnya!" perintah Anna sebelum meninggalkan ruangan itu.


Rasanya sangat senang bisa membalaskan dendam yang selama puluhan tahun ia pendam, membayangkan bagaimana hancurnya Kevin dan Anin saat mendapati putri tunggal kesayangan mereka tak bernyawa adalah hal yang sangat membahagiakan untuknya.


Sementara di dalam ruangan itu, Alana berusaha sangat keras menghindari sentuhan tiga lelaki perkasa itu.


"Ayolah nona cantik, malam ini kita bersenang-senang," ujar salah-satu pria mencolek dagu Alana sementara yang lainnya memegangi tangan gadis itu.


"Lepasin!"


Bukannya terlepas Alana malah semakin terjebak.

__ADS_1


"Bunuh saja aku, jangan sentuh aku," mohon Alana berusaha terlepas dari jeratan pria hidung belang yang ingin membuka pakaian yang ia kenakan.


Ia terus memberontak membuat ketiga lelaki itu hilang kesabaran hingga mendorong tubuhnya ke tembok, rasa pusing kembali melandanya ketika kepalanya membentur tembok sangat kesar, ia dapat merasakan ada yang mengalir di pelipisnya.


***


Di tempat Lain Alvi tak pernah putus asa dan kehilangan akal mencari di mana keberadaan Alana. Ada sedikit harapan ketika Hendri menelfonnya dan mengatakan lokasi ponsel gadis itu ada di sekitar taman.


Tetapi nihil, ia hanya mendapatkan ponsel Alana di sebuah semak-semak, sepertinya sengaja di buang setelah di hancurkan.


"Akh!" frustasi Alvi tak tahu lagi harus mencari Alana di mana.


Devan yang ikut mencari bersama Alvi, menepuk pundak lelaki itu. "Alana baik-baik saja, percayalah."


"Lo pikir gue bodoh bakal percaya begitu saja?"


"Vi tenangin diri lo, lo bahkan nggak ganti baju setelah hujan-hujanan, Alana nggak bakal suka kalau lo sakit."


Ponsel Alvi bergetar menandakan ada panggilan masuk, dengan sigap ia menjawab telfon dari Keenan.


"Bagimana?" tanya Alvi penuh harap.


"Alana ada di desa Tunggu, kita ketemu di sana pak!"


Mendengar kabar membahagiakan itu, Alvi dengan segera melajukan motor sport yang ia pakai menuju desa Tunggu, desa yang kerap di sebut desa angker karena tak berpenghuni.


...TBC...

__ADS_1


Jangan lupa Vote, komen, dan Like.


__ADS_2